Iran Ancam Hancurkan Kapal yang Lewati Selat Hormuz Tanpa Izin

Dimas Sagita

Jum'at, 10 April 2026 | 10:40 WIB
Iran Ancam Hancurkan Kapal yang Lewati Selat Hormuz Tanpa Izin
Angkatan Laut Iran mengeluarkan peringatan keras bagi semua kapal di perairan Teluk. Kapal yang melintas tanpa izin terancam akan ditargetkan dan dihancurkan.

Suara.com - Kapal-kapal di perairan Teluk telah menerima peringatan dari Angkatan Laut Iran bahwa kapal mana pun yang berupaya melintasi Selat Hormuz tanpa izin "akan ditargetkan dan dihancurkan", demikian dikonfirmasi perusahaan pialang pelayaran SSY kepada BBC Verify.

Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu dengan syarat Iran membuka lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengumumkan "selama periode dua minggu, jalur pelayaran aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan".

Namun, kenyataannya, sejak gencatan senjata disepakati, hanya sedikit kapal yang melintas selat penting tersebut.

Selat Hormuz menjadi titik fokus perang ASIsrael dengan Iran setelah Teheran memblokade selat yang lebarnya hanya sekitar 33 km pada titik tersempit.

Situasi selama lima pekan terakhir telah mengirim gelombang kejut ke seluruh perekonomian dunia. Harga minyak mentah naik drastis mengingat selat itu dilalui kapal-kapal pengangkut sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia.

Kapal-kapal pembawa bahan kimia yang diperlukan untuk memproses produk seperti mikrocip, farmasi, dan pupuk juga mengandalkan selat tersebut.

Meskipun harga minyak telah turun menyusul kabar gencatan senjata, para analis pelayaran memperingatkan saat ini lalu lintas maritim di Selat Hormuz sangat terbatas.

"Sebagian besar perusahaan pelayaran ingin mendapatkan rincian dan jaminan tentang apa yang sebenarnya diperlukan untuk melintas dan rincian tersebut belum tersedia," kata Lars Jensen dari Vespucci Maritime kepada BBC.

Berdasarkan analisis BBC Verify terhadap data pelacakan kapal dari MarineTraffic, hanya tiga kapal kargoNJ Earth, Daytona Beach, dan Hai Long 1yang telah melintasi Selat Hormuz sejak gencatan senjata diumumkan pada Selasa (07/04) malam hingga Rabu (08/04) pukul 20.00 WIB.

baca juga

Jumlah itu amat rendah jika dibandingkan dengan rata-rata 138 kapal per hari yang melintasi selat sebelum konflik dimulai pada 28 Februari.

BBC tidak mengetahui apakah tiga kapal yang melintas pada Rabu (08/04) merupakan hasil dari gencatan senjata, atau apakah mereka telah merencanakan perjalanan itu sebelumnya.

"Masih terlalu dini untuk menyimpulkan apakah hal ini mencerminkan pembukaan kembali yang lebih luas didorong gencatan senjata atau pengecualian yang telah disetujui sebelumnya," kata Ana Subasic dari perusahaan analis pelayaran Kpler.

"Belum ada yang benar-benar berubah," tambah Jensen.

Menurutnya, perlu waktu sebelum para awak kapal cukup percaya diri untuk menyeberang Selat Hormuz dengan aman.

Baca juga:

Hal senada diutarakan Richard Meade, pemimpin redaksi Lloyd's List.

Dia menekankan situasi saat ini merupakan masa yang "sangat berbahaya" bagi pemilik kapal yang masih menghadapi ketidakpastian sangat besar.

"Kami tahu Iran pada dasarnya masih mengendalikan selat, dan anggapannya pemilik kapal masih perlu meminta izin dari IRGC [Korps Garda Revolusi Islam] dan bagaimana mekanismenya masih belum jelas."

Analisis BBC Verify terhadap jalur yang diambil oleh tiga kapal tersebut menunjukkan mereka mengambil rute utara melalui selat dekat garis pantai Iran dan memasuki perairan teritorialnya.

Sebelum konflik, kapal-kapal biasanya mengambil rute yang lebih ke selatan melalui bagian tengah jalur perairan itu.

'Hampir 800 kapal terjebak'

Jika kapal-kapal kembali melintasi Selat Hormuz, Richard Meade memperkirakan kapal tanker yang bermuatan penuh akan menjadi yang pertama melintas.

"Sudah ada hampir 800 kapal yang terjebak di sana selama beberapa minggu. Sebagian besar kini bermuatan penuh, sehingga prioritasnya adalah mengeluarkan mereka," ujarnya.

Durasi gencatan senjatayang ditetapkan berlangsung dua minggujuga membawa ketidakpastian bagi kapal-kapal, kata Niels Rasmussen, analis pelayaran dari BIMCO.

"Saya ragu akan ada arus besar kapal masuk ke Teluk karena mereka tidak ingin mengambil risiko terjebak setelah periode dua minggu itu berakhir."

Ketidakpastian lain adalah kemungkinan ranjau laut, kata Thomas Kazakos, sekretaris jenderal International Chamber of Shipping.

"Kami perlu memastikan ada konfirmasi yang jelas bahwa keselamatan navigasi bagi kapal dan para pelaut telah disepakati," ujarnya kepada BBC Verify.

Pembayaran tol

Di luar kekhawatiran tersebut, kapal-kapal kemungkinan harus melakukan pembayaran kepada Iran agar bisa melintasi Selat Hormuz secara amanmenyusul laporan bahwa tol mungkin menjadi bagian dari kesepakatan gencatan senjata.

