Pertamina Didesak Benahi Sistem Pengamanan yang Tidak Andal

Siswanto | BBC | Suara.com

Rabu, 31 Maret 2021 | 12:00 WIB
Pertamina Didesak Benahi Sistem Pengamanan yang Tidak Andal
BBC

Suara.com - Kobaran api dan kepulan asap masih membumbung tinggi di area kilang milik Pertamina di Indramayu, Jawa Barat, dua hari setelah insiden kebakaran terjadi pada Senin (29/03) dini hari.

Sejumlah warga yang tinggal di dekat kilang melaporkan adanya bau menyengat beberapa jam sebelum insiden kebakaran terjadi.

Kepolisian daerah Jawa Barat dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu menyebut adanya indikasi bahwa kebakaran diduga dipicu oleh kebocoran tangki.

Namun Pertamina menegaskan pihaknya masih melakukan investigasi untuk memastikan penyebab insiden yang membuat hampir 1.000 jiwa mengungsi dan sekitar 20 orang mengalami luka bakar.

Kebakaran di kilang minyak Balongan milik Pertamina, menambah daftar panjang insiden kebakaran di fasilitas perusahaan energi milik negara tersebut. Setidaknya, empat kebakaran kilang terjadi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

Pengamat energi dan aktivis lingkungan mengatakan insiden yang terus berulang disebabkan "sistem pengamanan yang tidak andal" dan menuntut investigasi yang menyeluruh dan transparan terkait insiden itu.

'Rasanya saya sudah hampir mati'

Dua malam terakhir, Devi dan keluarganya terpaksa menginap di GOR Bumi Patra, pusat pengungsian bagi warga terdampak kebakaran tangki penyimpangan BBM milik Pertamina, di Indramayu, Jawa Barat, pada Senin (29/03) pukul 00.45 dini hari.

Malam saat insiden terjadi, ia mengaku mencium bau menyengat dari area kilang. Ia bersama warga lain kemudian melapor ke kantor Pertamina, namun menurutnya, "tidak mendapat reaksi".

"Pas jam 11 malem tuh, udah terasa bau sekali, terus pada bangun, terus minta penanganan dari Pertamina tapi enggak ada reaksi," tutur Devi, Selasa (30/03).

Kemudian, warga diminta keluar rumah oleh aparat polri dan TNI untuk evakuasi. Tak lama setelah meninggalkan rumahnya, ia mendengar adanya ledakan dari arah kilang. Kobaran api terjadi pada pukul 00.45 WIB.

"Pikiran saya mah, wah kalau lari enggak keburu, soalnya apinya 'kan gede banget. Saya juga trauma ngelihatnya. Rasanya saya itu udah hampir mati, enggak ada umur lah," aku Devi.

Rumahnya di Wisma Jati, Desa Sukaurip yang berjarak sangat dekat dengan area kilang, hancur akibat insiden tersebut.

"Hancur, semua hancur. Deket sih, cuma dua meter dari [kilang] yang meledak. Itu kan dibatasi pagar beton, kalau nggak ada pagar beton, kena semua," tutur perempuan berusia 40 tahun tersebut.

Nasib serupa dialami oleh Indah, ibu muda berusia 19 tahun yang terpaksa mengungsi bersama bayinya yang baru berusia tiga bulan.

"Sampai bergetar rumah, banyak yang rusak. Atap pada jebol ke Kasur, kaca semua pada pecah," tutur Indah mengisahkan pengalaman yang ia alami malam itu.

Hingga kini ia masih merasa trauma dan masih enggan kembali ke rumahnya.

"Pengennya pulang, tapi masih bahaya. Takut, enggak mau ambil risiko. Takutnya ke sana, terus gitu lagi, 'kan repot," aku Indah.

Diduga dipicu kebocoran tangki

Hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab insiden tersebut. Namun, BPBD Kabupaten Indramayu menduga kebakaran kilang Balongan dipicu kebocoran tangki kilang minyak.

