Kisah Pria Singapura Tinggal di Hutan Selama 30 Tahun

Siswanto | BBC | Suara.com

Senin, 21 Februari 2022 | 18:03 WIB
Kisah Pria Singapura Tinggal di Hutan Selama 30 Tahun
BBC

Suara.com - Singapura dikenal sebagai salah satu negara paling urban di dunia, tanpa kekurangan gedung pencakar langit yang berkilauan dan apartemen mewah.

Tapi bagi pria di Singapura ini, tempat tinggalnya justru di salah satu hutan milik negara.

Ketika bertemu Oh Go Seng, demikian namanya, hal pertama yang mengejutkan Anda adalah kilatan pada matanya.

Dia menyebut usianya 79 tahun seperti tanpa ada beban. Dia terlihat jauh lebih baik ketimbang banyak orang yang usianya separuh lebih muda.

Awal bulan ini, kisah Oh yang tinggal di hutan menjadi viral di Singapura - banyak orang di seluruh negeri terkejut.

Sejumlah orang mempertanyakan mengapa tidak diberikan bantuan lebih banyak kepadanya - dan yang lebih aneh lagi, bagaimana dia bisa menjalani hidup ini yang tanpa disadarinya sudah berlangsung selama 30 tahun.

Persoalan saat Natal

Semuanya diawali saat Hari Natal ketika Oh dihentikan oleh petugas dan diketahui berjualan tanpa izin.

Dia menjual sayuran daun dan cabai yang dia tanam. Pandemi menyebabkan dia kehilangan pekerjaannya menjual bunga di pasar.

Oh yakin dia dilaporkan oleh pelanggannya yang tidak puas setelah ada selisih sekitar SG$1 atau sekitar Rp10 ribu harga sayur-sayuran yang dia jual.

Ketika itu, seorang pekerja amal lewat, dan melihat dia tengah diajak bicara oleh para petugas yang menyita sayurannya.

Baca juga:

Vivian Pan, sang pekerja amal, mengaku dia merasa "marah", seraya menambahkan, "Saya tidak ingin dia pulang dengan tangan hampa pada hari itu".

"Tapi saya mengerti, dari segi hukum, mereka tidak boleh berjualan di jalan," tambahnya.

Dia memfilmkan insiden itu dan mengunggahnya di Facebook, dan dengan cepat menjadi viral - dan apa yang dialami Oh akhirnya menjadi perhatian seorang anggota parlemen setempat.

Tapi kemudian sang anggota parlemen, Liang Eng Hwa, menemukan bahwa ada lebih banyak cerita mengenai Oh.

Dia sebenarnya tanpa diketahui telah hidup di hutan selama 30 tahun.

Tinggal di hutan

Oh tumbuh bersama keluarganya di Sungei Tengah - sebuah kampung atau setingkat desa.

Namun, pada 1980-an, kampung-kampung ini dirobohkan, guna membuka jalan bagi kehadiran gedung-gedung pencakar langit yang baru.

Sebagian besar penduduk kampung ditawari rumah baru oleh pemerintah, tetapi Oh tidak mendapatkannya.

Sedangkan saudara laki-lakinya mendapatkan flat pemerintah dan Oh diundang untuk tinggal di sana - tetapi dia akhirnya pindah karena mengaku tidak ingin merepotkan.

Baca juga:

Jadi, dia kembali ke hutan dekat tempat rumah lamanya dulu dan mulai bermalam di tempat penampungan sementara yang terbuat dari potongan kayu, bambu, dan terpal.

Saat mendekati tempat penampungan, Anda bakal melihat abu kayu di depan pintu yang merupakan bekas perapian yang digunakan Oh untuk memasak.

Tumpukan barang-barangnya berada di tengah-tengah penampungan, dan bagian belakang tendanya digunakan sebagai tempat tidur.

Taman di dekat tendanya adalah tempat dia menanam makanannya sendiri. Besi jemuran yang diletakkan antara pohon dan pagar melindungi petak kebun sayurannya dari para penyusup.

Pohon nangka yang menjulang tinggi di atas tendanya, ujarnya, membuatnya cukup teduh, dan dia tidak pernah merasa tidak nyaman - meskipun suhu panas dan kelembapan tropis Singapura membuat terik.

Kesepian juga tidak pernah menjadi masalah, katanya. Dia menyibukkan diri merawat kebunnya, meskipun itu, tambahnya, dipermudah oleh pertumbuhan yang baik.

Aspek terburuk dari hidup di hutan, ujarnya, adalah tikus. Mereka akan menemukan jalan mereka ke tempat perlindungannya dan mengunyah pakaiannya.

Dia juga bekerja di berbagai pekerjaan sampingan ketika dia bisa mendapatkannya.

Oh terkadang menggunakan uang yang diperolehnya untuk naik feri ke Batam, pulau kecil di negara tetangga, Indonesia. Di sanalah dia bertemu dengan Tacih dan mereka memiliki seorang anak perempuan.

