Fakta Pahit: Belanda Akui Kemerdekaan Indonesia tapi Ogah Kembalikan Utang Rp500 T

Galih Prasetyo

Senin, 17 Agustus 2026 | 10:20 WIB
Fakta Pahit: Belanda Akui Kemerdekaan Indonesia tapi Ogah Kembalikan Utang Rp500 T
Pekerja menyelesaikan mural bertemakan Proklamasi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pondok Aren 02, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (22/7/2020). [Suara.com/Angga Budhiyanto]
baca 10 detik
  • Ingo Piepers menulis artikel opini di De Volkskrant pada 16 Agustus 2026 mengenai konsistensi pengakuan kemerdekaan Indonesia.
  • Indonesia telah membayar hampir empat miliar gulden kepada Belanda berdasarkan hasil Konferensi Meja Bundar tahun 1949.
  • Penulis mengusulkan agar Belanda mengembalikan dana yang telah dibayarkan Indonesia sebagai koreksi atas situasi pascakolonial.

Suara.com - Pemerintah Belanda kembali menjadi sorotan terkait sejarah pengakuan kemerdekaan Indonesia.

Sebuah opini yang diterbitkan De Volkskrant mempertanyakan konsistensi Belanda setelah mengakui 17 Agustus 1945 sebagai tanggal kemerdekaan Indonesia, namun tetap mempertahankan konsekuensi finansial dari kesepakatan pascakemerdekaan.

Opini berjudul Nederland erkent de Indonesische onafhankelijkheid, maar schermt de rekening af atau “Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia, tetapi menutup rekening” ditulis Ingo Piepers dan diterbitkan pada 16 Agustus 2026.

Piepers menyoroti pernyataan mantan Perdana Menteri Belanda Mark Rutte di parlemen pada 14 Juni 2023. Saat itu, Rutte menyatakan, Belanda mengakui 17 Agustus secara penuh dan tanpa syarat.

Namun, menurut Piepers, juru bicara pemerintah Belanda kemudian memberikan batasan bahwa pengakuan tersebut tidak berlaku untuk persoalan hukum.

Jokowi bersama PM Belanda Mark Rutte yang Disebut Mirip Dr. Strange (Twitter/@jokowi)
Jokowi bersama PM Belanda Mark Rutte yang Disebut Mirip Dr. Strange (Twitter/@jokowi)

Artinya, kontrak dan tindakan yang berlangsung selama periode 1945-1949 tidak otomatis berubah akibat pengakuan tersebut.

Persoalan utama yang diangkat dalam opini tersebut adalah pembayaran hampir 4 miliar gulden dari Indonesia kepada Belanda setelah pengakuan kedaulatan.

Pembayaran tersebut merupakan bagian dari penyelesaian yang disepakati dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949.

Indonesia pada akhirnya menanggung beban finansial yang berasal dari pengaturan utang Hindia Belanda.

baca juga

Dalam tulisan tersebut disebutkan, Belanda awalnya meminta Indonesia mengambil alih utang negara Hindia Belanda hingga 1949 sebesar 6,1 miliar gulden.

Di dalam angka tersebut terdapat sekitar 3,5 miliar gulden yang dikaitkan dengan biaya perang.

Delegasi Indonesia menolak tuntutan tersebut. Ekonom Sumitro Djojohadikusumo, ayah dari Presiden Prabowo Subianto, bahkan menghitung bahwa secara keseluruhan Belanda justru memiliki kewajiban sekitar 500 juta gulden kepada Indonesia.

Indonesia kemudian menawarkan pembayaran 2,6 miliar gulden yang disebut berasal dari utang sebelum Perang Dunia II. Namun, tawaran tersebut ditolak Belanda.

Kompromi akhirnya muncul melalui mediator Amerika Serikat, Merle Cochran, dengan angka 4,5 miliar gulden.

Wakil Presiden Mohammad Hatta disebut menyetujui kesepakatan tersebut dengan berat hati.

Indonesia Bayar Hampir 4 Miliar Gulden

Indonesia menjalankan kewajiban tersebut selama beberapa tahun.

Ketika pembayaran dihentikan pada 1956, masih terdapat sekitar 650 juta gulden yang belum dibayarkan.

