Cerita Korban Penjualan Tiket Spekulatif Piala Dunia 2026, Sudah Bayar Rp 107 Juta Tapi Zonk

Pebriansyah Ariefana

Kamis, 02 Juli 2026 | 13:52 WIB
Cerita Korban Penjualan Tiket Spekulatif Piala Dunia 2026, Sudah Bayar Rp 107 Juta Tapi Zonk
Sergio Enrique Alvarado Montalvo mengalami langsung kepahitan ini setelah menggelontorkan dana ribuan dolar demi memberi kejutan untuk ayahnya. (BBC)
baca 10 detik
  • Pembatalan sepihak tiket Piala Dunia 2026 di platform StubHub merugikan ribuan suporter internasional.

  • Praktik tiket spekulatif menjadi pemicu utama kekacauan yang berujung pada gugatan hukum massal.

  • Fifa dan StubHub saling lempar tanggung jawab terkait gangguan sistem transfer tiket digital.

Suara.com - Praktik manipulasi tiket di pasar sekunder telah menghancurkan impian ribuan suporter Piala Dunia 2026 untuk menyaksikan turnamen sepak bola terbesar di dunia secara langsung. Banyak keluarga kini terlantar di luar stadion setelah platform penjualan pihak ketiga membatalkan pesanan secara sepihak menjelang pertandingan dimulai.

Sistem penjualan tiket spekulatif menjadi akar masalah dari kekacauan masif yang melanda penyelenggaraan Piala Dunia kali ini. Penjual yang belum memiliki tiket resmi nekat memasang harga, lalu membatalkan transaksi saat harga pasar melonjak demi meraup untung lebih besar di tempat lain.

Kondisi ini memicu gugatan perwakilan kelompok (class action) dari para penggemar yang merasa tertipu oleh jaminan perlindungan konsumen platform tersebut. Mereka tidak hanya kehilangan tiket, tetapi juga menderita kerugian finansial yang besar akibat biaya akomodasi dan penerbangan yang hangus.

Ilustrasi antusiasme penonton Piala Dunia 2026, boleh FOMO? (Gemini AI)
Ilustrasi antusiasme penonton Piala Dunia 2026, boleh FOMO? (Gemini AI)

Sergio Enrique Alvarado Montalvo mengalami langsung kepahitan ini setelah menggelontorkan dana ribuan dolar demi memberi kejutan untuk ayahnya. Rencana bahagia menonton aksi Lionel Messi di Dallas berubah menjadi mimpi buruk saat tiket mereka mendadak hangus sehari sebelum keberangkatan.

"Saya sangat sedih dan sangat frustrasi, dan begitu dipenuhi kemarahan, amarah. Itu adalah campuran perasaan yang sulit dijelaskan," kata pria berusia 45 tahun tersebut kepada BBC.

Alih-alih bersorak di dalam stadion, Montalvo dan orang tuanya terpaksa menghabiskan malam pertandingan di area festival penonton lokal.

"Itu adalah akhir pekan yang sangat sedih... di dalam, di luar... [tapi] kami menikmati waktu bersama," tambah Montalvo.

Nasib serupa menimpa Eben Pingree yang berniat memberi kejutan bagi putranya yang berusia 11 tahun untuk laga Skotlandia melawan Haiti. Tiket yang dibeli sang istri lenyap pada hari pertandingan, membuat perjalanan panjang mereka berakhir dengan kekecewaan mendalam.

"Mereka pada dasarnya harus meninggalkan kami di sana, dan putra saya sangat hancur," ujar Pingree kepada BBC.

baca juga

Kekecewaan massal ini akhirnya bergulir ke ranah hukum melalui gugatan yang dilayangkan oleh Julie Reeker Moghal dan Reuben Renteria. Keduanya mewakili para korban yang kehilangan dana minimal 1.900 dolar AS per orang akibat tiket yang tidak pernah dikirimkan.

"[Penggemar] dibohongi dan membeli Tiket Piala Dunia dengan jumlah uang yang besar - hanya untuk menanggung kerugian finansial yang luar biasa," bunyi dokumen gugatan tersebut.

Langkah hukum ini dinilai sebagai titik terendah baru bagi industri penjualan tiket yang selama ini memang kerap bermasalah dengan perlindungan konsumen.

