Peneliti Jelaskan Penggunaan Neurosains dalam Pilpres

Bangun Santoso | Suara.com

Selasa, 27 November 2018 | 12:47 WIB
Peneliti Jelaskan Penggunaan Neurosains dalam Pilpres
Ilustrasi penelitian. (Shutterstock)

Suara.com - Ahli neurologi dan pakar biologi molekuler dr Roslan Yuni Hasan Sp.BS menjelaskan bahwa bidang ilmu neurosains atau ilmu saraf belakangan ini kerap digunakan dalam kontestasi pemilihan presiden atau pilpres.

Roslan yang juga akrab disapa Ryu Hasan mengatakan, ilmu pengetahuan telah terbukti digunakan saat pemilihan presiden Amerika Serikat dua tahun silam, yang kemudian juga diikuti oleh pilpres di Brasil beberapa waktu lalu.

Ryu Hasan mengungkapkan, bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggunakan jasa neuroscientist untuk memetakan sifat orang Amerika dan memanipulasinya dengan ilmu saraf agar bisa memilihnya pada pemilihan presiden.

Kubu lawan politiknya pada saat itu, Hillary Clinton, merasa amat percaya diri bahwa Trump yang berkampanye dengan banyak mengeluarkan pernyataan dan sikapnya yang kontroversial tidak akan dipilih oleh warga Amerika.

"Kalau kita lihat saat Donald Trump ngomong aneh-aneh itu, kubunya Hillary percaya diri banget itu nggak mungkin orang gila ini dipilih, ternyata dipilih," ujar Ryu seperti dilansir Antara di Jakarta, Senin (26/11/2018).

Begitu halnya pada pemilihan presiden di Brasil yang dimenangkan oleh Jair Bolsonaro pada 28 Oktober lalu. Bolsonaro memiliki pola yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Trump pada pemilihan presiden di Amerika Serikat tahun 2016.

Bolsonaro yang merupakan purnawirawan militer membangun narasi kampanyenya mirip seperti Trump dengan penuh kebencian dan rasis. Presiden terpilih Brasil yang mengaku sebagai pengagum Trump tersebut juga secara terang-terangan ingin membawa pemerintahan secara diktator militer.

Hasilnya, Bolsonaro yang diperkirakan tidak akan terpilih tetap memenangkan pemilu yang akan membawanya menjadi Presiden Brasil secara definitif per 1 Januari 2019.

"Mereka merumuskan cara itu dengan bukti. Mereka ambil sampel orang Amerika di tiap negara bagian, dilihat sampai tingkat kromosom, kemudian di-MRI (magnetic resonance imaging) fungsional, semua ada datanya," kata dokter Ryu.

Data hasil penelitian tersebut kemudian digunakan sebagai acuan untuk mencari sistem di otak manusia, yang merupakan sampel dari suatu masyarakat, agar bisa merespon untuk memilih suatu pilihan tertentu.

Yang membuat sistem neurosains ini sukses di Amerika dan Brasil ialah kesamaan masyarakat yang begitu religius. "Yang satu Katolik banget, yang satu evangelis banget. Sama dengan di Indonesia, Islam banget," kata dia.

Masyarakat yang religius, kata Ryu, merupakan kalangan masyarakat yang paling mudah dimanipulasi dengan menggunakan neuorosains.

Lebih lanjut dengan melihat kondisi politik saat ini di Indonesia, menurut dia, terlihat pola-pola yang sama yang dilakukan oleh salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden di Indonesia yang menggunakan pola seperti Trump dan Bolsonaro.

"Kayanya suasananya sama, tapi kita nggak punya bukti itu," kata Ryu.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Astronot AS Mendarat di Bulan Hoaks? Rusia Akan Buktikan

Astronot AS Mendarat di Bulan Hoaks? Rusia Akan Buktikan

News | Senin, 26 November 2018 | 18:57 WIB

Minyak Dunia Turun, Kenapa Pertamina Tak Turunkan Harga BBM?

Minyak Dunia Turun, Kenapa Pertamina Tak Turunkan Harga BBM?

Bisnis | Senin, 26 November 2018 | 16:16 WIB

Perubahan Iklim Hantui Perekonomian Amerika Serikat

Perubahan Iklim Hantui Perekonomian Amerika Serikat

Bisnis | Senin, 26 November 2018 | 05:27 WIB

Terinfeksi Bakteri E.Coli, Warga AS Dilarang Makan Selada Romaine

Terinfeksi Bakteri E.Coli, Warga AS Dilarang Makan Selada Romaine

Lifestyle | Minggu, 25 November 2018 | 11:57 WIB

Dilantik Jokowi, KSAD Baru Janjikan TNI Netral di Pilpres

Dilantik Jokowi, KSAD Baru Janjikan TNI Netral di Pilpres

News | Kamis, 22 November 2018 | 13:30 WIB

Terkini

Dukung Earth Hour, BNI Perkuat Operasional Rendah Emisi dan Efisiensi Energi

Dukung Earth Hour, BNI Perkuat Operasional Rendah Emisi dan Efisiensi Energi

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:30 WIB

Pembersihan Lumpur dan Rehabilitasi Sawah Terus Diakselerasi Satgas PRR

Pembersihan Lumpur dan Rehabilitasi Sawah Terus Diakselerasi Satgas PRR

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:33 WIB

Tancap Gas! Satgas PRR Serahkan 120 Rumah kepada Penyintas Bencana di Tapanuli Selatan

Tancap Gas! Satgas PRR Serahkan 120 Rumah kepada Penyintas Bencana di Tapanuli Selatan

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:29 WIB

Wacana WFH ASN: Solusi Hemat BBM atau Celah untuk Long Weekend?

Wacana WFH ASN: Solusi Hemat BBM atau Celah untuk Long Weekend?

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:23 WIB

Menteri PU Nyetir Sendiri Lintasi Trans Jawa, Puji Kualitas Tol Bebas Lubang

Menteri PU Nyetir Sendiri Lintasi Trans Jawa, Puji Kualitas Tol Bebas Lubang

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:15 WIB

Tak Ada yang Kebal Hukum: Mantan PM Nepal Sharma Oli Ditangkap Terkait Tewasnya Demonstran

Tak Ada yang Kebal Hukum: Mantan PM Nepal Sharma Oli Ditangkap Terkait Tewasnya Demonstran

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:10 WIB

Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya

Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:49 WIB

Sampah Menggunung di Pasar Induk Kramat Jati Capai 6.970 Ton, Pasar Jaya Kebut Pengangkutan

Sampah Menggunung di Pasar Induk Kramat Jati Capai 6.970 Ton, Pasar Jaya Kebut Pengangkutan

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:43 WIB

Antisipasi Copet hingga Jambret, Ribuan Personel Jaga Ketat Pasar Murah di Monas

Antisipasi Copet hingga Jambret, Ribuan Personel Jaga Ketat Pasar Murah di Monas

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:40 WIB

Bersama Anak Yatim Piatu, Boni Hargens Gelar Doa bagi Perdamaian Dunia

Bersama Anak Yatim Piatu, Boni Hargens Gelar Doa bagi Perdamaian Dunia

News | Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:05 WIB