-
Pria asal Australia ditangkap di Bandara Bangkok atas dugaan pembunuhan remaja di Pattaya.
-
Polisi mengamankan bukti rekaman kamera pengawas yang memperlihatkan pelaku membawa koper berisi jasad.
-
Keluarga korban menuntut hukuman mati akibat tindakan keji mengeksploitasi anak bawah umur tersebut.
Suara.com - Pelarian seorang pria asal Australia yang diduga menghabisi nyawa remaja perempuan di Pattaya berakhir tragis di gerbang keberangkatan bandara. Korban yang baru berusia 17 tahun ditemukan tak bernyawa di dalam sebuah koper.
Langkah cepat kepolisian Thailand berhasil menjegal tersangka saat bersiap menaiki pesawat menuju negara asalnya. Penangkapan di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok ini mengungkap tabir kejahatan lintas negara yang memilukan.
Tragedi ini menyoroti kerentanan remaja lokal di pusat pariwisata yang kerap menjadi target eksploitasi oleh warga asing. Investigasi intensif langsung bergulir guna menyeret pelaku ke meja hijau.
![ilustrasi mayat. Hukum mendoakan orang mati bunuh diri dalam Islam. [pixabay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/07/20/91667-ilustrasi-mayat.jpg)
Otoritas keamanan mengidentifikasi tersangka pembunuhan sadis ini sebagai Simon Peter Carman, seorang turis paruh baya. Tuduhan berat kini berlapis di pundaknya, mulai dari pembunuhan hingga eksploitasi seksual anak.
Aparat bergerak setelah menganalisis rekaman kamera pengawas (CCTV) di area kondominium tempat korban terakhir terlihat. Rekaman tersebut memperlihatkan tersangka keluar sendirian sambil membawa sebuah koper besar.
Melalui akun media sosial resminya, polisi menyebut Carman membawa koper itu dengan sepeda motor menuju area rerumputan dekat jalur kereta api. Di sanalah jasad korban disembunyikan untuk menghilangkan jejak kejahatan.
Sebelum dipindahkan ke Pengadilan Provinsi Pattaya, pria berusia 40-an tahun ini sempat menyampaikan pesan singkat di ruang interogasi. Dia mengklaim situasi tersebut terjadi di luar kemampuannya.
“Saya merasa bersalah atas apa yang terjadi pada putri Anda. Itu di luar kendali saya,” kata Carman di hadapan penyidik.
Pernyataan dingin tersebut memicu luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan di pemukiman lokal. Ayah korban kini berjuang melewati masa-masa paling kelam dalam hidupnya.
Sang ayah, Thongchai Donhomla, mengenang putrinya sebagai sosok mandiri yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu kandung. Remaja itu selalu berusaha mencari jalan keluar mandiri demi meringankan beban keluarga.
“Saya sangat sedih. Putri saya tidak memiliki ibu, jadi kapan pun dia menginginkan sesuatu, dia akan mencari jalan sendiri, dan dia juga selalu membantu saya,” ujar Thongchai dengan penuh kedukaan.
Kepedihan serupa diungkapkan oleh ibu tiri korban, Oradee Bussarakum, yang menuntut keadilan tertinggi bagi pelaku. Dirinya mendesak aparat penegak hukum untuk menjatuhkan vonis maksimal tanpa ampun.
“Saya memberi tahu polisi bahwa saya ingin dia dieksekusi. Sebagai seorang ibu (tiri), saya tidak tahu harus berkata apa lagi … Saya hanya ingin dia menghadapi konsekuensi sepenuhnya,” tegas Oradee.
Hingga saat ini, pihak kepolisian belum merilis jadwal pasti persidangan perdana bagi warga negara Australia tersebut. Proses hukum masih terus berjalan guna melengkapi seluruh berkas dakwaan.
Pattaya yang berjarak sekitar 150 kilometer dari ibu kota Bangkok dikenal sebagai salah satu destinasi wisata utama di Thailand. Namun, kawasan ini juga menyimpan tantangan besar terkait pengawasan keamanan warga lokal dari ancaman kejahatan luar negeri.
Kasus pembunuhan remaja di dalam koper ini memicu desakan publik terhadap pengetatan aturan keimigrasian dan perlindungan anak di bawah umur. Pihak berwenang kini memperketat pengawasan di area-area rawan guna mencegah terulangnya tragedi serupa.