Dugaan ini berdasar keterangan warga yang sempat mencium bau gas sebelum terjadinya tiga ledakan beruntun, menurut pelaksana tugas kepala pelaksana BPBD Indramayu, Dodi Dwi Endrayadi.

"Penyebab kejadian bencana yaitu kebocoran tangki gas," ujar Dodi.

"Kebocoran gas atau bau menyengat sudah terjadi sejak pukul 23.00 WIB, warga melaporkan ke humas Pertamina sekitar pukul 00.45 WIB. Ledakan terdengar dua kali, ledakan kekuatan sedang dan satu kali ledakan susulan dengan kekuatan besar," katanya.

Senada, Kapolda Jawa Barat Ahmad Dofiri mengatakan ada laporan mengenai indikasi kebocoran pada tangki kilang.

"Kami mendapat informasi tadi bahwa ada rembesan atau kebocoran di pipa tangki yang terbakar," kata Dofiri pada wartawan, Senin (29/03).

"Saya kira akibatnya itu. Tetapi ini informasi awal karena semalam ada petir yang cukup besar juga," tambahnya.

Adapun, Pertamina mengatakan pihaknya masih melakukan investigasi untuk memastikan penyebab kebakaran tersebut.

Sebelumnya, Pertamina mengatakan dugaan sementara petir turut memicu kebakaran.

"Sementara ini kita masih menduga (kebakaran disebabkan) terkena petir," ujar Unit Manager Commrel & CSR Pertamina RU VI Balongan Indramayu, Cecep Supriyatna seperti dikutip dari Antara.

Ketika ditanya adanya indikasi kebocoran pada tangki, Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, mengatakan laporan itu akan diselidiki lebih lanjut.

"Semua keterangan dari pihak internal maupun dari warga kita sedang collect semua, ini sebagai dasar untuk kita lakukan investigasi lebih lanjut. Jadi kita tunggu saja karena ini ada banyak aspek yang harus dilihat," kata Nicke.

Sistem keamanan dan keselamatan yang tak bisa diandalkan

Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi menyebut ini adalah kali kedua kilang Balongan mengalami kebakaran.

"Kilang sebesar dan strategis Balongan mestinya punya sistem pengamanan yang bagus bahkan harus berlapis-lapis sehingga ketika terjadi percikan api sudah bisa memadamkan sendiri," kata Fahmy.

"Dan standar internasional mestinya kilang itu zero accident, ternyata itu terjadi beberapa kali dan yang sangat saya prihatinkan, pemukiman penduduk terlalu dekat, sehingga pada saat terjadi kebakaran besar tadi mereka lari tunggang langgang untuk mengungsi," imbuhnya.

Insiden yang terus berulang, kata Fahmy, disebabkan oleh sistem keamanan dan keselamatan yang tak bisa diandalkan.

"Saya meragukan sistem pengamanan yang dimiliki Pertamina tidak menerapkan standar internasional yang zero accident, karena kenyataannya terjadi berulang," kata Fahmy.

"Kalau Balongan ada ledakan atau karena petir, itu mengindikasikan bahwa yang lemah adalah sistemnya, bukan karena kelalaian.

"Itu di beberapa kecelakaan sebelumnya, bukan karena kelalaian, tapi kelemahan sistem pengamanan Pertamina," kata Fahmy kemudian.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, setidaknya terjadi empat kali insiden kebakaran di kilang Pertamina, antara lain di Dumai, Cilacap Balikpapan dan yang terbaru di Balongan.

Agar insiden serupa tak terjadi kembali, Fahmy merekomendasikan agar Pertamina melakukan investigasi penyebab insiden, melakukan perbaikan sistem pengamanan agar sesuai standar internasional.

Di sisi lain, ia merekomendasikan agar Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan audit secara reguler untuk memastikan keandalan sistem pengamanan di kilang-kilang Pertamina.

"Tanpa tiga hal tadi, jangan harap kecelakaan serupa tidak akan terjadi lagi pada kilang-kilang minyak yang membawa korban," kata dia.

