Pertempuran Sengit di Mariupol, Mengapa Rebut Kota Ini Penting Bagi Rusia?

Siswanto | BBC | Suara.com

Rabu, 23 Maret 2022 | 14:53 WIB
Pertempuran Sengit di Mariupol, Mengapa Rebut Kota Ini Penting Bagi Rusia?
BBC

Suara.com - Mariupol mengalami kerusakan terparah akibat bom dan serangan Rusia. Kota itu adalah kunci kesuksesan operasi militer Moskow di Ukraina, tapi mengapa?

Ada empat alasan utama mengapa merebut kota pelabuhan itu akan menjadi kemenangan strategis bagi Rusia, tapi pada saat bersamaan menjadi pukulan besar bagi Ukraina.

1. Mengamankan koridor darat antara Krimea dan Donbas

Secara geografis, Mariupol hanyalah wilayah kecil di peta Ukraina, tetapi sekarang penduduknya mati-matian mempertahankan kota itu dari kepungan pasukan Rusia.

Pasukan Rusia melaju ke arah timur laut, dari semenanjung Krimea, agar bisa terhubung dengan para kamerad mereka, kelompok separatis di Donbas, Ukraina timur.

Jenderal Sir Richard Barrons, mantan panglima Komando Pasukan Gabungan Inggris, mengatakan merebut Mariupol sangat penting bagi Rusia.

"Ketika Rusia merasa telah berhasil menyelesaikan pertempuran itu, mereka akan membuat jembatan darat dari Rusia ke Krimea dan mereka akan melihat ini sebagai keberhasilan strategis utama."

Jika Mariupol direbut, Rusia akan memiliki kendali penuh atas lebih dari 80% garis pantai Laut Hitam di Ukraina. Akibatnya, perdagangan maritim Ukraina akan terhenti dan negara itu semakin terisolasi dari dunia.

Baca juga:

Tiga minggu bertahan melawan pasukan Rusia, pasukan Ukraina berhasil menyita konsentrasi sejumlah besar lawan mereka. Namun, kegagalan Rusia untuk merebut Mariupol dengan cepat, membuat komandannya menggunakan taktik pengepungan abad ke-21.

Mereka menyerang Mariupol dengan artileri, roket, dan rudal. Akibatnya, 90% kota itu hancur. Mereka juga telah memutus akses listrik, pemanas, air bersih, makanan, dan pasokan medis. Hal itu lantas menciptakan bencana kemanusiaan.

Moskow menyalahkan Ukraina karena menolak untuk menyerah pada batas waktu hari Senin (21/3) jam 05:00. Seorang anggota parlemen Ukraina menuduh Rusia "mencoba membuat warga Mariupol kelaparan agar mereka menyerah".

Ukraina sudah bertekad mempertahankan Mariupol habis-habisan hingga serdadu terakhir. Ini mungkin bakal terjadi.

Pasukan Rusia perlahan-lahan mendesak ke tengah, dan dengan tidak adanya kesepakatan damai apa pun yang bisa diterapkan, Rusia kemungkinan akan lebih intensif mengebom - tidak peduli apakah sasarannya orang-orang Ukraina bersenjata atau warga sipil yang masih terjebak. Jumlah warga sipil yang bernasib demikian lebih dari 200.000 jiwa.

Jika Rusia mengambil kendali penuh atas Mariupol, hampir 6.000 tentaranya - yang diorganisasikan ke dalam kelompok taktis berkekuatan 1.000 batalyon - leluasa bergerak dan memperkuat front Rusia lainnya di Ukraina.

Beberapa kemungkinan penugasan mereka antara lain:

  • ke timur laut untuk bergabung dalam pertempuran mengepung dan menghancurkan angkatan bersenjata reguler Ukraina yang memerangi separatis pro-Kremlin di wilayah Donbas.
  • ke barat untuk masuk ke Kota Odesa, yang menjadi pertahanan terakhir Ukraina yang tersisa di pesisir Laut Hitam.
  • ke barat laut menuju Kota Dnipro.

2. Menghantam perekonomian Ukraina

Mariupol sudah sejak lama menjadi pelabuhan penting yang strategis di Laut Azov, bagian dari Laut Hitam.

Kota ini merupakan pelabuhan terbesar di wilayah Laut Azov dan tempat pabrik-pabrik besi dan baja unggulan.

Di masa-masa normal, Mariupol adalah pusat ekspor utama untuk baja, batu bara, dan jagung Ukraina yang dikirim ke para pelanggannya di Timur Tengah dan sekitarnya.