Dengan demikian, Indonesia disebut telah membayar hampir 4 miliar gulden selama enam tahun.

Piepers mempertanyakan apakah pembayaran tersebut masih layak dipertahankan Belanda setelah negara tersebut secara resmi mengakui 17 Agustus 1945 sebagai tanggal kemerdekaan Indonesia.

Konferensi Meja Bundar (Arsip Nasional Belanda via Wikimedia Commons)
Konferensi Meja Bundar (Arsip Nasional Belanda via Wikimedia Commons)

Menurut perhitungannya, nilai hampir 4 miliar gulden yang dibayarkan Indonesia jika disesuaikan dengan indeks harga konsumen Belanda hingga 2026 mencapai sekitar 24 miliar euro atau setara Rp500 triliun. 

Angka tersebut belum memasukkan bunga maupun potensi keuntungan investasi yang hilang.

Dibandingkan dengan Marshall Plan

Opini tersebut juga membandingkan pembayaran Indonesia dengan bantuan Marshall Plan yang diterima Belanda setelah Perang Dunia II.

Belanda menerima sekitar 1,127 miliar dolar AS melalui Marshall Plan.

Jika menggunakan nilai tukar pada masa tersebut, jumlah itu setara dengan sekitar 4,3 miliar gulden.

Dalam periode pascaperang yang sama, Indonesia membayar hampir 4 miliar gulden kepada Belanda.

Piepers menilai kedua aliran dana tersebut memiliki arah yang sangat berbeda dalam konteks sejarah masing-masing negara.

Marshall Plan menjadi bagian penting dalam narasi pembangunan kembali Belanda setelah perang.

Sementara itu, aliran dana dari Indonesia disebut kurang mendapat tempat dalam narasi sejarah Belanda.

Perdebatan soal Kesepakatan KMB

Salah satu argumen yang muncul adalah Indonesia secara formal menyetujui kesepakatan tersebut.

Namun, Piepers mempertanyakan apakah persetujuan tersebut benar-benar dibuat dalam kondisi yang setara.

Menurutnya, tanda tangan dalam sebuah perjanjian tidak selalu menggambarkan pilihan yang tersedia bagi masing-masing pihak.

Kesepakatan tersebut, tulisnya, dibuat dalam situasi ketimpangan kekuasaan yang masih dipengaruhi warisan kolonial.

Piepers juga menyinggung Traktat Wassenaar 1966 yang mengatur sejumlah persoalan setelah nasionalisasi aset-aset Belanda di Indonesia.

Menurutnya, perjanjian tersebut tidak secara langsung menjawab persoalan mengenai dasar keadilan pengambilalihan utang yang disepakati dalam KMB 1949.

Pada akhir opininya, Piepers mengusulkan agar hampir 4 miliar gulden yang dibayarkan Indonesia dikembalikan kepada Indonesia.

Ia menilai pengembalian tersebut bukan sekadar bantuan pembangunan atau simbolis, melainkan bentuk koreksi terhadap kesepakatan yang dibuat dalam situasi pascakolonial.

“Permintaan maaf mendapatkan maknanya melalui tindakan yang mengikutinya,” demikian gagasan yang dikutip Piepers dari pernyataan Perdana Menteri Belanda Rob Jetten dalam peresmian Monumen Nasional Maluku.

Bagi Piepers, prinsip yang sama seharusnya diterapkan terhadap pengakuan kemerdekaan Indonesia.

Pengakuan sejarah, menurutnya, tidak cukup berhenti pada pernyataan politik, tetapi harus diikuti dengan tindakan nyata.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kenapa Pembawa Baki Bendera dan Paskibraka Ditentukan pada Hari H? Ini Alasannya

Kenapa Pembawa Baki Bendera dan Paskibraka Ditentukan pada Hari H? Ini Alasannya

Lifestyle | Senin, 17 Agustus 2026 | 10:01 WIB

Menteri Hukum ke Warga Aceh: Hari Ini Adalah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Kita Bersatu

Menteri Hukum ke Warga Aceh: Hari Ini Adalah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Kita Bersatu