Dengan api yang hingga kini belum berhasil dipadamkan, Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak mengatakan kebakaran di kilang Balongan akan berdampak buruk bagi kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar kilang.

Ia mengatakan, berbagai polutan berbahaya yang timbul dari kebakaran tak hanya akan mencemari udara sekitar kilang, namun bisa terbawa angin hingga jauh.

"Pertamina harus melakukan langkah mitigasi yang menyeluruh terhadap berbagai risiko kebakaran kilang, termasuk dampaknya bagi perekonomian dan kehidupan masyarakat sekitar," kata Leonard.

Ia menambahkan, apabila terdapat kelalaian atau pelanggaran prosedur kesehatan dan keselamatan di fasilitas Pertamina, mereka harus dikenakan tanggung jawab secara hukum.

"Pemerintah harus menetapkan peraturan yang lebih ketat untuk industri perminyakan agar lebih aman dan lebih bertanggung jawab atas kerusakan yang mereka lakukan," ujarnya.

Maka dari itu, pihaknya mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mengajukan tuntutan pidana terhadap Pertamina sebagai pelaku berulang bencana lingkungan.

Hal serupa pernah dilakukan KLHK pada 2019 silam ketika menggugat para pihak - termasuk Pertamina - yang bertanggungjawab atas pencemaran di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur yang terjadi pada 2018.

Kala itu Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar menggugat Pertamina dan sejumlah pihak terkait, membayar ganti rugi lingkungan hidup secara tanggung renteng senilai Rp10,15 triliun.

Pencemaran di Teluk Balikpapan disebabkan tumpahan minyak dari pipa kilang yang rusak akibat ditabrak oleh kapal.

Sang nahkoda kapal kemudian diganjar vonis 10 tahun penjara dan denda Rp15 miliar.

Ia menambahkan dalam Undang-Undang Lingkungan Hidup Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup (UUPPLH) disediakan klausul untuk pidana lingkungan untuk melakukan penuntutan kepada badan hukum korporasi yang melakukan pelanggaran lingkungan.

"Ini bukan pertama kalinya, dan ini tidak akan menjadi yang terakhir kecuali tindakan tegas diambil," kata dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Panas Ekstrem Diduga Picu Kebakaran di Kramat Jati

Panas Ekstrem Diduga Picu Kebakaran di Kramat Jati

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 18:44 WIB

Angin Kencang Picu Api Mengganas, Deretan Lapak di Kalideres Ludes Terbakar

Angin Kencang Picu Api Mengganas, Deretan Lapak di Kalideres Ludes Terbakar

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 17:06 WIB

Mudik Tenang Cegah Kebakaran, Ini yang Wajib Dilakukan Sebelum Mengunci Pintu Rumah

Mudik Tenang Cegah Kebakaran, Ini yang Wajib Dilakukan Sebelum Mengunci Pintu Rumah

News | Senin, 16 Maret 2026 | 18:44 WIB

Korsleting Listrik Picu Kebakaran Lagi di Jatinegara, Paksa 31 Warga Mengungsi

Korsleting Listrik Picu Kebakaran Lagi di Jatinegara, Paksa 31 Warga Mengungsi

News | Senin, 16 Maret 2026 | 16:24 WIB

Kebakaran Hanguskan Tiga Rumah di Mampang Prapatan, 14 Jiwa Terpaksa Mengungsi

Kebakaran Hanguskan Tiga Rumah di Mampang Prapatan, 14 Jiwa Terpaksa Mengungsi

News | Senin, 16 Maret 2026 | 08:17 WIB

Mencekam! Israel Bak Neraka, Api di Mana-mana Setelah Dirudal Kiamat Iran

Mencekam! Israel Bak Neraka, Api di Mana-mana Setelah Dirudal Kiamat Iran

News | Minggu, 15 Maret 2026 | 16:28 WIB

Amukan Si Jago Merah Hanguskan 10 Rumah dan 2 Lapak di Bintaro

Amukan Si Jago Merah Hanguskan 10 Rumah dan 2 Lapak di Bintaro

News | Sabtu, 14 Maret 2026 | 21:46 WIB

Kebakaran Hebat di Tambora Jakbar, 25 Rumah Hangus dan 206 Warga Terpaksa Mengungsi

