40 Anak Tewas di Minab Akibat Serangan: Cerita Warga Iran saat Serangan

Dimas Sagita

Selasa, 03 Maret 2026 | 10:53 WIB
40 Anak Tewas di Minab Akibat Serangan: Cerita Warga Iran saat Serangan
Respons emosional warga Iran mencuat setelah serangan AS-Israel menyasar wilayah sipil. Tragedi di Minab menjadi potret kelam eskalasi konflik ini.

Suara.com - Sabtu (28/02) pagi, sekitar pukul 09:40 waktu setempat, warga Iran di beberapa kota melaporkan mendengar ledakan keras.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan orang-orang di dekat lokasi ledakan berlari panik. Suara teriakan dan tangisan bersahutan.

Pada saat yang sama, sebagian warga justru menarik napas lega. Mereka meyakini tumbangnya pemerintah Iran hanya dapat terjadi melalui intervensi militer, demikian dilaporkan BBC Persia.

Keesokan paginya, warga Iran bangun tidur dengan kabar besar, yaitu Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei tewas dalam serangan udara AS dan Israel yang dilancarkan semalam.

Kematiannya diumumkan pertama kali oleh Presiden AS, Donald Trump. Tak lama berselang, media pemerintah menyampaikan berita mengenai wafatnya sosok yang memimpin Iran selama lebih dari 36 tahun tersebut.

"Saya tidak percaya. Ini kabar baik yang begitu luar biasa sampai tidak tahu harus berbuat apa," kata seorang warga di ibu kota Teheran kepada BBC Persia.

"Saya tidak bisa tidur semalaman, saya hanya menunggu untuk memulai hari pertama tanpa Khamenei. Saya pikir Timur Tengah telah menjadi tempat yang lebih baik. Bahkan dunia telah menjadi tempat yang lebih baik sekarang."

Warga Iran lainnya juga mengekspresikan rasa bahagianya. Dalam satu video, seorang perempuan mengutarakan kelegaannya berkaitan dengan kediaman Khamenei yang runtuh dihantam serangan udara.

Klip lain menampilkan remaja di sekolah menari dan bernyanyi seakan merayakan serangan yang telah terjadi. Mereka juga bersuara, "Saya mencintai Trump."

baca juga

Banyak orang sebenarnya telah mengantisipasi kemungkinan serangan AS. Sejak Jumat (27/02) malam, antrean panjang mengular distasiun pengisian bensin. Para warga ibu kota Teheran juga mulai meninggalkan kota menuju utara, dekat Laut Kaspia, yang diyakini lebih aman.

Sejak serangan dimulai, Iran mengalami pemadaman internet yang hampir meliputi keseluruhan wilayah. Karena itu, sulit untuk menghubungi siapa pun di Iran.

Beberapa orang sempat berhasil mengakses internet menggunakan metode seperti satelit Starlink milik SpaceX dan jaringan pribadi virtual (VPN).

BBC berhasil menghubungi sejumlah sosok pro-pemerintah untuk berbicara mengenai situasi di Teheran terkini.

"Kami mendengar banyak ledakan. Saya tinggal di tengah Teheran," kata salah satu dari mereka kepada BBC Newshour.

"Semula, ini hari yang biasa sampai Amerika Serikat dan Israel mulai menyerang kota. Anak-anak kami pergi ke sekolah pada pagi hari. Kami harus pergi dan menjemput anak-anak."

Warga lainnya bercerita kepada program BBC Weekend bahwa dia mendengar pesawat tempur dan dua ledakan pada Sabtu (28/02) pagi dari kantornya di bagian utara kota. Suasana tegang dan ada dugaan perang di udara akan pecah.

Dia bilang banyak warga beramai-ramai berbelanja dan menimbun makanan kaleng.

Seorang waega Iran menuturkan kepada BBC Persia melalui Starlink bahwa ada pengamanan ketat di jalan-jalan menuju kompleks kantor petinggi pemerintah yang selama ini merupakan kantor Khamenei.