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 10:00 WIB

Harga Pangan Rata-rata Naik di HUT RI, Cabai Rawit Hampir Rp100 Ribu/Kg

Harga Pangan Rata-rata Naik di HUT RI, Cabai Rawit Hampir Rp100 Ribu/Kg

Bisnis | Senin, 17 Agustus 2026 | 09:46 WIB

10 Promo 17 Agustus 2026 di Restoran Mal, Ada Paket Makan Hemat Rp45 Ribuan

10 Promo 17 Agustus 2026 di Restoran Mal, Ada Paket Makan Hemat Rp45 Ribuan

Lifestyle | Senin, 17 Agustus 2026 | 09:26 WIB

Makna Kelereng dan Karet Gelang di Souvenir Upacara HUT ke-81 RI di Istana

Makna Kelereng dan Karet Gelang di Souvenir Upacara HUT ke-81 RI di Istana

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 09:20 WIB

35 Ucapan HUT RI ke-81, Penuh Semangat dan Cocok Dibagikan di Media Sosial

35 Ucapan HUT RI ke-81, Penuh Semangat dan Cocok Dibagikan di Media Sosial

Lifestyle | Senin, 17 Agustus 2026 | 08:59 WIB

Terkini

Fakta Pahit: Belanda Akui Kemerdekaan Indonesia tapi Ogah Kembalikan Utang Rp500 T

Fakta Pahit: Belanda Akui Kemerdekaan Indonesia tapi Ogah Kembalikan Utang Rp500 T

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 10:20 WIB

Harga Emas Hari Ini di Butik Antam dan Pegadaian, 17 Agustus Kompak Menguat!

Harga Emas Hari Ini di Butik Antam dan Pegadaian, 17 Agustus Kompak Menguat!

Bisnis | Senin, 17 Agustus 2026 | 10:19 WIB

HUT ke-81 RI, BRI Gelar Promo Belanja Hemat Pakai QRIS BRImo di Indomaret

HUT ke-81 RI, BRI Gelar Promo Belanja Hemat Pakai QRIS BRImo di Indomaret

Bri | Senin, 17 Agustus 2026 | 10:06 WIB

5 Promo Minuman Matcha Spesial 17 Agustus 2026, Cukup Bayar Mulai Rp8 Ribuan

5 Promo Minuman Matcha Spesial 17 Agustus 2026, Cukup Bayar Mulai Rp8 Ribuan

Lifestyle | Senin, 17 Agustus 2026 | 10:05 WIB

Ayahku Dibunuh Massa, Hari Ini Ia Tak Ikut Upacara Kemerdekaan

Ayahku Dibunuh Massa, Hari Ini Ia Tak Ikut Upacara Kemerdekaan

Your Say | Senin, 17 Agustus 2026 | 10:05 WIB

4 Wilayah Riau Masih Dikepung Karhutla, Manggala Agni Dikerahkan

4 Wilayah Riau Masih Dikepung Karhutla, Manggala Agni Dikerahkan

Riau | Senin, 17 Agustus 2026 | 10:01 WIB

Kenapa Pembawa Baki Bendera dan Paskibraka Ditentukan pada Hari H? Ini Alasannya

Kenapa Pembawa Baki Bendera dan Paskibraka Ditentukan pada Hari H? Ini Alasannya

Lifestyle | Senin, 17 Agustus 2026 | 10:01 WIB

Main, Bertemu Satwa hingga Kulineran, Ini Cara Menikmati Seharian di Enchanting Valley

Main, Bertemu Satwa hingga Kulineran, Ini Cara Menikmati Seharian di Enchanting Valley

Lifestyle | Senin, 17 Agustus 2026 | 10:01 WIB

Hanya Gara-gara Rp10 Ribu! Eks Anggota DPRD Diduga Cekik dan Tampar Perempuan di Gym

Hanya Gara-gara Rp10 Ribu! Eks Anggota DPRD Diduga Cekik dan Tampar Perempuan di Gym

Lampung | Senin, 17 Agustus 2026 | 10:00 WIB

Bukan Diculik, tapi Diamankan: Keluarga Djiauw Kie Siong Luruskan Kisah Rengasdengklok

Bukan Diculik, tapi Diamankan: Keluarga Djiauw Kie Siong Luruskan Kisah Rengasdengklok

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 10:00 WIB

×