Sejumlah Pihak Tolak RUU Pertembakauan, Dukung Cukai Rokok Naik

Arsito Hidayatullah | Suara.com

Selasa, 15 September 2015 | 05:19 WIB
Sejumlah Pihak Tolak RUU Pertembakauan, Dukung Cukai Rokok Naik
Ilustrasi rokok. [Shutterstock]

Suara.com - Gabungan organisasi massa, akademisi serta mahasiswa menyerukan penolakan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pertembakauan dan mendukung kenaikan target cukai tembakau yang ditetapkan pemerintah dalam RPABN 2016.

Dalam siaran pers yang diterima oleh Antara di Bogor, Senin, sejumlah pakar, peneliti dan ahli berpendapat penolakan RUU Pertembakauan ini mencuat karena data yang disampaikan tidak valid dan ada kekeliruan (misleading).

"Kekhawatiran kenaikan target penerimaan Cukai Hasil Tembakau (CHT) yang ditetapkan pemerintah dalam RAPBN 2016 akan mengancam kelangsungan industri tembakau, tidak berbasis bukti," kata Wakil Direktur Lembaga Demografi Universitas Indonesia, Abdillah Ahsan.

Abdillah mengatakan, selama cukai rokok masih di bawah inflasi dan GDP, rokok akan tetap murah bagi para perokok.

Ketua Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Indonesia, Prof Hasbullah Thabrany mengatakan, meskipun harga rokok naik karena cukai naik, rokok tetap akan dicari oleh para perokok. Meskipun faktanya, mayoritas perokok di Indonesia berasal dari kalangan miskin.

"Tidak sedikit dari mereka yang rela mengorbankan anggarannya untuk membayar sekolah, buku anaknya atau membeli makanan berprotein tinggi untuk keluarganya," kata Prof Habusllah.

Prof Habusllah mengungkapkan, berdasarkan data Susenas Tahun 2015 dan Riskesdas Tahun 2013, konsumsi tembakau pada usia 10 sampai 14 tahun meningkat 12 kali lipat dari 0,3 persen (1995) menjadi 3,7 persen (2013).

"Saat ini, BPJS defisit Rp6 triliun untuk 150 juta PBI. Bisa dibayangkan berapa beban pembiayaan berobat penyakit masyarakat miskin yang dipicu dan diperberat oleh konsumsi rokok," katanya.

Prof Habullah menambahkan, perokok dari masyarakat miskin dari kaya menyumbang orang terkaya. Tahun 2012, TP Djarum (terkaya nomor 1 di Indonesia) menguasai 12,6 persen pangsa pasar rokok Indonesia dan menghasilkan omzet Rp127,4 triliun.

"Bayangkan jumlah uang yang 'disumbangkan' perokok kepada perusahaan asing yang menguasai 73,9 persen pasar rokok Indonesia," katanya.

Atas dasar itulah, lanjut Prof Hasbullah, ia dan sejumlah organisasi massa, akademisi dan mahasiswa menandatangani pernyataan bersama "Tolak RUU Pertembakauan dan Dukung Kenaikan Cukai Rokok untuk Penyelamatan Bangsa".

"Pernyataan ini akan diserahkan kepada Presiden, Baleg DPR RI, DPR RI, serta seluruh kementerian terkait termasuk Kementerian Keuangan," kata Prof Habusllah.

Ketagihan Sementara itu, Ketua YLKI Tulus Abadi mengatakan, fakta yang sering kali ditutupi di masyarakat adalah rokok merupakan barang yang bila dikonsumsi akan menyebabkan ketagihan (adiksi) bagi pengkonsumsinya.

"Industri rokok selalu menggunakan petani tembakau dan buruh industri rokok sebagai tameng," kata Tulus.

Ketua Komisi Perlindungan Anak, Asrorun Ni'am Soleh mengkhawatirkan, kecanduan rokok dalam sebuah keluarga miskin berpotensi akan mengorbaknkan investasi atau tumbuh kembang dan masa depannya keluarganya terutama anaknya.

"Apabila dalam keluarga miskin, ayah atau ibu tidak bisa lepas dari jeratan adiksi rokok, maka anggota keluarganya, terutama anak berpotensi besar untuk dikorbankan investasi tumbuh kembang dan masa depannya," kata dia.

Peneliti dari Badan Peneliti dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Soewarta Kosen menjelaskan, berbagai penelitian menujukan bahwa penyakit yang dipicu oleh rokok biasanya baru terasar setelah 15 sampai 20 tahun perilaku merokok di mulai.

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Arifin Nawas juga menjelaskan, prilaku merokok cepat atau tidaknya akan menimbulkan efek negatif tergantung dari daya tahan tubuh, lingkungan dan perilaku menjaga kesehatan.

"Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penyakit yang dipicu oleh rokok muncul lebih berat pada perokok pasif dibanding aktif," katanya.

Meningkat Menurut Ikatan Ahli Kesehatan Indonesia (IAKMI), berdasarkan data Riskesdas dan Susenas, perokok pasif meningkat 5 persen dari 91 juta jiwa pada tahun 2007 menjadi 96 juta jiwa pada tahun 2013.