Baca juga:

Selama delapan tahun, sejak Moskow mencaplok Krimea secara ilegal pada 2014, Mariupol terjepit di antara pasukan Rusia di Semenanjung Krimea dan separatis pro-Kremlin di Republik Donetsk dan Luhansk yang memisahkan diri.

Kehilangan Mariupol akan menjadi pukulan besar bagi perekonomian Ukraina yang tersisa.

3. Peluang propaganda

Mariupol adalah markas bagi unit milisi Ukraina yang disebut Brigade Azov. Nama itu diambil dari nama Laut Azov yang menghubungkan Mariupol dengan Laut Hitam. Brigade Azov beranggotakan ekstremis sayap kanan, termasuk neo-Nazi.

Meskipun mereka hanya membentuk fraksi terkecil dari pasukan tempur Ukraina, keberadaan unit itu dimanfaatkan sebagai alat propaganda yang berguna bagi Moskow.

Moskow jadi punya alasan untuk mengumumkan kepada penduduk Rusia bahwa para pemuda mereka dikirim berperang ke Ukraina demi menumpas neo-Nazi.

Jika Rusia berhasil menangkap banyak anggota Brigade Azov hidup-hidup, kemungkinan mereka akan ditampilkan di media yang dikendalikan pemerintah Rusia sebagai bagian dari perang informasi untuk mendiskreditkan Ukraina dan pemerintahnya.

4. Mendongkrak semangat Rusia

Jika Mariupol berhasil dikuasai Rusia, kedua belah pihak akan mengalami dampak psikologis yang signifikan dalam perang ini.

Kemenangan Rusia di Mariupol akan memberikan kemungkinan bagi Kremlin untuk menunjukkan kepada penduduknya - melalui media yang dikendalikan negara - bahwa Rusia mencapai tujuannya dan membuat kemajuan.

Bagi Presiden Putin, yang tampaknya menjadikan perang ini lebih bersifat pribadi, ada makna historis dari semua ini. Dia melihat garis pantai Laut Hitam Ukraina adalah bagian dari Novorossiya (Rusia Baru), wilayah Rusia yang berasal dari kekaisaran abad ke-18.

Putin ingin menghidupkan kembali konsep itu, "menyelamatkan Rusia dari tirani pemerintah pro-Barat di Kyiv", seperti pandangannya selama ini. Saat ini, Mariupol menghalanginya mencapai tujuan itu.

Baca juga:

Namun, bagi warga Ukraina, hilangnya Mariupol akan menjadi pukulan besar, tidak hanya secara militer dan ekonomi, tetapi juga bagi mereka yang berjuang di lapangan, membela negara mereka.

Mariupol akan menjadi kota besar pertama yang jatuh ke tangan Rusia setelah Kherson, kota yang secara strategis jauh lebih penting, yang nyaris tidak dipertahankan.

Ada aspek moral lain di sini, yaitu penggentaran.

Mariupol telah melakukan perlawanan sengit, tetapi lihatlah ganjarannya.

Kota ini hancur, sebagian besar luluh lantak. Kota itu akan tercatat dalam sejarah bersama Grozny dan Aleppo, tempat-tempat yang akhirnya dibom dan digempur oleh Rusia sampai menyerah, dan kemudian dibuat tinggal puing-puing.

Pesan ke kota-kota Ukraina lainnya sangat jelas, jika kalian memilih sikap yang sama dengan Mariupol, maka kalian bisa mengalami nasib yang sama pula.

"Rusia tidak bisa masuk ke Mariupol," kata Jenderal Sir Richard Barrons, "mereka tidak bisa masuk menggunakan tank-tank, jadi mereka menghancurkannya menjadi puing-puing. Dan itulah yang akan kita lihat di tempat lain yang mereka anggap benar-benar penting."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pemerataan Pendidikan, Anak-Anak di Daerah Terpencil Bogor Kini Punya Gedung Sekolah Dasar Baru

Pemerataan Pendidikan, Anak-Anak di Daerah Terpencil Bogor Kini Punya Gedung Sekolah Dasar Baru

