- Israel menyatakan kekhawatiran bahwa perbaikan hubungan diplomatik Amerika Serikat dan Iran akan memperkuat posisi kelompok Hizbullah di Lebanon.
- Duta Besar Yechiel Leiter mengkritik pembentukan unit dekonfliksi AS yang dinilai membatasi ruang gerak militer Israel melawan Hizbullah.
- Israel menegaskan akan tetap mengambil tindakan sepihak demi menjaga keamanan nasional jika ancaman Hizbullah terus berkembang di kawasan.
Suara.com - Israel menyampaikan kekhawatiran atas perkembangan hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang belakangan menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Menurut pihak Israel, langkah yang bertujuan meredakan ketegangan di Timur Tengah tersebut berpotensi memberikan keuntungan bagi Hizbullah di Lebanon.
Sikap tersebut mengemuka dalam putaran kelima pembahasan mengenai situasi Lebanon yang berlangsung di Washington.
Israel menilai sejumlah poin dalam kesepahaman antara Washington dan Teheran dapat memengaruhi dinamika keamanan kawasan.
Israel khawatir perkembangan hubungan AS dan Iran dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi Hizbullah untuk memperkuat posisinya di Lebanon.
Duta Besar Israel Soroti Dampak Kesepakatan AS-Iran
![Serangan udara besar-besaran Israel mengguncang Lebanon dan menewaskan sedikitnya 254 orang hanya beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, Kamis (9/4). [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/09/18524-serangan-israel-ke-lebanon.jpg)
Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat, Yechiel Leiter, secara terbuka menyampaikan kritik terhadap arah pembicaraan terbaru tersebut.
"Kami semua mendukung visi Presiden Trump untuk memastikan bahwa Iran tidak lagi memiliki kemampuan nuklir, rudal balistik, atau kemampuan untuk menyalurkan dana kepada proksinya guna mengancam tetangganya dan mempertahankan hegemoni regional," ujar Leiter dikutip dari Times of Israel.
Namun, Presiden AS Donald Trump disebut tidak mendukung larangan penuh terhadap kepemilikan rudal balistik oleh Iran.
Trump berpendapat bahwa Iran memiliki hak untuk mempertahankan kemampuan tersebut selama negara-negara lain di kawasan juga memilikinya.
Israel juga menyoroti keputusan AS membentuk unit dekonfliksi baru dalam rangkaian negosiasi terkait Lebanon. Unit tersebut bertujuan mengurangi risiko eskalasi konflik di kawasan.
Kekhawatiran terhadap Hizbullah
Menurut Israel, mekanisme baru tersebut dapat membatasi ruang gerak militernya dalam menghadapi ancaman yang mereka kaitkan dengan Hizbullah.
Menanggapi langkah tersebut, Leiter kembali menyampaikan keberatannya.
"Saya khawatir konsep 'dekonfliksi' ini salah tempat," kata Leiter.