Warga Asal Indonesia Usia di Atas 60 Tahun yang Masih Bekerja di Australia

Siswanto, ABC

Senin, 13 Desember 2021 | 12:35 WIB
Warga Asal Indonesia Usia di Atas 60 Tahun yang Masih Bekerja di Australia
Ilustrasi petani muda. [Ema Rohimah / SuaraJogja.id]

"Keluarga masih nomor satu, kalau keluarga membutuhkan saya, saya selalu berusaha melakukan."

"Beruntung bos di kantor saya cukup mengerti dan selalu memberikan izin bila ada keperluan untuk keluarga," katanya.

Salah satu kesibukan Angele di luar pekerjaannyaadalah membantu menjaga dua orang cucunya.

"Setiap dua minggu sekali saya punya satu hari libur tambahan hari Senin, tugas saya adalah menjaga cucu hari itu," katanya.

Mencari keseimbangan hidup

Freenyan Liwang yang lahir di Makassar saat ini berusia 60 tahun lebih dan tinggal di Sydney. Ia sempatpensiun dari pekerjaannya sebagai salah seorang direktur di sebuah bank swasta di Indonesia.

"Saya pensiun dari bank tersebut di tahun 2017 di usia 56 tahun, saya sebenarnya masih ditawari untuk menjadi komisaris namun saya memutuskan untuk berhenti sepenuhnya," katanya kepada ABC Indonesia.

Ia kemudian menetap di Sydney karena istrinya dan kedua anak perempuannya sudah tinggal lebih lama di Sydney, tapi Freenyantidak ingin tanpa melakukan kegiatan sama sekali.

"Saya memiliki beberapa usaha di antaranya berkenaan dengan perusahaan pembuatan pakaian, juga ada kerja sama untuk mengekspor ikan salmon dan tuna dari Australia ke Indonesia untuk kemudian diproses kembali dan juga bisnis pembayaran digital," ujarnya yang juga pernah bekerja di China selama belasan tahun.

baca juga

"Semua yang saya lakukan sekarang setelah pensiun memang masih ada hubungan dengan apa yang pernah saya sebelumnya di bidang perbankan, perdagangan internasional, dan produksi pakaian, semua yang pernah saya lakukan selama 30 tahun sebelumnya," katanya lagi.

Tapi sekarang Freenyan mengatakan ia memilih lebih mengutamakan keseimbangan hidup di tengah kesibukannya.

Selain bekerja dalam beberapa proyek bisnisnya, Freenyan secara teratur sering melakukan kegiatan bersepeda dan berjalan kaki ke hutan-hutan di sekitar Sydney.

"Bisnis yang saya lakukan adalah untuk mencari kegiatan supaya tetap sibuk, supaya otak kita tetap jalan, agar otak tidak jadi bodoh," katanya.

"Namun kesibukan itu juga jangan membuat kita stres. Kita harus menemukan keseimbangan hidup antara bekerja dan juga menikmati hidup," katanya.

Freenyan mengaku ia lebihmenikmati apa yang dilakukannya di Australia, sangat berbeda dengan yang pernah ia rasakan saat tinggal di Jakarta, meski lebih banyak fasilitas.

"Di Indonesia kita bisa hidup seperti raja, sopir ada, di rumah ada pembantu, pada dasarnya kita tinggal makan saja."

"Juga kalau ada proyek ada begitu banyak orang yang terlibat.

"Di Australia, walau saya seorang direktur apa-apa harus saya kerjakan sendiri, harus masak sendiri.

"

"Namun saya suka melakukannya, saya tidak mengeluh. Kalaupergi ke hutan, kita bisa menikmati suara burung, menikmati alam ke daerah yang tidak jauh dari kota." katanya lagi.

"

'Saya merasa berguna'

Tahun lalu, Widianti Oh berhenti dari pekerjaan 'full time'-nyasebagai tenaga pendidik anak-anak balita di sebuah pusat penitipan dan perawatan anak-anak atau 'childcare'di Melbourne.

Tapi saat ini masih bekerja dengan status 'casual', sekitar 2 atau 3 hari seminggu tergantung permintaan dan kebutuhan dari tempat kerjanya.

Widianti yang lahir di Jakarta 67 tahun lalumengatakan masih membuka diri untuk terus aktif selama beberapa tahun lagi.

"Kartu [izin] untuk bekerja dengan anak-anak berakhir bulan Mei tahun 2023, jadi nanti saya lihat apakah saya masih mau bekerja. Kalau iya, saya bisa perpanjang [kartu izin] lima tahun lagi," kata Wi, panggilan akrabnya.