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:24 WIB

Investasi USD 10 Juta, BEST Kembangkan Produksi Elektronik Dalam Negeri

Investasi USD 10 Juta, BEST Kembangkan Produksi Elektronik Dalam Negeri

Foto | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:00 WIB

Konflik di Selat Hormuz Bikin Ekspor Perhiasan Indonesia Terancam Rontok

Konflik di Selat Hormuz Bikin Ekspor Perhiasan Indonesia Terancam Rontok

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:16 WIB

Anak-anak Kini Bisa Belajar Perubahan Iklim Lewat Permainan

Anak-anak Kini Bisa Belajar Perubahan Iklim Lewat Permainan

Lifestyle | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:08 WIB

Kesempatan Belajar AI Kini Makin Terbuka untuk Penyandang Disabilitas

Kesempatan Belajar AI Kini Makin Terbuka untuk Penyandang Disabilitas

Lifestyle | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:47 WIB

Kementerian PANRB dan Kemenkes Perkuat SDM Kesehatan Dukung Program Prioritas Presiden

Kementerian PANRB dan Kemenkes Perkuat SDM Kesehatan Dukung Program Prioritas Presiden

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:42 WIB

Bocoran Der Spiegel: AS Berencana Pangkas Drastis Kontribusi Militer untuk NATO

Bocoran Der Spiegel: AS Berencana Pangkas Drastis Kontribusi Militer untuk NATO

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:41 WIB

Fleksibilitas Kerja ASN Perkuat Budaya Kerja Profesional dan Berbasis Kinerja

Fleksibilitas Kerja ASN Perkuat Budaya Kerja Profesional dan Berbasis Kinerja

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:29 WIB

Rupiah Tembus Rp17.803, Pengusaha Dilema: Naikkan Harga atau Menyerah

Rupiah Tembus Rp17.803, Pengusaha Dilema: Naikkan Harga atau Menyerah

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:28 WIB

Daftar Harga OPPO Find X9 Ultra dan Find X9s, HP Flagship Kamera Hasselblad Terbaru

Daftar Harga OPPO Find X9 Ultra dan Find X9s, HP Flagship Kamera Hasselblad Terbaru

Tekno | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:26 WIB

Terkini

Pemerataan Pendidikan, Anak-Anak di Daerah Terpencil Bogor Kini Punya Gedung Sekolah Dasar Baru

Pemerataan Pendidikan, Anak-Anak di Daerah Terpencil Bogor Kini Punya Gedung Sekolah Dasar Baru

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:24 WIB

Lawan Impunitas, Nasib Kasus Air Keras Andrie Yunus Ditentukan 2 Juni

Lawan Impunitas, Nasib Kasus Air Keras Andrie Yunus Ditentukan 2 Juni

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 22:10 WIB

Kementerian PANRB dan Kemenkes Perkuat SDM Kesehatan Dukung Program Prioritas Presiden

Kementerian PANRB dan Kemenkes Perkuat SDM Kesehatan Dukung Program Prioritas Presiden

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:42 WIB

Bocoran Der Spiegel: AS Berencana Pangkas Drastis Kontribusi Militer untuk NATO

Bocoran Der Spiegel: AS Berencana Pangkas Drastis Kontribusi Militer untuk NATO

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:41 WIB

Misteri CCTV 'Gaib' di Kasus Andrie Yunus: Muncul Saat Rilis, Lenyap di Meja Hijau

Misteri CCTV 'Gaib' di Kasus Andrie Yunus: Muncul Saat Rilis, Lenyap di Meja Hijau

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:35 WIB

Fleksibilitas Kerja ASN Perkuat Budaya Kerja Profesional dan Berbasis Kinerja

Fleksibilitas Kerja ASN Perkuat Budaya Kerja Profesional dan Berbasis Kinerja

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:29 WIB

Gagah! Sapi Kurban 'Kelas Berat' 1 Ton Milik Prabowo Tiba di Masjid Istiqlal

Gagah! Sapi Kurban 'Kelas Berat' 1 Ton Milik Prabowo Tiba di Masjid Istiqlal

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:22 WIB

Siapa Prihatini Cs? Peneliti yang Diduga Tipu Pakar Dunia di Denmark Ternyata Bukan Dosen Lokal

Siapa Prihatini Cs? Peneliti yang Diduga Tipu Pakar Dunia di Denmark Ternyata Bukan Dosen Lokal

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 21:10 WIB

Skandal Riset Palsu Demi Travel Grant, UNY Benarkan Rivaldy dan Prihantini Adalah Alumni

Skandal Riset Palsu Demi Travel Grant, UNY Benarkan Rivaldy dan Prihantini Adalah Alumni

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 20:59 WIB

Pemkab Mojokerto Kucurkan Dana Rp7,5 Miliar untuk Insentif 6 Ribu Guru TPQ

Pemkab Mojokerto Kucurkan Dana Rp7,5 Miliar untuk Insentif 6 Ribu Guru TPQ

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 20:52 WIB