Dulu Dibuang Kini Diakui Pemerintah Tak Bersalah, Apa Itu Eksil 1965?

Farah Nabilla

Jum'at, 01 September 2023 | 13:01 WIB
Dulu Dibuang Kini Diakui Pemerintah Tak Bersalah, Apa Itu Eksil 1965?
Impian terakhir eksil 1965. (Youtube BBC Indonesia)

Suara.com - Eksil merupakan istilah serapan dari bahasa Inggris yang artinya pengasingan, terasing, atau dipaksa meninggalkan kampung halamannya. Istilah ini kerap dikaitkan dengan peristiwa masa lalu tahun 1965 di Indonesia. Situasi tersebut dikenal dengan Eksil 1965.

Eksil 1965 tengah menjadi perbincangan setelah Pemerintahan menawarkan soal kemudahan layanan imigrasi.

Terlebih ketika Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menegaskan bahwa para korban eksil 1965 yang dibuang ke luar negeri sebenarnya tak pernah melakukan ke negara Indonesia.

"Anda adalah warga negara, anda adalah pecinta negara kesatuan Republik Indonesia, dan anda tidak pernah bersalah kepada negara ini (Indonesia),” kata Mahfud dalam pertemuan dengan 10 korban eksil 1965 di Praha, Ceko yang disiarkan secara virtual (28/8/2023).

Lantas apa itu Eksil 1965?

Eksil 1965 merupakan orang yang diasingkan dampak dari peristiwa tersebut. Seseorang tersebut dipaksa meninggalkan kampung halamannya.
 
Alasannya pada saat itu, orang-orang tersebut sedang berada di luar negeri dalam rangka belajar atau menjadi delegasi negara untuk konferensi tingkat tinggi di negara sosialis. Pada tahun tersebut, Ir. Soekarno  mengirim pemuda untuk mewakili Indonesia.
 
Sayangnya, mereka tidak dapat kembali lantaran adanya tragedi 1965. Tragedi itu adalah pembantaian perwira tinggi militer RI yang berdampak adanya pembunuhan besar-besaran di beberapa wilayah Indonesia.
 
Mereka yang berada di luar tersebut akhirnya menjadi orang buangan. Sebab, fasilitas yang diberikan padanya dicabut.
 
Pada masa Orde Baru para pelajar dan delegasi tidak diakui pemerintah. Mereka bahkan dianggap sebagai komunis.
 
Hak kewarganegaraan mereka dihapus, paxpor tidak dapat digunakan untuk kembali ke Indonesia. Jika ada yang bernasil pulang, maka akan ditangkap dan diinterogasi.
 
Mereka yang memilih tidak kembali akhirnya hidup tanpa kewarganegaraan. Mereka menetap di Belanda, Kuba, Rumania, Albania, Yiongkok, Rusia, dan lain-lain.
 
Akhirnya karena eksil tersebut, mereka menetap dan hidup di negara tersebut. Mereka juga mengajukan kewarganegaraan di negara yang ditinggalinya.
 
Hingga kini, penyelesaian kasus eksil 1965 itu masih buntu. Pemerintah dalam upaya terbarunya yakni memberi tawaran kepada eksil berupa kemudahan pelayanan imigrasi bagi yang ingin kembali ke Indonesia.
 
Kendati tawaran itu muncul sebagai bentuk pemulihan hak kewarganegaraan, bagi sebagian eksil, upaya itu masih belum dapat memulihkan penderitaan mereka. Sebab, mereka harus mengalami status sebagai korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat.
 
Salah satu contoh sosok eksil 1965 yakni Sukrisno dan Siti Aminah. Sebelum 1965, Sukrisno merupakan sosok yang dekat dengan Ir. Soekarno dan bertugas mendirikan Kedutaan Besar RI di Rumania dan menjadi duta besar pertama di negara tersebut.
 
"Kemudian terjadi peristiwa September 1965 di Indonesia, bapak masih tetap menjadi duta besar. Kalau tak salah tahun 1966, bapak menyatakan tidak bisa mengikuti terus pemerintahan Orde Baru. Bapak tetap mengikuti dan berdiri di belakang Presiden Sukarno. Jadi ketika itu bapak meletakkan jabatan sebagai duta besar Indonesia untuk Vietnam," ungkap Siti Krisnowati atau Wati, putri tertua Sukrisno.
 
Saat pembantaian, Wati, adiknya berjumlah dua orang dan ibunya di Cikini, Jakarta baru saja pulang dari Rumania. Sang kakak tetap di Rumania untuk menyelesaikan studi. 
 
Ibu Wati akhirnya harus membawa keluarganya pergi ke Vietnam melalui China. Namun perang Vietnam berkecamuk dan keluarga diplomat diperintahkan pergi. Sukrisno akhirnya mengungsikan keluarganya ke China.
 
Beberapa saat kemudian Sukrisno meletakkan jabatannya karena tidak setuju dengan pembantaian massal. Penguasa Indonesia saat itu menilai Sukrisno persona non grata. 

