- Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengancam akan keluar dari Partai Likud jika tuntutan perubahan sistem kandidat tidak dipenuhi.
- Netanyahu menuntut penambahan sebelas kursi khusus dalam daftar kandidat partai untuk memperkuat perolehan suara pemilu mendatang.
- Konflik internal terkait usulan tersebut menyebabkan komite konstitusi Partai Likud menunda pemilihan pendahuluan hingga 4 Agustus 2026.
Suara.com - Ketegangan politik mengguncang Israel setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu melontarkan pernyataan kontroversial dalam rapat internal Partai Likud.
Netanyahu menyebut bisa saja meninggalkan partai jika tuntutannya tidak dipenuhi.
Pernyataan itu muncul di tengah perdebatan panas terkait sistem pemilihan internal Likud menjelang pemilu berikutnya.
Netanyahu meminta penambahan signifikan kursi reserved slots dalam daftar kandidat partai.
“Saya perlu mengubah wajah partai dan membawa lebih banyak suara, karena itu saya menuntut 11 slot hingga peringkat ke-40,” ujar Netanyahu dilansir dari Channel 14.
![Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir melakukan tindakan provokasi dengan memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/13/63609-tamar-ben-gvir-dan-benjamin-netanyahu.jpg)
Namun, usulan itu ditolak oleh sejumlah petinggi partai.
Salah satu penentang utama adalah Haim Katz, yang menilai permintaan tersebut terlalu berlebihan dan sulit disetujui oleh struktur internal partai.
Perbedaan pandangan ini memperlihatkan retakan serius di tubuh Likud.
Dalam diskusi yang sama, Netanyahu melontarkan kalimat yang dianggap sebagai ancaman terselubung.
“Jika mereka tidak menginginkan saya, saya bisa saja bangkit dan pergi dengan kerangka saya sendiri,” katanya, meski disampaikan dalam nada bercanda.
Konflik ini berdampak langsung pada jadwal pemilihan internal.
Komite konstitusi Likud memutuskan menunda pemilihan pendahuluan (primary) hingga 4 Agustus 2026 setelah sebelumnya direncanakan pada akhir Juli.