Penyerangan Tentara Israel ke Global Flotilla dan Jurnalis Indonesia Dianggap Pelanggaran Hukum Laut

Pebriansyah Ariefana

Selasa, 19 Mei 2026 | 07:07 WIB
Penyerangan Tentara Israel ke Global Flotilla dan Jurnalis Indonesia Dianggap Pelanggaran Hukum Laut
Blokade laut Israel memicu kecaman global setelah penangkapan ilegal ratusan relawan kemanusiaan di perairan Siprus. (Al Jazeera)
baca 10 detik
  • Militer Israel mengadang armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan internasional dekat Siprus.

  • Ratusan relawan perdamaian internasional ditahan secara ilegal di fasilitas penjara terapung Israel.

  • Turkiye mengutuk keras aksi pembajakan laut ini dan mendesak pembebasan seluruh warga sipil.

Suara.com - Penghadangan paksa terhadap armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla oleh militer Israel di perairan internasional memicu ketegangan geopolitik baru terkait legalitas blokade laut Gaza. Dalam kapal itu juga ada jurnalis asal Indonesia.

Aksi sepihak di wilayah zona selamat Siprus ini dinilai mengabaikan hukum maritim internasional demi mempertahankan isolasi total terhadap wilayah Palestina.

Operasi militer yang dilancarkan pada siang hari ini menandai eskalasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir terhadap upaya pengiriman bantuan kemanusiaan jalur laut. Sebanyak puluhan kapal yang membawa bantuan logistik dan ratusan aktivis dari berbagai negara dicegat secara agresif jauh sebelum memasuki wilayah konflik.

Ilustrasi tentara Israel di Gaza. [Ist]
Ilustrasi tentara Israel di Gaza. [Ist]

Pihak penyelenggara menyatakan kemarahan mendalam atas tindakan penangkapan relawan perdamaian yang dilakukan di luar yurisdiksi hukum Israel tersebut. Mereka menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk normalisasi pelanggaran hak asasi manusia di wilayah perairan bebas.

“Global Sumud Flotilla sedang diserang! Penjajah Israel sekali lagi secara ilegal dan keras mencegat armada internasional kapal kemanusiaan kami dan menculik sukarelawan kami.”

Laporan dari lapangan yang ditulis Al Jazeera, menunjukkan adanya penggunaan metode gangguan elektronik berskala besar untuk memutus rantai komunikasi antar-vessel di Laut Mediterania. Selain intervensi fisik, militer juga menggunakan frekuensi radio khusus untuk mengacaukan koordinasi navigasi armada sipil tersebut.

Kondisi ini diperparah dengan hilangnya kontak dengan salah satu kapal utama pembawa logistik kemanusiaan setelah didekati oleh kapal perang. Pihak otoritas hukum yang mendampingi misi menegaskan bahwa serbuan ini dilakukan saat seluruh kapal berada pada posisi yang aman dari hukum blokade sepihak.

“Armada kami berada di perairan internasional pada saat dimulainya agresi militer dan operasi terhadap armada kemanusiaan yang damai ini.”

Hingga saat ini, sinyal bahaya telah dikirimkan secara berkala karena posisi kapal masih berada dalam pengawasan wilayah penyelamatan darurat Siprus. Berdasarkan konvensi hukum laut PBB, negara terdekat memiliki tanggung jawab penuh untuk merespons ancaman keamanan di zona tersebut.

baca juga

Di sisi lain, pemerintah Israel bersikeras bahwa segala bentuk upaya penembusan jalur laut menuju Gaza akan ditindak secara tegas tanpa pengecualian. Pihak kementerian luar negeri mereka mengklaim tindakan ini sah demi menjaga perimeter keamanan wilayah perairan mereka.

“Mengubah arah dan segera kembali.”

Penangkapan ini memicu reaksi diplomatik yang luas, terutama setelah identitas sejumlah relawan yang ditahan mulai teridentifikasi oleh publik. Salah satu sosok yang dipastikan ikut ditangkap adalah seorang dokter yang juga merupakan kerabat dekat dari kepala negara Irlandia.

Kondisi para tahanan yang kini diinterogasi di pusat detensi terapung memicu kekhawatiran mendalam dari pihak keluarga dan komunitas internasional. Pemerintah Irlandia yang dikenal vokal terhadap isu Palestina langsung memantau ketat perkembangan kasus ini.

“Sangat menyedihkan mendengar kabar bahwa saudara perempuan saya dan dokter Margaret Connolly berada di antara mereka yang ditahan.”