Fakta saat ini, 54 persen wanita Indonesia menjadi perokok pasif itu berdasarkan data 2013. Jumlah ini naik 4 persen dari tahun 2004 yang hanya 50 persen. Dan perokok anak usia 0 sampai 9 tahun terpapar asap rokok juga cukup tinggi yakni 56,7 persen.

Peneliti Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Indonesia, Rahma menambahkan, dalam rapat harmonisasi RUU Pertembakauan di Baleg DPR RI, banyak angka yang tidak valid dan reliable.

"Berdasarkan data Kementerian Keuangan petani tembakau berjumlah 900 ribuan, namun dibesarkan menjadi 1,7 juta," kata Rahma.

Abdillah Ahsan dan Rahman menjelaskan, siapa yang sesungguhnya diuntungkan dari penjualan rokok di Indonesia adalah para industri rokok itu sendiri. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi cengkeh Indonesia turun 26 persen dari 98.386 ton (2010) menjadi 72.976 ton (2012).

Impor cengkeh, lanjut mereka, naik menjadi 5,308 persen dari 277 ton (2010) menjadi 14.979 ton di tahun 2011. Impor daun tembakau naik 301 persen dari 26.546 ton pada tahun 1990 menjadi 106.570 ton pada tahun 2012.

"Tahun 2011, impor daun tembakau varietas Virginia senilai US$ 262,230,000 atau Rp2,2 triliun. Tahun 2012, sekitar 73,9 persen pasar rokok dikuasai perusahaan asing seperti Phillip Morris Internasional, British American Tobacco, KT and G Corp Kore, Japan Tobacco Industry," kata Abdillah. [Antara]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Begini Seharusnya Cukai Rokok Dialokasikan

Begini Seharusnya Cukai Rokok Dialokasikan

Bisnis | Kamis, 30 Juli 2015 | 09:13 WIB

Kota Ini Tetapkan Pantai dan Taman Umum Jadi Kawasan Bebas Rokok

Kota Ini Tetapkan Pantai dan Taman Umum Jadi Kawasan Bebas Rokok

News | Kamis, 23 Juli 2015 | 10:55 WIB

Komnas PT: Asap Rokok Bencana Kesehatan Indonesia

Komnas PT: Asap Rokok Bencana Kesehatan Indonesia

Health | Senin, 01 Juni 2015 | 09:35 WIB

Pemerintah Diminta Naikkan Cukai Rokok Hingga 57 Persen

Pemerintah Diminta Naikkan Cukai Rokok Hingga 57 Persen

Bisnis | Rabu, 08 April 2015 | 14:45 WIB

Terkini

Sempat Ditutup karena Kelapa Utuh, SPPG Seri Kuala Lobam Kembali Beroperasi

Sempat Ditutup karena Kelapa Utuh, SPPG Seri Kuala Lobam Kembali Beroperasi

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 08:15 WIB

Ketegangan di Selat Hormuz, Mengapa Indonesia Terlempar dari Daftar Jalur Hijau Militer Iran?

Ketegangan di Selat Hormuz, Mengapa Indonesia Terlempar dari Daftar Jalur Hijau Militer Iran?

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 06:56 WIB

Satu Mobil ke Bandara, Prabowo Antar Langsung Anwar Ibrahim Tinggalkan Indonesia

Satu Mobil ke Bandara, Prabowo Antar Langsung Anwar Ibrahim Tinggalkan Indonesia

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 23:29 WIB

Stok Tomahawk Menipis, Operasi Militer AS di Iran Picu Kekhawatiran

Stok Tomahawk Menipis, Operasi Militer AS di Iran Picu Kekhawatiran

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 23:24 WIB

Mundurnya Yudi Abrimantyo dari Kepala BAIS Dinilai Tamparan untuk Elite

Mundurnya Yudi Abrimantyo dari Kepala BAIS Dinilai Tamparan untuk Elite

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 23:15 WIB

Kematian Pekerja Tambang di Morowali Disorot DPRD, Diminta Diusut Tuntas

Kematian Pekerja Tambang di Morowali Disorot DPRD, Diminta Diusut Tuntas

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 23:07 WIB

Kabar Duka, Tokoh Agama dan Juru Damai Konflik Poso Ustad Adnan Arsal Wafat

Kabar Duka, Tokoh Agama dan Juru Damai Konflik Poso Ustad Adnan Arsal Wafat

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 23:04 WIB

'Ini Terakhir Kali Saya ke Jakarta': Curahan Hati Perantau yang Balik Kampung Demi Jaga Sang Putri

'Ini Terakhir Kali Saya ke Jakarta': Curahan Hati Perantau yang Balik Kampung Demi Jaga Sang Putri

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 22:43 WIB

Gus Ipul Dukung Narapidana Dapat Bansos PBI, Kemensos Siap Tindak Lanjut

Gus Ipul Dukung Narapidana Dapat Bansos PBI, Kemensos Siap Tindak Lanjut

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 22:31 WIB

Tiga Jam Bertemu di Istana hingga Antar ke Bandara, Ini Obrolan Presiden Prabowo dan PM Anwar

Tiga Jam Bertemu di Istana hingga Antar ke Bandara, Ini Obrolan Presiden Prabowo dan PM Anwar

News | Jum'at, 27 Maret 2026 | 22:22 WIB