Kontributor : Annisa Fianni Sisma

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Politisi Ini Sebut Tidak akan Ada Presiden dari Partai Golkar Hingga 2045; Sudah Dapat Kutukan Sejak Soeharto Turun

Politisi Ini Sebut Tidak akan Ada Presiden dari Partai Golkar Hingga 2045; Sudah Dapat Kutukan Sejak Soeharto Turun

News | Kamis, 31 Agustus 2023 | 01:00 WIB

Mahfud MD: Presiden Habibie itu Korban '65, Untung Ketemu Pak Harto

Mahfud MD: Presiden Habibie itu Korban '65, Untung Ketemu Pak Harto

News | Rabu, 30 Agustus 2023 | 11:03 WIB

Temui Eksil 65' di Eropa, Mahfud MD Jamin Hak Konstitusional: Anda Tak Punya Salah ke Negara

Temui Eksil 65' di Eropa, Mahfud MD Jamin Hak Konstitusional: Anda Tak Punya Salah ke Negara

News | Rabu, 30 Agustus 2023 | 10:43 WIB

Kunjungi Ceko, Menko Polhukam dan Menkumham Buka Lebar Peluang Repatriasi Korban Pelanggaran HAM Berat

Kunjungi Ceko, Menko Polhukam dan Menkumham Buka Lebar Peluang Repatriasi Korban Pelanggaran HAM Berat

Jogja | Selasa, 29 Agustus 2023 | 09:34 WIB

Kekayaan Soeharto Presiden RI ke-2, Pernah Jadi Orang Terkaya ke-6 di Dunia

Kekayaan Soeharto Presiden RI ke-2, Pernah Jadi Orang Terkaya ke-6 di Dunia

Your Say | Kamis, 24 Agustus 2023 | 10:20 WIB

Bakal Kunjungi Belanda dan Ceko Temui Eksil 65', Mahfud MD: Kami Tawari Pulang Banyak yang Tidak Mau

Bakal Kunjungi Belanda dan Ceko Temui Eksil 65', Mahfud MD: Kami Tawari Pulang Banyak yang Tidak Mau

News | Selasa, 22 Agustus 2023 | 19:00 WIB

Terkini

Cara Mengubah Tumpukan Data Menjadi Keputusan Bisnis yang Menguntungkan

Cara Mengubah Tumpukan Data Menjadi Keputusan Bisnis yang Menguntungkan

Bisnis | Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:44 WIB

Cetak 6 Gol dalam 6 Laga Bersama Persija, Shin Tae-yong Angkat Topi untuk Alexander Jeremejeff

Cetak 6 Gol dalam 6 Laga Bersama Persija, Shin Tae-yong Angkat Topi untuk Alexander Jeremejeff

Bola | Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:55 WIB

Sepatu Lari Buatan Lokal Unjuk Gigi di Berlin dan Chicago Marathon

Sepatu Lari Buatan Lokal Unjuk Gigi di Berlin dan Chicago Marathon

Sport | Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:43 WIB

Mantab! Tiga Atlet Muaythai Solo Tembus Semifinal Porprov 2026

Mantab! Tiga Atlet Muaythai Solo Tembus Semifinal Porprov 2026

Surakarta | Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:42 WIB

Sumsel Bidik Perdagangan Karbon di Tengah Krisis Karhutla, Sejauh Mana Kesiapannya?

Sumsel Bidik Perdagangan Karbon di Tengah Krisis Karhutla, Sejauh Mana Kesiapannya?

Sumsel | Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:27 WIB

Sepatu Futsal Lokal Tembus Dunia, Ortuseight Siapkan Enam Lini Jogosala Terbaru

Sepatu Futsal Lokal Tembus Dunia, Ortuseight Siapkan Enam Lini Jogosala Terbaru

Bola | Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:18 WIB

Dari Kekalahan ke Pesta Gol, Shin Tae-yong Ungkap Perubahan Persija Saat Hajar Arema FC

Dari Kekalahan ke Pesta Gol, Shin Tae-yong Ungkap Perubahan Persija Saat Hajar Arema FC

Bola | Rabu, 21 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Fadli Zon Terima Anugerah Mahottama Adibudaya Nusantara, Ini Alasan di Baliknya

Fadli Zon Terima Anugerah Mahottama Adibudaya Nusantara, Ini Alasan di Baliknya

News | Rabu, 21 Oktober 2026 | 22:59 WIB

WALHI Sumsel Soroti Dry Ice di Palembang, Minta Biaya dan Hasil Evaluasi Dibuka ke Publik

WALHI Sumsel Soroti Dry Ice di Palembang, Minta Biaya dan Hasil Evaluasi Dibuka ke Publik

Sumsel | Rabu, 21 Oktober 2026 | 22:53 WIB

Haji Isam Dikaitkan MSCI, Pakar Saham Minta Dibuktikan

Haji Isam Dikaitkan MSCI, Pakar Saham Minta Dibuktikan

Bisnis | Rabu, 21 Oktober 2026 | 22:50 WIB

×