Kebakaran Hebat di Tambora Jakbar, 25 Rumah Hangus dan 206 Warga Terpaksa Mengungsi

News | Sabtu, 14 Maret 2026 | 13:10 WIB

Karhutla: 10 Hektare Lahan Gambut Terbakar di Anjongan, Api Sempat Mendekati Bangunan Warga

Karhutla: 10 Hektare Lahan Gambut Terbakar di Anjongan, Api Sempat Mendekati Bangunan Warga

News | Minggu, 08 Maret 2026 | 17:09 WIB

Kebakaran Pasar Darurat di Blora Hanguskan Sembilan Kios dan Satu Rumah, Kerugian Capai Rp2,2 Miliar

Kebakaran Pasar Darurat di Blora Hanguskan Sembilan Kios dan Satu Rumah, Kerugian Capai Rp2,2 Miliar

News | Minggu, 08 Maret 2026 | 13:37 WIB

Terkini

Kasus Air Keras Andrie Yunus: Polisi Periksa 15 Saksi, Pelaku Diduga Bisa Lebih dari 4 Orang

Kasus Air Keras Andrie Yunus: Polisi Periksa 15 Saksi, Pelaku Diduga Bisa Lebih dari 4 Orang

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 20:23 WIB

Empat Prajurit Terlibat, DPR Minta Dalang Utama Kasus Andrie Yunus Diungkap

Empat Prajurit Terlibat, DPR Minta Dalang Utama Kasus Andrie Yunus Diungkap

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 20:20 WIB

Update Arus Mudik H-3 Lebaran 2026: Tol Kalikangkung Tembus 3.000 Kendaraan per Jam

Update Arus Mudik H-3 Lebaran 2026: Tol Kalikangkung Tembus 3.000 Kendaraan per Jam

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 20:16 WIB

Kasus Kematian Nizam Syafei Naik Penyidikan, Kuasa Hukum: Harus Diusut Tanpa Tebang Pilih

Kasus Kematian Nizam Syafei Naik Penyidikan, Kuasa Hukum: Harus Diusut Tanpa Tebang Pilih

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 20:11 WIB

Koalisi Sipil Tolak Peradilan Militer, Desak Usut Aktor Intelektual Kasus Andrie Yunus

Koalisi Sipil Tolak Peradilan Militer, Desak Usut Aktor Intelektual Kasus Andrie Yunus

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 20:10 WIB

Koalisi Sipil Desak Kasus Andrie Yunus Tak Diseret ke Sidang Militer: Ada Dugaan Aktor Lebih Besar

Koalisi Sipil Desak Kasus Andrie Yunus Tak Diseret ke Sidang Militer: Ada Dugaan Aktor Lebih Besar

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 20:08 WIB

Warga Jakarta yang Mudik Bisa Titip Kendaraan Gratis di Kantor Lurah Hingga Wali Kota

Warga Jakarta yang Mudik Bisa Titip Kendaraan Gratis di Kantor Lurah Hingga Wali Kota

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 20:06 WIB

Bukan Era Orde Baru, Aktivis 98 Desak Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Ditangani Transparan

Bukan Era Orde Baru, Aktivis 98 Desak Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Ditangani Transparan

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 20:04 WIB

Pemerintah Apresiasi Langkah Cepat Polri Identifikasi Pelaku Penyiraman Air Keras Andrie Yunus

Pemerintah Apresiasi Langkah Cepat Polri Identifikasi Pelaku Penyiraman Air Keras Andrie Yunus

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 20:03 WIB

Peserta Mudik Gratis DKI Membeludak, Bank Jakarta Ikut Sumbang 20 Bus ke Jawa Hingga Sumatra

Peserta Mudik Gratis DKI Membeludak, Bank Jakarta Ikut Sumbang 20 Bus ke Jawa Hingga Sumatra

News | Rabu, 18 Maret 2026 | 19:52 WIB