Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta Pusat, kemarin, Selasa (2/5) ditembak oleh pria asal Lampung H (60) alias Mustopa.
Pria yang kesehariannya sebagai petani ini ternyata sempat menuliskan surat sebelum melakukan penembakan. Dalam surat tersebut, Mustopa di awal kalimat menyebut dirinya sebagai wakil Nabi.
Dalam surat tersebut, Mustopa meminta agar MUI bisa mempersatukan umat seperti keinginan dari Tuhan dan pesan Nabi Muhammad SAW.
"Memohon kepada Bapak supaya bapak mau mempersatukan dunia/Kita semua Bukan Saya!" tulis Mustopa di surat miliknya.
"Bapak kan tahu Rasul sangat sayang kepada ummatnya bapak ketua, mengenai pernyataan saya selaku wakil nabi sudah 4 kali diprotes di Lampung, saya tidak dikatain mengada-ada/merekayasa atau bohong, lebih jelasnya Bapak Cek lagi menurut hukum Agama Qur'na dan Hadist," lanjut Mustopa.
Dalam kasus penembakkan kantor MUI, penyidik kepolisian menemukan barang bukti berupa sepucuk pistol. Sedangkan pelaku penembakan dipastikan telah meninggal dunia.
Berikut isi lengkap surat yang ditulis Mustopa, pelaku penembakkan kantor MUI:
Assalamua'alaikum Wr.Wb
Dengan Hormat,
Baca Juga: Soal Penyebab Kematian Pelaku Penembakan Kantor MUI, Ini Kata Polisi
Bapak Ketua MUI saya akan terus-terusan mengeluh dan memohon atas nama Allah dan Rasul mewakili Nabi supaya Bapak mau saya ajak mempersatukan ummatnya biar keinginan tuhan terwujud dan Rasul/Nabi Muhammad SAW merasa senang melihat ummatnya bersatu seandainya nabi bisa menampakkan wujudnya nabi yang mengeluh dan memohon kepada Bapak supaya bapak mau mempersatukan dunia/Kita semua Bukan Saya!
Jadi kalo bapak menolak saya berarti menolak Nabi yang ingin mempersatukan ummatnya yaitu kita semua maka dari itu Bapak Ketua tolong jangan kecewakan Rasul. Bapak kan tahu Rasul sangat sayang kepada ummatnya bapak ketua, mengenai pernyataan saya selaku wakil nabi sudah 4 kali diprotes di Lampung, saya tidak dikatain mengada-ada/merekayasa atau bohong, lebih jelasnya Bapak Cek lagi menurut hukum Agama Qur'na dan Hadist, bapak punya wewenang penuh untuk menyalahkan atau menolak, bapak ketua seandainya rasul datang kepada saya secara bertamu yaitu menampakkan wujudnya pasti saya tolak, saya tidak sanggup di 2003 saya sadar saya adakah orang yang diutus kali saya bisa menemui Rasul pasti saya kembalikan dan seandainya tuhan mengutus wakil nabi bisa lebih dari satu saya tidak kerja nanti tuhan mengutus lagi sedangkan saya diancam oleh firman tuhan yang katanya akan dipotong seorang lidah hamba bilamana menyembunyikan kemampuannya jadi saya tidak punya pilihan lain selain kerja saya yakin duniapun tidak ada pilihan kalo tidak menerima saya tidak akan terjadi bersatu, leher saya bisa dipenggal kalo pendapat saya salah jadi tolong pak jangan sembunyikan kemampuan saya ummat sangat membutuhkan nya Bapak Ketua saya mohon perkenankan saya menghadap Bapak saya ingin bicara secara langsung dan mendengar jawaban bapak secara langsung kalo bapak mengindahkan harapan saya berarti bapak mengindahkan harapan Rasul/Nabi Muhammad SAW, sekali lagi saya mohon kepada Bapak jangan kecewakan Rasul mari kita persatukan dunia ini supaya Rasul merasa senang melihat ummatnya bersatu.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb
Mustofa