Namun, setiap kunjungan rutin akhir pekannya ke Batam, Oh kembali ke rumah hutannya di Singapura.

Seperti keluarganya di Singapura, istri dan anak perempuan Oh, yang kini berusia 17 tahun, mengatakan mereka tidak tahu bagaimana dia hidup.

Dia akan selalu menjawab pertanyaan tentang di mana dia tinggal dengan mengatakan dia "tinggal di taman", kata salah-seorang kerabatnya.

Perjalanan Oh ke Batam berhenti begitu pandemi melanda, setelah Singapura menutup sebagian besar perbatasannya dan mengizinkan perjalanan hanya bagi mereka yang bersedia membayar untuk karantina dan tes Covid-19.

Namun, dia tetap membantu keluarganya secara finansial dengan mengirim mereka antara S$500 - S$600 (sekitar Rp6,3 juta) sebulan.

Tunawisma relatif jarang terjadi di Singapura. Negara ini rata-rata memiliki salah satu populasi terkaya di Bumi.

Produk domestik bruto (PDB) per kapita negara kota ini mencapai hampir $60.000, menurut angka terbaru dari Bank Dunia.

Singapura juga memiliki sistem perumahan umum yang luas, dengan hampir 80% penduduknya tinggal di properti yang disubsidi, dibangun dan dikelola oleh Housing Development Board (HDB).

Namun, meskipun tuna wisma bukanlah pemandangan umum di kota ini, diperkirakan sekitar 1.000 warga Singapura kehilangan tempat tinggal.

'Saya menonton televisi untuk pertama kalinya'

Pada Februari tahun ini - hari pertama Tahun Baru Imlek - dengan bantuan tim anggota parlemen setempat, Oh diberi rumah baru untuk ditinggali.

Liang mengatakan timnya akan terus "membantu Oh, termasuk mencari bantuan sosial jangka panjang [dan membantunya dalam] bersatu kembali dengan istri dan putrinya di Indonesia".

Flat satu kamar tidur yang sekarang dia tinggali bersama pria lain, berukuran kecil dengan sedikit perabotan.

Beberapa barang pribadi di flat telah dilengkapi dengan lemari es, televisi, ketel dan pemanas air yang disumbang oleh simpatisan.

Oh amat senang dengan pemanas airnya. Dia terbiasa mencuci dari air kolam di sebelah tempat berlindungnya di hutan dan menemukan air keran terlalu dingin.

Dia kini bekerja sebagai sopir, mengangkut para pekerja asing dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dan kadang-kadang melakukan pekerjaan berkebun, katanya.

Hari kepindahannya juga merupakan pertama kalinya dalam lebih dari tiga dekade dia merayakan Tahun Baru Imlek bersama keluarganya di Singapura.

"Saya makan banyak sekali! Dan ada banyak jenis makanan yang sudah bertahun-tahun tidak saya cicipi!" Dia tertawa.

"Luar biasa. Saya juga menonton televisi untuk pertama kalinya dalam lebih dari 30 tahun. Saya sangat menikmatinya."

Namun, dia jelas masih merindukan kehidupan bebas di hutan, meski ia mengaku lebih suka tinggal di rumah susun.

"Saya tinggal di sana selama bertahun-tahun, jadi ya tentu saja saya merindukannya," katanya dalam bahasa Hokkien China.

"Bahkan sekarang saya kembali ke hutan setiap hari. Saya bangun jam 3 pagi, berpakaian dan keluar untuk memeriksa sayuran saya, sebelum hari kerja saya dimulai."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

TNI dan Polri Tindak Tegas Oknum 'Backing' BBM Subsidi, Dua Personel Masuk Tahap Penyidikan

TNI dan Polri Tindak Tegas Oknum 'Backing' BBM Subsidi, Dua Personel Masuk Tahap Penyidikan

News | Selasa, 07 April 2026 | 22:51 WIB

Bersihkan Internal, Bareskrim Polri Pastikan Pecat Anggota yang Jadi 'Bekingan' Mafia Migas

Bersihkan Internal, Bareskrim Polri Pastikan Pecat Anggota yang Jadi 'Bekingan' Mafia Migas

News | Selasa, 07 April 2026 | 22:19 WIB

Desta Turun Gunung Jadi Host, Rupanya Atas Arahan dari Ahmad Dhani

Desta Turun Gunung Jadi Host, Rupanya Atas Arahan dari Ahmad Dhani

Video | Selasa, 07 April 2026 | 22:15 WIB

Bidik Sapu Bersih Podium, Seven Speed Motorsport Tancap Gas di Musim 2026

Bidik Sapu Bersih Podium, Seven Speed Motorsport Tancap Gas di Musim 2026

Sport | Selasa, 07 April 2026 | 22:13 WIB

Soal Wacana Pemotongan Gaji Para Menteri, Seskab Teddy Buka Suara

Soal Wacana Pemotongan Gaji Para Menteri, Seskab Teddy Buka Suara

Video | Selasa, 07 April 2026 | 21:05 WIB

Rumah Pompa Ancol, Solusi Pramono Anung Tangkal Banjir di Kawasan Pesisir Jakarta