Tiba di Australia lewat Singapura di tahun 1970 untuk belajar dan mendapatkan diploma bisnis, Widianti pada awalnya tidaklah pernah bekerja di bidang bisnis.

"Setelah berkeluarga, saya tidak bisa memilih antara kerja dan keluarga. Pada awalnya saya mengasuh tiga anak sendiri dan juga anak-anak saudara lain," ujarnya, mengenai perkenalannya dengan tempat penitipan anak.

Setelah pernah tinggal di Adelaide dan Shanghai, China, ia mengikuti suaminya yang bekerja di Melbourne pada tahun 1999.

Ia pernah juga menjadi relawan, sebagaipengemudi untuk warga lanjut usia membantu mereka pergibelanja, ke dokter, atau kebutuhan lainnya.

"Saya tidak pernah mencari pekerjaan di childcare , kebetulan di tempat childcareada teman yang menawarkan saya untuk bekerja," katanya lagi.

Pada awalnya siapa saja boleh bekerja dengananak-anak,namun peraturan kemudian diubah dengan syaratpekerja 'child care' harusmemiliki Sertifikat III di bidang pengasuhan anak-anak,yang bisa didapatkan dalam waktu antara 6 bulan sampai 1 tahun di sekolah kejuruan.

Di tahun 2019, saat itu usianya 56 tahun, Widianti belajar lagi untuk mendapatkan Sertifikat IVdan bekerja penuh waktu sampaimemutuskan berhenti di akhir tahun 2020.

"Alasan saya untuk pensiun adalah karena anak saya dan keluarganya pindah kembali ke Melbourne dari Shanghai, jadi saya ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan mereka."

"Namunsaya masih sehat dan pergi kerja di tempat yang saya sukai juga memang menyenangkan," kata Wi, yang sudah hidup dengan diabetes selama 30 tahun.

"

"Saya bekerja karena membuat saya merasa berguna. Mungkin dua tahun lagi kalau saya merasa berbeda, saya akan berhenti."

"

Kerja di rumah sakit sambil jadi penyanyi

Ani Rajakgukguk, usia 65 tahun, masih aktif bekerja penuh waktu di bagian administrasi untuksebuah klinik yang menanganipenyakit pernapasan di rumah sakit Prince of Wales di Sydney.

Tiba di Australia di tahun 1980, Ani lulusan seni musik dari Institut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta, pernah mengajar musik selama beberapa tahun di awal karirnya di Australia, termasuk aktif dalam kegiatan seni bersama komunitas Indonesia.

"Waktu itu anak-anak masih kecil jadi saya baru mulai kerja di tahun 1989 awalnya masih paruh waktu, baru di tahun 2000 bekerja penuh waktu di rumah sakit," kata Ani kepada ABC Indonesia.

Karena tidak adanya keharusan untuk pensiun di usia tertentu di Australia, Ani mengatakan sampai sekarang belum memikirkan untuk berhenti bekerja di rumah sakit.

Ia juga mengatakan sumber pendapatannya juga membantukegiatannya bermusik baik secara profesional atau bersama komunitas Indonesia.

Ani pernah menjadi penyanyi profesional yang rutin manggung diberbagai klub di Sydney selama delapantahun.

"Sebagai seniman menyanyi di klub atau diundang untuk tampil di acara, kepuasannya lebih besar."

"Saya kanmemiliki latar belakang musik dari Indonesia, saya bisa main keyboard."

"Namun dalam waktu bersamaan, kerja di rumah sakit kan permanen, jadi sayang juga kalau ditinggalkan," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mohamed Salah Cedera, Lini Pertahanan Australia Ogah Lengah di Laga Hidup Mati Piala Dunia 2026

Mohamed Salah Cedera, Lini Pertahanan Australia Ogah Lengah di Laga Hidup Mati Piala Dunia 2026

Bola | Rabu, 01 Juli 2026 | 11:47 WIB

Piala Dunia 2026: Hanya Loloskan Dua Wakil, Sepak Bola Asia Masih Stagnan?

Piala Dunia 2026: Hanya Loloskan Dua Wakil, Sepak Bola Asia Masih Stagnan?

