Belakangan ini isu menyatukan Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto dalam sebuah koalisi Pilpres 2024 semakin ramai dibahas. Tentu saja isu ini menuai pro dan kontra, apalagi karena Ganjar dan Prabowo sama-sama telah dideklarasikan menjadi Bacapres 2024.
Namun yang kemudian menjadi pertanyaan adalah siapa yang seharusnya merelakan diri menjadi bacawapres apabila Ganjar dan Prabowo bergabung?
Hal ini tercermin dari hasil survei LSI Denny JA per September 2023. Dikutip dari Suara.com, survei tersebut menampilkan dua pasang capres-cawapres.
Awalnya yang diuji adalah pasangan Prabowo-Ganjar melawan Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar. Tampak kemenangan telak jatuh ke tangan pasangan Prabowo-Ganjar dengan perbedaan suara sampai 40 persen dengan Anies-Imin.
"Ini survei yang baru saja selesai dari LSI Denny JA bulan September 2023 maka ini hasilnya. Prabowo dan Ganjar memperoleh dukungan 64,9 persen, sementara Anies dan Muhaimin dukungannya 16,6 persen," ungkap Denny JA di TikTok pribadinya.
"Maka kemenangan Prabowo dan Ganjar telak telak sekali di atas 40 persen inilah kemenangan tertinggi dalam sejarah pemilu langsung di Indonesia," sambungnya.
Lantas bagaimana bila posisi Prabowo dan Ganjar ditukar? Atau dengan kata lain Ganjar ditempatkan sebagai bacapres dan Prabowo duduk di kursi RI 2, seperti apa hasilnya?
Ternyata kemenangan masih ada di tangan pasangan Ganjar dan Prabowo dengan raihan suara 60 persen, sedangkan pasangan Cak Imin dan Anies meraup 20,6 persen suara.
Walau menang, tetapi perbedaan raihan suaranya masih kalah dibandingkan dengan simulasi pertama di mana Prabowo ditempatkan sebagai bacapres dan Ganjar mendampinginya.
"Namun mungkinkah Ganjar bersedia mengalah menjadi cawapres?" kata Denny JA, apalagi bila melihat PDIP sebagai partai yang berkuasa sekarang.
"Jika kalkulasinya semata-mata rasional itu mungkin karena kemenangan Prabowo sebagai capres jauh lebih telak, tapi ini kalkulasi politik bisa berbeda cara menghitungnya," sambungnya.