Mengapa Gunung Everest Tiba-tiba Lebih Tinggi?

Siswanto, BBC

Rabu, 09 Desember 2020 | 17:20 WIB
Mengapa Gunung Everest Tiba-tiba Lebih Tinggi?
BBC

Suara.com - Gunung tertinggi di dunia, Gunung Everest, tercatat lebih tinggi 86 centimeter dibanding angka ketinggian resmi yang tercatat sebelumnya. Tinggi gunung itu kini 8.848.86 meter.

Hingga kini, China dan Nepal memiliki pandangan berbeda tentang faktor ketebalan salju di puncak Everest ketika menghitung ketinggian gunung tersebut.

Otoritas China sebelumnya mengukur tinggi Everest 8.844,43 meter, empat meter lebih rendah dari ketinggian resmi yang dicatat oleh Nepal.

Everest berdiri di perbatasan antara China dan Nepal dan pendaki gunung mendaki dari kedua sisi.

Pejabat di kementerian luar negeri Nepal dan departemen survei mengatakan pemantau dari kedua negara telah berkoordinasi untuk menyetujui ketinggian baru.

Kesepakatan untuk bersama-sama mengumumkan angka resmi ketinggian titik tertinggi Bumi itu dibuat selama kunjungan Presiden China Xi Jinping ke ibu kota Nepal, Kathmandu tahun lalu.

Mengapa ada perbedaan ketinggian resmi antara China dan Nepal?

Pihak berwenang China mengatakan sebelumnya ketinggian Gunung Everest harus diukur hingga ketinggian bebatuannya saja, sementara pihak berwenang Nepal berpendapat bahwa salju di puncak harus dimasukkan.


Para surveyor China telah menghitung angka ketinggian Everest setelah mereka mengukur gunung tersebut pada 2005.

Pejabat pemerintah Nepal mengatakan kepada BBC pada tahun 2012 bahwa mereka berada di bawah tekanan dari China untuk menerima angka tinggi resmi Everest yang telah dirilis oleh China.

baca juga

Mereka kemudian memutuskan untuk melakukan pengukuran baru untuk "menetapkan angka [ketinggian] secara sekali untuk selamanya".

Ini pertama kalinya negara tersebut melakukan pengukuran sendiri atas ketinggian Everest.

Empat surveyor tanah Nepal menghabiskan dua tahun pelatihan untuk misi tersebut, sebelum menuju ke puncak.

Ketinggian 8.848m yang digunakan Nepal untuk Gunung Everest ditentukan oleh Survey of India pada tahun 1954.

"Sebelum ini, kami belum pernah melakukan pengukuran sendiri," ujar juru bicara departemen survey Nepal, Damodar Dhakal, kepada BBC.

"Sekarang, kita memiliki tim teknis yang muda [yang bisa mendaki puncak Everest], kami bisa melakukannya sendiri," kata Dhakal.

Pemimpin tim surveyor Nepal, Khimlal Gautam, kehilangan jempolnya karena radang dingin saat di puncak Everest ketika memasang peralatan pengukur ketinggian tahun lalu.

"Bagi para pendaki, mendaki puncak tertinggi berarti pencapaian besar. Bagi kami, ini baru permulaan," kata Gautam kepada BBC Nepal setelah dia kembali dari puncak Everest.

"Tidak seperti survei Everest lainnya di masa lalu, kami memilih pukul 03:00 untuk meminimalkan kesalahan yang bisa disebabkan karena sinar matahari di siang hari."

Mengapa ketinggian Everest dipertanyakan?

Beberapa ahli geologi memperkirakan gempa pada 2015 kemungkinan berdampak pada ketinggian Gunung Everest.

Gempa berkekuatan 7,8 skala Richter menewaskan hampir 9.000 orang di Nepal, dan menyebabkan longsoran salju yang mengubur bagian dari base camp di gunung tersebut. Sedikitnya 18 pendaki tewas.

Beberapa ahli geologi mengatakan gempa bumi mungkin telah menyebabkan tutupan salju Everest menyusut.

Para ilmuwan telah menemukan bahwa beberapa puncak Himalaya lainnya seperti Langtang Himal, sebagian besar di utara Kathmandu dan dekat dengan pusat gempa, telah berkurang ketinggiannya kira-kira satu meter setelah gempa bumi.

Yang lain berpendapat, bahwa Gunung Everest, sama seperti gunung-gunung lain di pegunungan Himalaya, mungkin benar-benar lebih tinggi dari waktu ke waktu karena pergeseran lempeng tektonik yang didudukinya.

Tetapi para ahli mengatakan gempa bumi besar dapat mengakibatkan proses itu terbalik.

"Gempa tahun 2015 juga merupakan alasan utama mengapa kami mengukur ulang gunung tersebut," kata Dhakal.

Bagaimana pengukuran ketinggian Gunung Everest?

Ketinggian gunung diukur dari permukaan laut rata-rata sebagai dasarnya. Jadi ini bukan tentang di mana bagian atas gunung, tapi di mana bagian bawah akan berada.

Nepal menggunakan Teluk Benggala sebagai pangkalan penghitungan permukaan lautnya, tetapi India telah mensurvei titik yang lebih dekat ke Everest, dekat perbatasan India-Nepal, dari teluk, dan mampu memberikan ketinggian pada titik tersebut bagi surveyor Nepal.

Dari sana, Nepal membangun jaringan stasiun garis pandang yang membentang hampir 250 km hingga titik Everest pertama kali terlihat, menciptakan rantai titik yang dapat diukur dan dijumlahkan.

Para surveyor China, menurut media China Daily yang dikelola pemerintah, menggunakan Laut Kuning di provinsi timur Shandong sebagai pangkalan permukaan laut mereka.

