- Pejabat Prancis Audrey Pulvar mengkritik warga Amerika Serikat atas kontribusi emisi gas rumah kaca terhadap pemanasan global.
- Gelombang panas ekstrem di Prancis sejak akhir Juni 2026 telah menyebabkan sedikitnya 1.300 kematian, terutama kelompok lansia.
- Perubahan iklim menjadi penyebab utama fenomena suhu panas bersejarah yang melanda wilayah Eropa dengan intensitas sangat mematikan.
Suara.com - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa memicu polemik baru setelah seorang pejabat Prancis menyalahkan warga Amerika Serikat dan penggunaan pendingin udara (AC) atas krisis tersebut.
Suhu yang menembus lebih dari 40 derajat Celsius dilaporkan telah menyebabkan sedikitnya 1.300 kematian berlebih di Prancis sejak akhir Juni 2026.
Wakil Wali Kota Paris untuk hubungan internasional, Audrey Pulvar, melontarkan kritik tajam kepada warga Amerika.
Ia menilai tingginya emisi gas rumah kaca dari AS, termasuk penggunaan AC secara masif, turut berkontribusi terhadap pemanasan global yang memicu gelombang panas.
“Sebagai salah satu penghasil emisi terbesar di dunia, Anda memikul tanggung jawab besar atas pemanasan global dan dampaknya yang kami rasakan di Prancis,” tulis Pulvar di media sosial.
![Gelombang panas ekstrem melanda wilayah timur laut Amerika Serikat, dengan Central Park, New York, mencatat suhu mendekati 38 derajat Celsius. [NY Post]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/03/31442-suhu-panas-di-new-york.jpg)
Ia juga menegaskan bahwa kota-kota di Amerika yang hampir sepenuhnya bergantung pada AC tidak lepas dari masalah tersebut.
Pernyataan itu muncul setelah sejumlah turis Amerika mengejek minimnya fasilitas AC di Prancis saat suhu mencapai 104 derajat Fahrenheit.
Pulvar membalas kritik tersebut dengan meminta warga Amerika berhenti menggurui dan mulai bertindak.
Prancis sendiri dikenal relatif lambat dalam mengadopsi pendingin udara, dengan hanya sekitar 25 persen rumah tangga yang memilikinya.
Faktor lingkungan, budaya, serta regulasi bangunan menjadi alasan utama rendahnya penggunaan AC di negara tersebut.
Namun, perubahan iklim yang semakin ekstrem mulai mengubah situasi.
Musim panas yang kian panas membuat kebutuhan akan pendingin udara meningkat, meski tetap menuai perdebatan terkait dampak lingkungannya.
Badan kesehatan publik Prancis melaporkan sebagian besar korban meninggal merupakan kelompok lanjut usia.
Otoritas setempat memperingatkan jumlah korban bisa terus bertambah seiring berlanjutnya suhu ekstrem.
Para ilmuwan menyebut gelombang panas kali ini sebagai salah satu yang terburuk dalam sejarah Eropa.
Laporan World Weather Attribution bahkan menegaskan bahwa fenomena ini hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim.
Kondisi saat ini melampaui gelombang panas mematikan pada 2003 yang menewaskan sekitar 15.000 orang di Prancis.