'Jaga anak-anak kami'

Sebelum pemadaman listrik dan putusnya jaringan internet, beberapa orang mengunggah pesan di media sosialsemacam wasiat apabila mereka meninggal dunia dalam serangan udara.

"Jika saya mati, jangan lupa bahwa kami pernah ada. Kami yang menentang serangan militer apa pun, kami yang akan menjadi sekadar angka dalam laporan korban tewas," tulis seorang warga Iran di media sosial.

Warganet lainnya menulis: "Sialan rezim diktator yang memicu perang ini. Kami sudah mengalami tiga perang."

Beberapa unggahan menyoroti kesulitan komunikasi dan kekhawatiran terhadap anak-anak yang terjebak dalam konflik.

"Internet hampir mati. Jika jaringan benar-benar terputus, ketahuilah kami bukan tentara untuk pemimpin mana pun, juga bukan korban tambahan," tulis warganet lain.

"Kami adalah manusia dan memiliki hak untuk hidup. Usahakan agar masa depan kami demokratis, tidak bergantung pada individu."

Seorang pengguna media sosial lain menulis: "Janji jika sesuatu terjadi pada kami, rawatlah anak-anak kami dan mohon perlakukan mereka dengan sangat, sangat baik. Katakan pada mereka bahwa kami telah melakukan segala yang kami bisa. Kami ikut dalam demonstrasi diam, kami memilih, kami bekerja sif ganda, kami menanggung penderitaan besar."

Menurut BBC Persia, banyak warga Iran yang mengalami salah satu penindasan paling berdarah terhadap warga sipil dalam sejarah modern sepanjang rezim ini bercokol. Mereka berkata kini menyambut perubahan rezim, meski itu harus terjadi melalui intervensi militer dan pembunuhan pejabat tinggi.

Akan tetapi, warga lain khawatir serangan udara saja bisa jadi tidak cukup untuk menggulingkan rezim.

Mereka khawatir rezim itu bisa bertahan dan bahkan menjadi lebih brutal terhadap rakyatnya sendiri.

Ketika momen unjuk rasa lebih dari sebulan lalu yang menewaskan ribuan orang, Trump telah mendorong warga Iran untuk terus berdemonstrasi dan menjanjikan bantuan akan segera datang.

Kini, beberapa warga Iran melaporkan menerima pesan teks yang berbunyi, "Bantuan telah datang" dan menyerukan agar orang-orang tetap di rumah dan mendesak pasukan rezim untuk meletakkan senjata mereka.

Namun, sentimen publik dapat berubah drastis jika warga sipil tewas dalam serangan tersebut.

Hal ini terjadi saat banyak warga Iran bereaksi marah setelah media pemerintah melaporkan serangan Israel terhadap sekolah perempuan yang menewaskan banyak orang (termasuk anak-anak) di Minab, wilayah selatan Iran. BBC belum dapat memverifikasi laporan mengenai jumlah kematian di sekolah tersebut.

Warga Iran yang tinggal di luar negeri dan menentang intervensi militer di Iran berkomentar: "Korban pertama perang ini adalah 40 anak-anak perempuan di Minab yang terkena serangan rudal. Apakah ini perang yang kalian dukung?"

Ketidakpercayaan yang mendalam terhadap rezim Iran, bagaimanapun, membuat laporan resmi sulit diterima oleh banyak orang. Beberapa warga Iran tetap menyalahkan rezim atas serangan tersebut.

Seorang pengguna media sosial menulis: "Bahkan jika rezim tidak secara langsung menargetkan sekolah, kematian anak-anak di Minab tetap menjadi tanggung jawab Republik Islam.

"Orang-orang tidak memiliki tempat berlindung, internet diputus, saluran telepon mati, dan tidak ada peringatan agar anak-anak tidak perlu berangkat sekolah dulu. Dalam kondisi ini, persyaratan minimum seharusnya adalah tinggal di rumah."

