Papua Bukan Tanah Kosong! Masyarakat Adat Nabire Tolak Tambang dan Pembanguna Pos Militer

Muhamad Yasir

Senin, 10 Agustus 2026 | 16:47 WIB
Papua Bukan Tanah Kosong! Masyarakat Adat Nabire Tolak Tambang dan Pembanguna Pos Militer
Aksi masyarakat adat Meepago di halaman Kantor DPRD Provinsi Papua Tengah. [wagadei.id]
baca 10 detik
  • Masyarakat adat Meepago menggelar aksi damai di Kantor DPRD Papua Tengah.
  • Massa menolak klaim tanah sepihak oleh TNI, rencana proyek militer, aktivitas tambang ilegal, serta proyek strategis nasional.
  • Mereka menuntut penghentian intimidasi aparat dan mendesak pemerintah menindak perusahaan yang beroperasi tanpa persetujuan warga.

Suara.com - Masyarakat adat Meepago di wilayah Siriwo, Mapia, Piyaiye, Topo, dan Wanggar atau Simapitowa, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, menyatakan penolakan terhadap klaim sepihak atas tanah adat, rencana penempatan fasilitas militer, kegiatan pertambangan, hingga proyek strategis nasional atau PSN yang dinilai berlangsung tanpa persetujuan masyarakat adat.

Penolakan tersebut disampaikan Front Peduli Manusia dan Alam Meepago Wilayah Simapitowa saat menggelar aksi damai di halaman Kantor DPRD Provinsi Papua Tengah, Minggu (9/8/2026).

Penanggung jawab aksi, Musa Boma Mapia, mengatakan masyarakat adat menolak klaim atas tanah seluas sekitar 195.885 hektare di wilayah Siriwo yang disebut sebagai bagian dari kawasan kelola masyarakat adat.

“Kami menolak dengan tegas segala bentuk klaim sepihak oleh pihak TNI terhadap tanah dusun milik Bapak Tobias Tagi seluas kurang lebih 195.885 hektare di kawasan hutan wilayah Siriwo,” kata Musa dikutip dari wagadei.id.

Menurut Musa, persoalan tersebut berkaitan dengan dugaan penodongan dan pemaksaan terhadap Tobias Tagi, Kepala Dusun di Distrik Siriwo, terkait klaim atas tanah tersebut.

Masyarakat adat juga meminta pencabutan papan nama dan seluruh bentuk klaim di titik KM 95 dan KM 102 wilayah Siriwo.

Selain persoalan tanah, Simapitowa menolak segala rencana maupun kegiatan pertambangan emas, pembangunan pos militer, serta rencana pembangunan Markas Komando Daerah Militer di wilayah adat Meepago.

Wilayah yang dimaksud meliputi kawasan KM 21, Degeidimi, Uta hingga Wosokunu.

“Tanah adat Meepago di wilayah Simapitowa bukan tanah kosong, tetapi ada tuan dan pemiliknya, yaitu masyarakat adat Tota Mapihaa atau Simapitowa,” ujarnya.

baca juga
Front Peduli Manusia dan Alam Meepago Wilayah Simapitowa menolak pengiriman pasukan militer, baik organik maupun non-organik. [wagadei]
Front Peduli Manusia dan Alam Meepago Wilayah Simapitowa menolak pengiriman pasukan militer, baik organik maupun non-organik. [wagadei]

Front Peduli Manusia dan Alam Meepago Wilayah Simapitowa juga menolak pengiriman pasukan militer, baik organik maupun non-organik, ke wilayah tersebut.

Mereka meminta Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan Pemerintah Kabupaten Nabire menghentikan dan menindak 138 perusahaan yang disebut beroperasi secara ilegal di wilayah Simapitowa.

Selain itu, dua kapal pengeruk emas yang beroperasi di Kali Bumi dan KM 105 juga diminta menghentikan aktivitasnya.

Koordinator lapangan aksi, Dodipai Gabou, mengatakan dugaan penodongan terhadap Tobias Tagi menjadi salah satu pemicu masyarakat adat mengeluarkan pernyataan sikap tersebut.

Masyarakat adat menuntut TNI dan Polri menghentikan segala bentuk intimidasi, teror, dan kriminalisasi terhadap kepala dusun, kepala suku, pemuda, serta masyarakat adat Simapitowa.