"Posisi negosiasi Iran tampaknya adalah bahwa kapal-kapal perlu membayar tol untuk melintasi selat dan perusahaan pelayaran juga akan ragu untuk membayar tol tersebut," kata Jensen.

Sejumlah negaratermasuk India, Malaysia, dan Filipinatelah meminta Iran agar kapal-kapal mereka dapat melintas.

Namun membayar tol dapat menghadirkan keruwetan bagi negara dan perusahaan pelayaran karena tindakan itu "mungkin justru melanggar sebagian sanksi AS terhadap Iran yang akan menimbulkan dampak lain bagi perusahaan pelayaran," tambah Jensen.

Beberapa tahun lalu, AS menerapkan sanksi ekonomi terhadap pemerintah Iran, sejumlah individu di Iran, dan entitasnya.

Pihak yang melakukan transaksi pembayaran kepada individu, perusahaan, dan organisasi di dalam daftar sanksi tersebut akan dikenai pelanggaran pidana, jelas James Turner, pengacara pelayaran dari Quadrant Chambers, kepada BBC Verify.

Karena itu, membayar tol kepada individu dan entitas di dalam daftar sanksi dikategorikan sebagai pelanggaran kecuali AS membuat pengecualian.

Meski sejauh ini belum banyak kapal yang melintasi Selat Hormuz, pasar bereaksi positif setelah gencatan senjata diumumkan.

Minyak Brent turun sekitar 13% menjadi US$94,80 per barel, sementara minyak yang diperdagangkan di AS turun lebih dari 15% menjadi US$95,75.

Namun, kata Meade, ekspektasi tetap perlu diredam.

"Harga minyak merespons karena ini merupakan pergerakan arah yang positif, tetapi saya tidak berpikir hal itu menunjukkan bahwa kita akan segera melihat 20% energi global mengalir kembali melalui jalur tersebut pada tingkat normal."

Reportase tambahan oleh Tamara Kovacevic

Sumber artikel cek disini
Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Blokade Selat Hormuz Masuki Fase Baru Usai Mojtaba Khamenei Muncul

Blokade Selat Hormuz Masuki Fase Baru Usai Mojtaba Khamenei Muncul

News | Jum'at, 10 April 2026 | 10:22 WIB

Iran Bakal Bombardir Israel Jika Tetap Langgar Gencatan Senjata di Lebanon: Waktu Hampir Habis!

Iran Bakal Bombardir Israel Jika Tetap Langgar Gencatan Senjata di Lebanon: Waktu Hampir Habis!

News | Jum'at, 10 April 2026 | 10:05 WIB

Donald Trump Peringatkan Iran Stop Pungutan di Selat Hormuz

Donald Trump Peringatkan Iran Stop Pungutan di Selat Hormuz

News | Jum'at, 10 April 2026 | 09:50 WIB

Terkini

Roemah Umara Kenalkan Ballroom Berkapasitas 600 Orang di Jakarta

Roemah Umara Kenalkan Ballroom Berkapasitas 600 Orang di Jakarta

Foto | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 05:00 WIB

Rayakan 10 Tahun di Indonesia, Big Bad Wolf Kembali Hadir 24 Jam di ICE BSD

Rayakan 10 Tahun di Indonesia, Big Bad Wolf Kembali Hadir 24 Jam di ICE BSD

Lifestyle | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 00:03 WIB

Spill Lagunya di SNADA Indonesia 2026, Anggun Dukung Inisiatif Sosial 3T: Mereka Tidak Sendiri

Spill Lagunya di SNADA Indonesia 2026, Anggun Dukung Inisiatif Sosial 3T: Mereka Tidak Sendiri

Entertainment | Kamis, 08 Oktober 2026 | 23:35 WIB

Rumah Perwira TNI di Cijantung Diduga Jadi Markas Judi Online

Rumah Perwira TNI di Cijantung Diduga Jadi Markas Judi Online

Video | Kamis, 08 Oktober 2026 | 23:05 WIB

RUU Pemilu 2029 Mulai Dibahas, DPR Buka Pintu Masukan Publik

RUU Pemilu 2029 Mulai Dibahas, DPR Buka Pintu Masukan Publik

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Imigrasi Sumut Petakan Risiko Hukum Penanganan Pengungsi

Imigrasi Sumut Petakan Risiko Hukum Penanganan Pengungsi

Sumut | Kamis, 08 Oktober 2026 | 22:53 WIB

Reses Bukan Hambatan DPR Tindaklanjuti Putusan MK soal Gibran

Reses Bukan Hambatan DPR Tindaklanjuti Putusan MK soal Gibran

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 22:53 WIB

2.399 Unit Huntap untuk Korban Bencana di Aceh Tamiang Ditargetkan Rampung 2026

2.399 Unit Huntap untuk Korban Bencana di Aceh Tamiang Ditargetkan Rampung 2026

Sumut | Kamis, 08 Oktober 2026 | 22:46 WIB

Kebakaran di Kawasan Pemukiman Padat Penduduk Kramat Pulo, 30 Mobil Damkar Dikerahkan

Kebakaran di Kawasan Pemukiman Padat Penduduk Kramat Pulo, 30 Mobil Damkar Dikerahkan

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 22:42 WIB

Tak Perlu Angket, DPR Bisa Gunakan Putusan MK sebagai Dasar Pemakzulan Gibran

Tak Perlu Angket, DPR Bisa Gunakan Putusan MK sebagai Dasar Pemakzulan Gibran

News | Kamis, 08 Oktober 2026 | 22:34 WIB

×