Efek Domino Pertamax: Biaya Pangan Meroket, Keuntungan Agribisnis Amblas Digilas Logistik

Muhamad Yasir, Hiskia Andika Weadcaksana

Jum'at, 19 Juni 2026 | 10:11 WIB
Efek Domino Pertamax: Biaya Pangan Meroket, Keuntungan Agribisnis Amblas Digilas Logistik
Ilustrasi - Sektor agribisnis menghadapi ancaman kenaikan biaya yang dapat menekan keuntungan pelaku usaha dari hulu hingga hilir akibat melambungnya harga Pertamax. [Suara.com]
baca 10 detik
  • Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax per 10 Juni 2026 meningkatkan biaya operasional sektor agribisnis dari hulu hingga hilir.
  • Pelaku usaha terpaksa menekan margin keuntungan atau mengurangi ukuran produk agar harga tetap terjangkau oleh daya beli konsumen.
  • Pakar UGM menyarankan pemerintah memperkuat produksi domestik dan kemandirian pangan guna meminimalisir dampak fluktuasi harga terhadap perekonomian nasional.

Suara.com - Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax sejak 10 Juni 2026 dinilai bukan sekadar membebani pengguna kendaraan pribadi. Di balik lonjakan harga tersebut, sektor agribisnis disebut menghadapi ancaman kenaikan biaya yang dapat menekan keuntungan pelaku usaha dari hulu hingga hilir.

Dosen Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Hani Perwitasari, menilai kenaikan harga Pertamax berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas pangan yang masih sangat bergantung pada transportasi.

Menurutnya, tambahan biaya tidak hanya dirasakan produsen, tetapi juga pelaku distribusi hingga pedagang yang terlibat dalam rantai pasok pangan.

"Pasti dampaknya besar karena mobilitas pangan menggunakan transportasi yang membutuhkan BBM. Pada akhirnya biaya bertambah dan keuntungan pelaku usaha berkurang," kata Hani, Jumat (19/6/2026).

Hani menjelaskan dampak kenaikan BBM akan merambat ke seluruh mata rantai agribisnis, mulai dari proses produksi, penanganan pascapanen, distribusi, hingga pemasaran.

Sektor distribusi diperkirakan menjadi bagian yang paling rentan terkena imbas. Semakin jauh jarak pengiriman, semakin besar pula biaya tambahan yang harus ditanggung pelaku usaha.

"Di dalam rantai pemasaran atau value chain, mulai dari produksi, pascapanen, distribusi hingga pemasaran pasti terdampak dengan adanya kenaikan BBM ini," ungkapnya.

Namun, menurut Hani, kenaikan biaya operasional tidak selalu bisa langsung dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga produk. Banyak pelaku usaha justru berusaha mempertahankan daya beli masyarakat agar tidak kehilangan pasar.

Dalam kondisi seperti itu, berbagai strategi biasanya ditempuh, mulai dari menekan margin keuntungan, mengurangi ukuran produk, hingga melakukan efisiensi pada proses produksi dan distribusi.

baca juga

"Kadang lebih mudah mengurangi kualitas atau ukuran produk daripada langsung menaikkan harga karena pelaku usaha juga mempertimbangkan respons konsumen," tuturnya.

Ia mencontohkan pelaku usaha pengolahan kopi yang kini menghadapi kenaikan biaya produksi dari berbagai sisi. Meski demikian, mereka belum tentu dapat langsung menaikkan harga jual karena harus mempertimbangkan kemampuan konsumen membeli produk tersebut.

"Input produksi meningkat, tetapi pelaku usaha belum tentu bisa langsung menaikkan harga karena ada pertimbangan daya beli konsumen," tuturnya.

Daftar kenaikan harga BBM di Indonesia (Suara.com/AI)
Daftar kenaikan harga BBM di Indonesia (Suara.com/AI)

Di tengah tekanan biaya tersebut, Hani menilai pemerintah perlu memberikan dukungan yang tepat sasaran, terutama bagi kelompok masyarakat menengah ke bawah yang paling rentan terdampak gejolak harga.

