Suara.com - Asap kebakaran hutan selama ini sering dipandang sebagai salah satu pemicu pencemaran udara. Namun, berdasarkan dua studi terbaru justu membeberkan persoalannya tidak hanya pada seberapa banyak polusi itu terhirup, melainkan juga dari mana polusi tersebut berasal.
Melalui penelitian yang dilakukan oleh peneliti Icahn School of Medicine di Mount Sinai, paparan PM2.5 yang bersumber dari kebakaran hutan memiliki keterkaitannya dengan risiko kesehatan yang lebih besar dibandingkan PM2.5 dari sumber non-kebakaran pada tingkat paparan yang sama.
Untuk PM2.5 sendiri merupakan partikel udara berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk ke dalam paru-paru dan mencapai aliran darah.
Dalam dua studi yang dipublikasikasikan di The Lancet Oncology dan Nature Communications, para peneliti ini mengamati dampak jangka panjang terkait paparan PM2.5 dari kebakaran terhadap kesehatan manusia.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa asap kebakaran sangat memengaruhi terhadap peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan pernapasan, sekaligus memperlihatkan peluang bertahan yang lebih minim pada pasien kanker paru.
Asap Kebakaran Memperparah Risiko Kesehatan

Salah satu dari peneltian itu menganalisis sebanyak 414.016 pasien kanker paru berusia 65 tahun ke atas yang tercatat dalam basis data SEER-Medicare.
Hasilnya ditemukan bahwa paparan PM2.5 baik dari kebakaran maupun sumber lainnya sama-sama menyebabkan peningkatan risiko kematian setelah didiagnosis kanker paru.
Namun, ketika tingkat paparannya dibandingkan, PM2.5 yang bersumber dari kebakaran memperlihatkan risiko yang lebih parah.
Bahkan ada satu angka yang menarik perhatian. Tim peneliti memproyeksikan PM2.5 dari kebakaran hanya menyumbang sekitar 4 persen dari total PM2.5, tetapi bertanggung jawab atas sekitar 17 persen kematian yang berkaitan dengan total paparan tersebut.
Selain itu, semakin banyak hari dengan kondisi berasap dan semakin lama paparan asap tersebut beralngsung, akan memperparah hasil kemampuan bertahan yang ditemukan pada pasien.
"Pasien dengna kanker paru sudah secara medis itu rentan, dan temuan kami ini menunjukkan bahwa asap kebakaran dapat menempatkan mereka pada risiko yang lebih besar," kata salah satu peneliti, Min Zhang, dikutip dalam laman resmi Medical Xpress, Selasa (22/9).
Menurutnya, terjadinya peningkatan polusi udara akibat kebakaran membuat upaya mengurangi paparan asap ini berpotensi menjadi bagian yang semakin krusial dalam perawatan dan pendampingan pasien kanker.
Penulis senior dalam studi tersebut, Yaguang Wei, juga menilai pemantauan kualitas udara menjadi hal terpenting, khususnya bagi orang dengan kanker paru maupun penyakit jantung dan paru kronis.
"Memantau kualitas udara dan membatasi paparan selama asap ini terjadi mungkin sangat penting," ujar Wei.
Selain Paru-Paru, Jantung Ikut Terdampak
Dalam studi kedua ini lebih menyoroti pada hubungan antara paparan jangka panjang PM2.5 dari kebakaran dengan risiko rawat inap akibat penyakit kardiovaskular dan pernapasan.
Peneliti mencoba menganalisis catatan kesehatan penduduk di 20 negara bagian Amerika Serikat dalam periode 2006 hingga 2019. Dari data tersebut meliputi lebih dari 57 juta kasus rawat inap akibat penyakit kardiovaskular dan hampir 33 juta rawat inap akibat penyakit paru.
Paparan PM2.5 dari kebakaran ini sering dihubungan dengan peningkatan risiko rawat inap untuk berbagai kondisi, termasuk gagal jantung, penyakit jantung iskemik, hipertensi, asma, pneumonia, penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK, hingga gangguan pernapasan lainnya.
Namun, yang membedakan adalah peningkatan risiko tersebut secara konsisten lebih besar untuk PM2.5 yang bersumber dari kebakaran.
"Polusi akibat kebakaran dapat memengaruhi paru-paru dan sistem kardiovaskular dan dampaknya mungkin lebih kuat dibandingkan jumlah polusi yang sama dari lalu lintas, industri, dan sumber lainnya," jelas Zhang.
Tidak hanya itu, mereka juga menemukan hubungan yang lebih erat pada sejumlah kelompok, termasuk kelompok ras dan etnis minoritas, masyarakat di wilayah perkotaan, serta penduduk yang tinggal di kawasan dengan tingkat pendidikan lebih renda dan kondisi sosial ekonomi yang terbatas.
Kebakaran Hutan Jadi Tantangan Tersendiri dari Aspek Kesehatan
Dari temuan kedua studi tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara tidak cukup dipandang hanya berdasarkan jumlah PM2.5 yang melayang di udara. Ada sumber polutan yang seharusnya juga ikut diperhitungkan untuk menilai risiko kesehatan.
Wei menggarisbawahi asap kebakaran sekarang ini tidak bisa lagi dilihat hanya sebagai masalah lingkungan di wilayah tertentu.
Sejalan dengan melonjaknya aktivitas kebakaran, paparan asap turut menyasar kepada masyarakat yang bahkan berada jauh dari lokasi kebakaran.
"Perubahan aktivitas kebakaran membuat pemahaman terkait risiko kesehatan dari asap kebakaran ini menjadi semakin mendesak," ungkap Wei.
Meski demikian, peneliti masih terus mencari tahu kandungan kimia tertentu dalam asap kebakaran yang memicu kadar toksisitas jadi lebih tinggi.
Sebab, asap yang dihasilkan juga membawa risiko kesehatan yang perlu diperhitungkan, terutama ketika paparan itu berlangsung berulang kali dalam jangka panjang.
Penulis: Chairunisa