Sumber artikel cek disini
Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Kesaksian Warga & Turis Saat Serangan Iran ke UEA: Ini Bukan Dubai

Kesaksian Warga & Turis Saat Serangan Iran ke UEA: Ini Bukan Dubai

News | Selasa, 03 Maret 2026 | 10:45 WIB

Dunia Memanas: Rusia, China, dan Korea Utara Kutuk Serangan AS-Israel ke Teheran

Dunia Memanas: Rusia, China, dan Korea Utara Kutuk Serangan AS-Israel ke Teheran

News | Selasa, 03 Maret 2026 | 10:29 WIB

Kenapa Israel dan AS Menyerang Iran? Ini Kronologinya

Kenapa Israel dan AS Menyerang Iran? Ini Kronologinya

Lifestyle | Selasa, 03 Maret 2026 | 10:14 WIB

Terkini

Pelajar Palembang Viral Usai Pamer Revolver saat Konvoi, Ternyata Senpira Dibeli dari Facebook

Pelajar Palembang Viral Usai Pamer Revolver saat Konvoi, Ternyata Senpira Dibeli dari Facebook

Sumsel | Selasa, 18 Agustus 2026 | 23:58 WIB

Nama Bupati PALI Muncul di Kasus Suap Audit BPK, KPK Periksa Asgianto Sebagai Saksi

Nama Bupati PALI Muncul di Kasus Suap Audit BPK, KPK Periksa Asgianto Sebagai Saksi

Sumsel | Selasa, 18 Agustus 2026 | 23:43 WIB

Kondisi Terbaru Gunung Semeru, Enam Kali Erupsi dalam Sehari dan Masih Berstatus Siaga

Kondisi Terbaru Gunung Semeru, Enam Kali Erupsi dalam Sehari dan Masih Berstatus Siaga

Sumsel | Selasa, 18 Agustus 2026 | 23:32 WIB

Detik-detik Narapidana Narkoba Diborgol Usai Bebas karena Remisi 17 Agustus, Ada Apa?

Detik-detik Narapidana Narkoba Diborgol Usai Bebas karena Remisi 17 Agustus, Ada Apa?

Sumsel | Selasa, 18 Agustus 2026 | 23:22 WIB

Dedi Mulyadi Sindir Birokrasi Minta Dihormati: Rapat Habis Puluhan Juta, Tapi Rakyat Tetap Menderita

Dedi Mulyadi Sindir Birokrasi Minta Dihormati: Rapat Habis Puluhan Juta, Tapi Rakyat Tetap Menderita

Jabar | Selasa, 18 Agustus 2026 | 23:21 WIB

Koreksi Data Pidato Presiden: 6 Fakta Realitas Hidup Susanah, Kuli Kain Majun Asal Cileungsi Bogor

Koreksi Data Pidato Presiden: 6 Fakta Realitas Hidup Susanah, Kuli Kain Majun Asal Cileungsi Bogor

Jabar | Selasa, 18 Agustus 2026 | 23:16 WIB

Bantah Isu Pisah dari NKRI, Ini 6 Pesan Penting Sultan Banten ke-18 untuk Masyarakat

Bantah Isu Pisah dari NKRI, Ini 6 Pesan Penting Sultan Banten ke-18 untuk Masyarakat

Banten | Selasa, 18 Agustus 2026 | 23:08 WIB

Penerbangan Langsung Palembang-Bandung Kembali Hadir, Ini Jadwal dan Harga Tiket Citilink

Penerbangan Langsung Palembang-Bandung Kembali Hadir, Ini Jadwal dan Harga Tiket Citilink

Sumsel | Selasa, 18 Agustus 2026 | 23:03 WIB

Oknum Petugas Bandara Terlibat Penyelundupan 22 Kg Emas Batangan

Oknum Petugas Bandara Terlibat Penyelundupan 22 Kg Emas Batangan

Banten | Selasa, 18 Agustus 2026 | 22:58 WIB

Mati Lampu hingga 4 Jam, Cek Daftar Wilayah di Palembang yang Terdampak Pemadaman PLN

Mati Lampu hingga 4 Jam, Cek Daftar Wilayah di Palembang yang Terdampak Pemadaman PLN

Sumsel | Selasa, 18 Agustus 2026 | 22:50 WIB

×