Surveyor dari kedua negara juga menggunakan rumus trigonometri untuk menghitung ketinggian puncak.

Rumus yang mereka gunakan menghitung tinggi segitiga dengan mengalikan alasnya dengan sudutnya.

Tetapi untuk semua pekerjaan ini, seseorang masih perlu berada di puncak gunung.

Para surveyor Nepal naik ke puncak tahun lalu, sementara surveyor China naik pada Mei tahun ini, menjadi satu-satunya tim yang mencapai puncak pada 2020, setelah Nepal menangguhkan semua ekspedisi selama pandemi virus korona dan China melarang pelancong asing.

Pihak berwenang Nepal mengatakan mereka menggunakan 12 puncak yang lebih rendah untuk melihat puncak Everest demi menggunakan rumus trigonometri, untuk mencapai hasil yang lebih presisi.

Media China melaporkan bahwa surveyor China menggunakan metode yang sama.

"Setelah suar surveyor ditempatkan di puncak, surveyor di stasiun sekitar puncak mengukur jarak dari enam titik ke suar, yang berarti setidaknya enam segitiga dapat dihitung untuk menentukan ketinggian gunung," ujar Jiang Tao, peneliti asosiasi di akademi survei dan pemetaan China, kepada media China Daily yang dikelola pemerintah.

Kedua belah pihak juga menggunakan Sistem Satelit Navigasi Global untuk menerima data ketinggian dari berbagai alat dalam perhitungan mereka.

China sebelumnya telah melakukan dua kali pengukuran ketinggian Gunung Everest, pertama pada tahun 1975 dan kemudian pada tahun 2005.

Anggota tim survei kedua memasang perangkat GPS versi Cina di puncak, menurut Himalayan Database.

Kali ini para surveyor China menggunakan sistem satelit navigasi BeiDou milik China yang diyakini akan menyaingi Sistem Pemosisian Global (GPS) milik AS.

"Dengan menggunakan sistem tersebut, kedalaman salju, cuaca dan kecepatan angin juga akan diukur untuk membantu pemantauan gletser dan untuk perlindungan ekologi," lapor kantor berita China, Xinhua.

Surveyor Nepal menggunakan GPS untuk membuat perhitungan mereka.

"Kami memproses data ini menggunakan metodologi yang diterima secara internasional untuk menentukan ketinggian Gunung Everest," kata Dhakal kepada BBC.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Nyawa Pejabat Kemlu Malaysia Melayang Saat Mendaki Gunung Tertinggi di Dunia

Nyawa Pejabat Kemlu Malaysia Melayang Saat Mendaki Gunung Tertinggi di Dunia

News | Selasa, 31 Oktober 2023 | 14:59 WIB

5 Gunung Tertinggi di Dunia, dari Everest hingga Makalu

5 Gunung Tertinggi di Dunia, dari Everest hingga Makalu

Your Say | Sabtu, 10 Desember 2022 | 10:11 WIB

Terkini

Fakta Baru Kasus Bupati Kuansing, KPK Ungkap Dugaan Uang dari Pelepasan Hutan

Fakta Baru Kasus Bupati Kuansing, KPK Ungkap Dugaan Uang dari Pelepasan Hutan

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 17:54 WIB

Panik Dipantau KPK, Bupati Kuansing Jual Land Cruiser ke Showroom Milik Suwito

Panik Dipantau KPK, Bupati Kuansing Jual Land Cruiser ke Showroom Milik Suwito

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 17:50 WIB

Akal Bulus Maling Motor di PIK 2: Tukar Pelat Sesuai Kartu Parkir Dashboard Biar Lolos Keluar

Akal Bulus Maling Motor di PIK 2: Tukar Pelat Sesuai Kartu Parkir Dashboard Biar Lolos Keluar

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 17:50 WIB

Alasan Polisi Tak Izinkan Massa Demo BEM UI Lewati Jalan Trunojoyo di Hari Bhayangkara

Alasan Polisi Tak Izinkan Massa Demo BEM UI Lewati Jalan Trunojoyo di Hari Bhayangkara

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 17:35 WIB

Bupati Kuansing Minta Land Cruiser, Mobil Dibeli Kredit dengan Cicilan Rp46 Juta Per Bulan

Bupati Kuansing Minta Land Cruiser, Mobil Dibeli Kredit dengan Cicilan Rp46 Juta Per Bulan

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 17:27 WIB

AS dan Iran Saling Klaim di Tengah Perang, Gencatan Senjata 60 Hari Gagal Total?

AS dan Iran Saling Klaim di Tengah Perang, Gencatan Senjata 60 Hari Gagal Total?

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 17:24 WIB

Waspada! Kebijakan B50 Bisa Picu Krisis Minyak Goreng dan Bencana Lingkungan Akibat Sawit

Waspada! Kebijakan B50 Bisa Picu Krisis Minyak Goreng dan Bencana Lingkungan Akibat Sawit

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 17:21 WIB

Waspada El Nino hingga 2027, Megawati Keluarkan Instruksi 'Siaga Satu' Pangan dan Air

Waspada El Nino hingga 2027, Megawati Keluarkan Instruksi 'Siaga Satu' Pangan dan Air

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 17:19 WIB

Dilarang Dekat Mabes, BEM UI Beberkan Rapor Merah 602 Kasus Kekerasan Polri di Depan Gedung ASEAN

Dilarang Dekat Mabes, BEM UI Beberkan Rapor Merah 602 Kasus Kekerasan Polri di Depan Gedung ASEAN

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 17:10 WIB

Presiden Belarus Tiba di Jakarta, Disambut Menhan Sjafrie Sjamsoeddin

Presiden Belarus Tiba di Jakarta, Disambut Menhan Sjafrie Sjamsoeddin

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 17:04 WIB

×