Konflik seputar pengiriman bantuan ini berakar dari kebijakan blokade ketat yang diterapkan terhadap wilayah Gaza sejak tahun 2007 silam. Kebijakan tersebut secara konsisten menuai kritik tajam dari berbagai organisasi kemanusiaan dunia karena dampaknya yang merusak tatanan hidup warga sipil.

Bagi komunitas internasional, armada Global Sumud Flotilla merupakan simbol perlawanan damai terhadap hukuman kolektif yang mengisolasi jutaan jiwa. Namun bagi otoritas pertahanan, setiap pergerakan kapal menuju wilayah tersebut dianggap sebagai ancaman keamanan nasional yang harus dihentikan sejak awal.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kapal Berisi Jurnalis dan Relawan Indonesia Dibajak, Kemlu Kecam Keras Militer Israel

Kapal Berisi Jurnalis dan Relawan Indonesia Dibajak, Kemlu Kecam Keras Militer Israel

News | Senin, 18 Mei 2026 | 23:14 WIB

Kapal Global Sumud Flotilla Berisi Jurnalis dan Relawan Indonesia Dibajak Tentara Israel!

Kapal Global Sumud Flotilla Berisi Jurnalis dan Relawan Indonesia Dibajak Tentara Israel!

News | Senin, 18 Mei 2026 | 17:40 WIB

Dari Nakba 1948 hingga Reruntuhan Gaza: Kisah Pilu Pria Palestina yang Terusir dari Tanah Airnya

Dari Nakba 1948 hingga Reruntuhan Gaza: Kisah Pilu Pria Palestina yang Terusir dari Tanah Airnya

News | Senin, 18 Mei 2026 | 16:05 WIB

Terkini

Cara Menggunakan Lidah Buaya untuk Rambut Rontok, Simak 4 Langkahnya

Cara Menggunakan Lidah Buaya untuk Rambut Rontok, Simak 4 Langkahnya

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 08:47 WIB

4 Micellar Water Lokal Glycerin Jaga Skin Barrier agar Lembap Bebas Iritasi

4 Micellar Water Lokal Glycerin Jaga Skin Barrier agar Lembap Bebas Iritasi

Your Say | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 08:35 WIB

Terciduk Pesta Narkoba di Kamar Hotel Surabaya, 3 Anggota DPRD Jatim Cuma Direhab

Terciduk Pesta Narkoba di Kamar Hotel Surabaya, 3 Anggota DPRD Jatim Cuma Direhab

Jatim | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 08:33 WIB

7 Cara Cek Parfum Branded Ori atau Palsu, Perhatikan Kemasan hingga Wanginya

7 Cara Cek Parfum Branded Ori atau Palsu, Perhatikan Kemasan hingga Wanginya

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 08:31 WIB

Layanan Darurat Tangsel Siaga 112 Diingatkan Tak Jadi Ajang Prank

Layanan Darurat Tangsel Siaga 112 Diingatkan Tak Jadi Ajang Prank

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 08:30 WIB

Eks Penghulu Kampung di Siak Ditangkap Terkait Korupsi Dana Desa Rp400 Juta

Eks Penghulu Kampung di Siak Ditangkap Terkait Korupsi Dana Desa Rp400 Juta

Riau | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 08:29 WIB

BMW Angkut 50 Kg Sabu Rp50 Miliar Rontok di Bakauheni, 3 Kurir Tergiur Upah Rp300 Juta

BMW Angkut 50 Kg Sabu Rp50 Miliar Rontok di Bakauheni, 3 Kurir Tergiur Upah Rp300 Juta

Lampung | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 08:22 WIB

Krim Kelly Bisa Jadi Pengganti Foundation? Simak Klaim dan Cara Pakainya

Krim Kelly Bisa Jadi Pengganti Foundation? Simak Klaim dan Cara Pakainya

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 08:15 WIB

YesssCredit Catat Pembiayaan Rp5 T, Kota Kecil Mulai Jadi Mesin Pertumbuhan

YesssCredit Catat Pembiayaan Rp5 T, Kota Kecil Mulai Jadi Mesin Pertumbuhan

Bisnis | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 08:15 WIB

Keluarga Eks-Napiter Terjebak Stigma, Deradikalisasi Dinilai Tak Cukup Sasar Pelaku

Keluarga Eks-Napiter Terjebak Stigma, Deradikalisasi Dinilai Tak Cukup Sasar Pelaku

Jogja | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 08:14 WIB

×