Selain itu, ia menekankan pentingnya memperkuat produksi domestik dan mendorong kemandirian pangan agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasar global.

Menurutnya, semakin besar kemampuan memenuhi kebutuhan pangan dari dalam negeri, semakin kecil pula dampak gejolak harga internasional terhadap perekonomian nasional.

"Ketika kita semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap impor, maka pengaruh fluktuasi harga global juga dapat ditekan," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Harga Minyak Dunia Turun, Pemerintah Jelaskan Alasan Pertamax Belum Ikut Murah

Harga Minyak Dunia Turun, Pemerintah Jelaskan Alasan Pertamax Belum Ikut Murah

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 22:10 WIB

Mahasiswa Kembali Turun ke Jalan, Pimpinan DPR Siap Temui Massa Aksi Besok

Mahasiswa Kembali Turun ke Jalan, Pimpinan DPR Siap Temui Massa Aksi Besok

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 20:22 WIB

Bandingkan Prabowo dengan Hewan, Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Diadukan ke Bareskrim

Bandingkan Prabowo dengan Hewan, Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Diadukan ke Bareskrim

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 18:12 WIB

Terkini

16 Korporasi Disidik Kasus Karhutla Sumsel, Mengapa Identitasnya Belum Dibuka ke Publik?

16 Korporasi Disidik Kasus Karhutla Sumsel, Mengapa Identitasnya Belum Dibuka ke Publik?

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 23:02 WIB

Diduga Bakar Rumah Orang Tua, Perempuan 23 Tahun Diamankan Polisi

Diduga Bakar Rumah Orang Tua, Perempuan 23 Tahun Diamankan Polisi

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 23:02 WIB

Manfaatkan Potensi Lokal, Kelompok Ternak APTUR Kembangkan Usaha Perikanan dan Peternakan

Manfaatkan Potensi Lokal, Kelompok Ternak APTUR Kembangkan Usaha Perikanan dan Peternakan

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 22:53 WIB

Bank Sumsel Babel Perkuat Kepedulian Kesehatan Lewat CSR Operasi Mata

Bank Sumsel Babel Perkuat Kepedulian Kesehatan Lewat CSR Operasi Mata

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 22:22 WIB

Erick Thohir: Persaingan FIFA ASEAN Cup Makin Ketat, Indonesia Tak Boleh Anggap Remeh Lawan

Erick Thohir: Persaingan FIFA ASEAN Cup Makin Ketat, Indonesia Tak Boleh Anggap Remeh Lawan

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 22:17 WIB

Industri Mamin Tumbuh 7,04 Persen, MoreFood Expo 2027 Bidik Pasar Lebih Luas

Industri Mamin Tumbuh 7,04 Persen, MoreFood Expo 2027 Bidik Pasar Lebih Luas

Jabar | Selasa, 29 September 2026 | 22:13 WIB

Karhutla TNBS Jambi Tinggal 2 Kilometer dari Habitat Harimau, Api Belum Berhasil Dipadamkan

Karhutla TNBS Jambi Tinggal 2 Kilometer dari Habitat Harimau, Api Belum Berhasil Dipadamkan

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 22:13 WIB

Tak Sesuai Domisili, 1.900 Manajer Kopdes Ditempatkan Lintas Provinsi

Tak Sesuai Domisili, 1.900 Manajer Kopdes Ditempatkan Lintas Provinsi

Video | Selasa, 29 September 2026 | 22:00 WIB

Tips Memilih Sekolah dengan Padukan Fasilitas Akademik dan Pengembangan Karakter Siswa

Tips Memilih Sekolah dengan Padukan Fasilitas Akademik dan Pengembangan Karakter Siswa

Jakarta | Selasa, 29 September 2026 | 22:00 WIB

Petani PALI Tewas Ditembak di Kebun, Cekcok Pelepah Sawit Berujung Maut

Petani PALI Tewas Ditembak di Kebun, Cekcok Pelepah Sawit Berujung Maut

Sumsel | Selasa, 29 September 2026 | 21:57 WIB

×