Krisis ini memicu aksi saling tuduh antara pihak StubHub selaku perantara dan Fifa selaku penyelenggara resmi turnamen. StubHub berdalih bahwa aplikasi tiket baru milik Fifa mengalami gangguan performa parah yang menghambat proses transfer tiket antar-platform.

Namun, Fifa segera membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa sistem digital mereka bekerja dengan sangat aman dan andal. Otoritas sepak bola dunia itu menyatakan tidak bertanggung jawab atas validitas tiket yang ditransaksikan di luar saluran resmi mereka.

Para pakar industri menilai platform penjualan sekunder tidak bisa terus berlindung di balik alasan gangguan teknis perangkat lunak.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Harry Kane Tempel Lionel Messi di Daftar Top Skor Piala Dunia 2026

Harry Kane Tempel Lionel Messi di Daftar Top Skor Piala Dunia 2026

Bola | Kamis, 02 Juli 2026 | 13:36 WIB

Romelu Lukaku Sanjung Karakter Kuat Belgia, Setan Merah OTW Tembus Final?

Romelu Lukaku Sanjung Karakter Kuat Belgia, Setan Merah OTW Tembus Final?

Your Say | Kamis, 02 Juli 2026 | 12:53 WIB

Kata-kata Thomas Tuchel Timnas Inggris Susah Payah Kalahkan Kongo, Disambar Gol Kilat

Kata-kata Thomas Tuchel Timnas Inggris Susah Payah Kalahkan Kongo, Disambar Gol Kilat

Bola | Kamis, 02 Juli 2026 | 12:40 WIB

Terkini

Negara Gagal Biayai Wajib Belajar, Anak Miskin Malah Disandera Ijazahnya

Negara Gagal Biayai Wajib Belajar, Anak Miskin Malah Disandera Ijazahnya

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 13:39 WIB

Viral! Patwal RI 21 Pepet Mobil Warga di Senayan, Pengemudi Protes Dipaksa Berhenti

Viral! Patwal RI 21 Pepet Mobil Warga di Senayan, Pengemudi Protes Dipaksa Berhenti

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 13:38 WIB

Plastik Terurai Jadi Partikel Makin Kecil: Mengapa Nanoplastik Kini Menjadi Perhatian Ilmuwan?

Plastik Terurai Jadi Partikel Makin Kecil: Mengapa Nanoplastik Kini Menjadi Perhatian Ilmuwan?

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 13:34 WIB

Alasan Presiden Belarus Menginap di Istana Negara, Prabowo Ingin Beri Penghormatan Khusus

Alasan Presiden Belarus Menginap di Istana Negara, Prabowo Ingin Beri Penghormatan Khusus

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 13:30 WIB

'Saling Membersamai', Roy Suryo Hadiri Sidang dr Tifa Usai Praperadilannya Ditunda

'Saling Membersamai', Roy Suryo Hadiri Sidang dr Tifa Usai Praperadilannya Ditunda

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 13:21 WIB

Janji! Amerika Tidak Serang Iran Lagi

Janji! Amerika Tidak Serang Iran Lagi

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 13:18 WIB

Skandal Izin Hutan Kuansing, Pukat UGM Minta KPK Telusuri Dugaan Suap hingga Kementerian

Skandal Izin Hutan Kuansing, Pukat UGM Minta KPK Telusuri Dugaan Suap hingga Kementerian

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 13:02 WIB

Sambutan Istimewa untuk Presiden Belarus, Dari Pasukan Berkuda hingga Bermalam di Istana Negara

Sambutan Istimewa untuk Presiden Belarus, Dari Pasukan Berkuda hingga Bermalam di Istana Negara

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 12:27 WIB

Bupati Purwakarta Minta Maaf soal Lagu Lalaki Langit Viral, Sebut Tak Bermaksud Rendahkan Wanita

Bupati Purwakarta Minta Maaf soal Lagu Lalaki Langit Viral, Sebut Tak Bermaksud Rendahkan Wanita

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 12:15 WIB

Prancis Dilanda Kebakaran Hebat, Lahan 700 Hektare Terbakar saat Cuaca Ekstrem

Prancis Dilanda Kebakaran Hebat, Lahan 700 Hektare Terbakar saat Cuaca Ekstrem

News | Kamis, 02 Juli 2026 | 12:15 WIB

×