Mereka juga menegaskan setiap investasi nasional maupun internasional yang masuk ke wilayah Simapitowa harus mendapatkan persetujuan masyarakat adat melalui prinsip Free, Prior and Informed Consent atau FPIC.

Simapitowa turut menyatakan penolakan terhadap proyek strategis nasional yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat adat dan berpotensi merusak lingkungan serta merampas hak hidup warga.

Front Peduli Manusia dan Alam Meepago Wilayah Simapitowa mengancam akan melakukan mobilisasi massa besar-besaran apabila tuntutan tersebut tidak ditanggapi dan ditindaklanjuti oleh pemerintah.

“Jangan pandang Papua sebagai tanah kosong, karena tanah Papua adalah warisan leluhur dari nenek moyang kami. Tanah adalah Ibu, alam adalah Kehidupan,” pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Panglima TNI Pastikan HUT RI Aman, Personel Disiapkan di Berbagai Wilayah

Panglima TNI Pastikan HUT RI Aman, Personel Disiapkan di Berbagai Wilayah

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 15:51 WIB

Kapal dari Teluk Thailand Bawa 1,3 Ton Ketamine, Disembunyikan di Ruang Rahasia ABK

Kapal dari Teluk Thailand Bawa 1,3 Ton Ketamine, Disembunyikan di Ruang Rahasia ABK

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 10:46 WIB

Pelibatan TNI di Kopdes Merah Putih Dikritik, Sistem Komando Tak Cocok untuk Koperasi

Pelibatan TNI di Kopdes Merah Putih Dikritik, Sistem Komando Tak Cocok untuk Koperasi

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 21:23 WIB

Terkini

Murka Rumah Tangganya Hancur, Pria di Tulungagung Nekat Bakar Habis Mobil Selingkuhan Istri

Murka Rumah Tangganya Hancur, Pria di Tulungagung Nekat Bakar Habis Mobil Selingkuhan Istri

Jatim | Sabtu, 12 September 2026 | 10:33 WIB

Gempa M 5,9 Guncang Jakarta: Perjalanan KRL Sempat Dihentikan

Gempa M 5,9 Guncang Jakarta: Perjalanan KRL Sempat Dihentikan

News | Sabtu, 12 September 2026 | 10:30 WIB

Ulasan Novel Sang Pemanah: Menemukan Makna Hidup dari Sebuah Anak Panah

Ulasan Novel Sang Pemanah: Menemukan Makna Hidup dari Sebuah Anak Panah

Your Say | Sabtu, 12 September 2026 | 10:30 WIB

3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian

3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian

Otomotif | Sabtu, 12 September 2026 | 10:25 WIB

Audiensi Berujung Ricuh: Anggota DPRD Malang Masuk RS Usai Diseruduk Warga

Audiensi Berujung Ricuh: Anggota DPRD Malang Masuk RS Usai Diseruduk Warga

Malang | Sabtu, 12 September 2026 | 10:24 WIB

IU Bahas Menua Bersama Yoo In Na di Lagu Comeback, Dear my crazy soulmate

IU Bahas Menua Bersama Yoo In Na di Lagu Comeback, Dear my crazy soulmate

Your Say | Sabtu, 12 September 2026 | 10:23 WIB

BCA Syariah Hadirkan Program Jemput Berkah di BCA Expo 2026, Dorong Inklusi Keuangan Syariah

BCA Syariah Hadirkan Program Jemput Berkah di BCA Expo 2026, Dorong Inklusi Keuangan Syariah

Bisnis | Sabtu, 12 September 2026 | 10:21 WIB

Gempa Guncang Laut Jakarta, Kenapa Tidak Terasa di Wilayah Ibu Kota?

Gempa Guncang Laut Jakarta, Kenapa Tidak Terasa di Wilayah Ibu Kota?

News | Sabtu, 12 September 2026 | 10:20 WIB

Masa Depan Industri Kecantikan: Saat AI dan Analisis Kulit 3D Ubah Cara Klinik Gaet Pasien

Masa Depan Industri Kecantikan: Saat AI dan Analisis Kulit 3D Ubah Cara Klinik Gaet Pasien

Lifestyle | Sabtu, 12 September 2026 | 10:15 WIB

Mark Lee Ungkap Arti Cinta Sejati di Lagu Comeback Solo Terbaru, My Friend

Mark Lee Ungkap Arti Cinta Sejati di Lagu Comeback Solo Terbaru, My Friend

Your Say | Sabtu, 12 September 2026 | 10:15 WIB

×