Rumah Pompa Ancol, Solusi Pramono Anung Tangkal Banjir di Kawasan Pesisir Jakarta

News | Selasa, 07 April 2026 | 21:44 WIB

Bareskrim Polri Bongkar Sindikat Elpiji Subsidi, Kerugian Negara Tembus Rp1,2 Triliun

Bareskrim Polri Bongkar Sindikat Elpiji Subsidi, Kerugian Negara Tembus Rp1,2 Triliun

News | Selasa, 07 April 2026 | 21:39 WIB

Soleh Solihun Akhirnya Kasih Standing Ovation untuk 2 Peserta Indonesian Idol

Soleh Solihun Akhirnya Kasih Standing Ovation untuk 2 Peserta Indonesian Idol

Your Say | Selasa, 07 April 2026 | 22:00 WIB

5 Parfum Wanita Aroma Bunga Segar Tahan Lama, Wanginya Khas Nempel Seharian

5 Parfum Wanita Aroma Bunga Segar Tahan Lama, Wanginya Khas Nempel Seharian

Lifestyle | Selasa, 07 April 2026 | 21:05 WIB

Desakan Pengusutan Kasus Andrie Yunus di Peradilan Umum Terus Menguat, Lebih Adil Bagi Korban

Desakan Pengusutan Kasus Andrie Yunus di Peradilan Umum Terus Menguat, Lebih Adil Bagi Korban

News | Selasa, 07 April 2026 | 21:00 WIB

Terkini

TNI dan Polri Tindak Tegas Oknum 'Backing' BBM Subsidi, Dua Personel Masuk Tahap Penyidikan

TNI dan Polri Tindak Tegas Oknum 'Backing' BBM Subsidi, Dua Personel Masuk Tahap Penyidikan

News | Selasa, 07 April 2026 | 22:51 WIB

Bersihkan Internal, Bareskrim Polri Pastikan Pecat Anggota yang Jadi 'Bekingan' Mafia Migas

Bersihkan Internal, Bareskrim Polri Pastikan Pecat Anggota yang Jadi 'Bekingan' Mafia Migas

News | Selasa, 07 April 2026 | 22:19 WIB

Rumah Pompa Ancol, Solusi Pramono Anung Tangkal Banjir di Kawasan Pesisir Jakarta

Rumah Pompa Ancol, Solusi Pramono Anung Tangkal Banjir di Kawasan Pesisir Jakarta

News | Selasa, 07 April 2026 | 21:44 WIB

Bareskrim Polri Bongkar Sindikat Elpiji Subsidi, Kerugian Negara Tembus Rp1,2 Triliun

Bareskrim Polri Bongkar Sindikat Elpiji Subsidi, Kerugian Negara Tembus Rp1,2 Triliun

News | Selasa, 07 April 2026 | 21:39 WIB

Desakan Pengusutan Kasus Andrie Yunus di Peradilan Umum Terus Menguat, Lebih Adil Bagi Korban

Desakan Pengusutan Kasus Andrie Yunus di Peradilan Umum Terus Menguat, Lebih Adil Bagi Korban

News | Selasa, 07 April 2026 | 21:00 WIB

Ini Daftar Program Pemerintah yang Buat Pemudik Merasa Terbantu Menurut Survei Indikator

Ini Daftar Program Pemerintah yang Buat Pemudik Merasa Terbantu Menurut Survei Indikator

News | Selasa, 07 April 2026 | 20:55 WIB

Survei Indikator: Mayoritas Pemudik Nilai Lalu Lintas Lancar dan Kecelakaan Menurun

Survei Indikator: Mayoritas Pemudik Nilai Lalu Lintas Lancar dan Kecelakaan Menurun

News | Selasa, 07 April 2026 | 20:53 WIB

Serangan Baru Bombardir Pulau Kharg Saat Donald Trump Ancam Kehancuran Iran

Serangan Baru Bombardir Pulau Kharg Saat Donald Trump Ancam Kehancuran Iran

News | Selasa, 07 April 2026 | 20:32 WIB

Polri Usul Ambang Batas Kepemilikan Narkoba Diperkecil, Biar Jelas Bedakan Pengguna dan Bandar

Polri Usul Ambang Batas Kepemilikan Narkoba Diperkecil, Biar Jelas Bedakan Pengguna dan Bandar

News | Selasa, 07 April 2026 | 20:29 WIB

DPR Ingatkan Kenaikan Tiket Pesawat Hanya Langkah Darurat, Bukan Kebijakan Permanen

DPR Ingatkan Kenaikan Tiket Pesawat Hanya Langkah Darurat, Bukan Kebijakan Permanen

News | Selasa, 07 April 2026 | 20:24 WIB