Your Say | Minggu, 28 Juni 2026 | 18:28 WIB

Imigrasi Indonesia Pimpin Pertemuan DGICM-Australia di Kamboja, Bahas Penguatan Keamanan Kawasan

Imigrasi Indonesia Pimpin Pertemuan DGICM-Australia di Kamboja, Bahas Penguatan Keamanan Kawasan

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 05:30 WIB

Kata-kata Ajdin Hrustic Bawa Timnas Australia Cetak Sejarah Amankan Tiket 32 Besar Piala Dunia 2026

Kata-kata Ajdin Hrustic Bawa Timnas Australia Cetak Sejarah Amankan Tiket 32 Besar Piala Dunia 2026

Bola | Jum'at, 26 Juni 2026 | 21:05 WIB

Socceroos Hadapi Paraguay Tanpa Bek Kanan Murni, Jacob Italiano Cedera

Socceroos Hadapi Paraguay Tanpa Bek Kanan Murni, Jacob Italiano Cedera

Bola | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:05 WIB

Pupuk Indonesia Tembus Australia, Ekspor Urea 250 Ribu Ton Dikebut hingga Akhir 2026

Pupuk Indonesia Tembus Australia, Ekspor Urea 250 Ribu Ton Dikebut hingga Akhir 2026

Bisnis | Selasa, 23 Juni 2026 | 16:14 WIB

Bek Amerika Serikat Emosional Cetak Gol Piala Dunia, Kenang Jejak Sang Ayah di Seattle

Bek Amerika Serikat Emosional Cetak Gol Piala Dunia, Kenang Jejak Sang Ayah di Seattle

Bola | Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:38 WIB

Australia Kalah dari Amerika Serikat, Tony Popivic: Kami Terlihat Lesu, Kaki Terasa Berat

Australia Kalah dari Amerika Serikat, Tony Popivic: Kami Terlihat Lesu, Kaki Terasa Berat

Bola | Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:18 WIB

Pochettino Puas AS Kalahkan Australia, Sebut Timnya Dominan di Piala Dunia 2026

Pochettino Puas AS Kalahkan Australia, Sebut Timnya Dominan di Piala Dunia 2026

Bola | Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:13 WIB

Tumbangkan Australia 2-0, Amerika Serikat Lolos ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Tumbangkan Australia 2-0, Amerika Serikat Lolos ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Bola | Sabtu, 20 Juni 2026 | 05:07 WIB

Terkini

Drama Penyekapan Senen: Korban yang Disekap dan Dirantai Kini Dilaporkan Kasus Pencurian

Drama Penyekapan Senen: Korban yang Disekap dan Dirantai Kini Dilaporkan Kasus Pencurian

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 16:20 WIB

Buntut Tragedi 5 Peserta Meninggal, Kemenhan Hapus Materi Militer dan Senjata di Program SPPI

Buntut Tragedi 5 Peserta Meninggal, Kemenhan Hapus Materi Militer dan Senjata di Program SPPI

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 16:19 WIB

Usai Serahkan Diri, Bupati dan Sekda Kuansing Resmi Pakai Rompi Tahanan KPK

Usai Serahkan Diri, Bupati dan Sekda Kuansing Resmi Pakai Rompi Tahanan KPK

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 16:12 WIB

Buntut 5 Peserta Meninggal, Kemenhan Hapus Latihan Militer di Program SPPI

Buntut 5 Peserta Meninggal, Kemenhan Hapus Latihan Militer di Program SPPI

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 16:10 WIB

Minyak Dunia Sudah Murah, Kenapa Harga Pertamax Masih Rp16 Ribu?

Minyak Dunia Sudah Murah, Kenapa Harga Pertamax Masih Rp16 Ribu?

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 15:59 WIB

Kapolri Anugerahkan Medali Kehormatan kepada Prabowo

Kapolri Anugerahkan Medali Kehormatan kepada Prabowo

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 15:53 WIB

Mendagri Tito Hadiri Upacara Peringatan ke-80 Hari Bhayangkara di Bogor

Mendagri Tito Hadiri Upacara Peringatan ke-80 Hari Bhayangkara di Bogor

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 15:42 WIB

Kemhan Usut Kematian 5 Calon Manajer Kopdes

Kemhan Usut Kematian 5 Calon Manajer Kopdes

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 15:40 WIB

Mediasi Buntu, Keluarga Adik Keisya Levronka Ungkap Alasan Tempuh Jalur Hukum

Mediasi Buntu, Keluarga Adik Keisya Levronka Ungkap Alasan Tempuh Jalur Hukum

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 15:37 WIB

Rp756 Miliar Diselamatkan! Kapolri Bongkar Skandal Besar Bio Solar dan Perusahaan Sawit Nakal

Rp756 Miliar Diselamatkan! Kapolri Bongkar Skandal Besar Bio Solar dan Perusahaan Sawit Nakal

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 15:32 WIB

×