Suara.com - Kebakaran hutan yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra tak hanya mengancam kawasan hutan, tetapi juga habitat gajah Sumatra yang populasinya kian terdesak.
Ribuan titik panas terdeteksi di kawasan yang telah menjadi rumah bagi satwa tersebut sepanjang musim kebakaran tahun ini.
Kelompok konservasi Indonesia, Geopix, mencatat lebih dari 4.500 titik panas atau hotspot terdeteksi di 21 habitat gajah Sumatra sejak Juni hingga awal September. Bahkan dalam periode yang sama, lebih dari 560.000 hektare lahan ikut terbakar.
Kondisi tersebut berubah menjadi ancaman serius bagi gajah Sumatra, mengingat statusnya terancam punah membuat spesies gajah ini merupakan spesies paling langka di dunia. World Wildfire Fund (WWF) memproyeksikan hanya sekitar 2.400 hingga 2.800 gajah Sumatra yang tersisa hidup di alam liar.
Habitat Gajah Terus Terkikis
Rusaknya habitat gajah akibat kebakaran hutan membuat satwa tersebut kehilangan ruang hidup dan berkembang biak. Geopix menyorot kebakaran hutan ini mengakibatkan kehilangan, degradasi, serta fragmentasi habitat gajah Sumatra.
Senior wildfire campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, mendefinisikan dampak kebakaran terhadap habitat gajah Sumatra tahun ini sebagai kondisi yang "brutal".
Annisa melihat permasalahan tersebut bukan sekadar berhubungan erat dengan luas kawasan yang terbakar. Kebakaran turut mengubah kondisi ekologis yang dibutuhkan gajah untuk bertahan hidup.
"Secara ekologis, kebakaran menyebabkan hilangnya habitat, degradasi, dan fragmentasi," kata Annisa dikutip dalam laman resmi Phys.org, Selasa, (22/9).
Bahkan terfragmentasinya habitat ini membuat ruang hidup gajah menjadi semakin terdesak. Kondisi itulah yang kemudian berdampak pada berbagai kebutuhan dasar satwa, termasuk ketersediaan makanan dan air.
Annisa menambahkan bahwa kebakaran menyebabkan berkurangnya sumber makanan dan air bagi gajah. Perubahan kondisi habitat juga memengaruhi cara satwa tersebut beraktivitas di lingkungan alaminya.
"Berkurangnya sumber makanan dan air memengaruhi pola pergerakan gajah," imbuhnya.
Perubahan pola pergerakan ini telah menjadi persoalan tersendiri. Sebab, gajah membutuhkan habitat yang cukup luas untuk mencari sumber makanan dan air.
Ketika diketahui bahwa kawasan tersebut rusak atau terfragmentasi, satwa jadi harus menghadapi lingkungan yang tidak lagi sama dengan kondisi sebelumnya.
Banyaknya Hotspot Ditemukan di Habitat Gajah
Tekanan terhadap habitat gajah ikut tersorot dari adanya peningkatan jumlah hotspot dalam beberapa waktu terakhir.
Geopix melaporkan lebih dari 2.800 hotspot terdeteksi di habitat gajah pada minggu pertama September. Jumlah tersebut lebih dari dua kali lipat jika dibandingkan dengan 1.300 hotspot yang tercatat sepanjang Agustus.
Apabila dihitung sejak Juni hingga awal September, jumlah hotspot yang terdeteksi di 21 habitat gajah ini telah melampaui 4.500 titik.
Lonjakan tersebut terjadi ketika Indonesia masih mengalami gelombang kebakaran dan kabut asap di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan. Asapnya bahkan ikut menyebar hingga ke negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Hal ini berarti tekanan terhadap habitat gajah Sumatra terjadi ketika populasi tersebut sudah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Ancaman terhadap gajah tidak berhenti pada hilangnya habitat dan sumber makanan. Asap akibat kebakaran juga menjadi persoalan bagi satwa yang berada di sekitar kawasan terdampak.
Annisa bahkan memperingatkan bahwa paparan asap beracun dari kebakaran bisa memperparah tekanan fisiologis pada gajah.
"Paparan asap beracun dari kebakaran dapat meningkatkan stres fisiologis pada hewan," tekannya.
Selain hilangnya ruang hidup, gajah juga menghadapi tekanan terhadap sumber daya dan meningkatnya paparan asap dari kebakaran.
El Nino dan Degradasi Hutan
Kebakaran hutan di Indonesia biasanya mengalami peningkatan ketika memasuki musim kemarau yang berlangsung sekitar Juli hingga Oktober. Namun, kebakaran hutan tahun ini diperparah oleh fenomena El Nino.
Tak hanya kondisi cuaca, para pakar juga mengaitkan kebakaran dengan fenomena perubahan iklim, degradasi hutan selama beberapa dekade, serta praktik pembukaan lahan dengan cara ditebang dan dibakar.
Pemerintah Indonesia melaporkan lebih dari 202.000 hektare lahan terbakar secara nasional sepanjang Januari hingga Juli.
Sementara, Proyek Nusantara Atlas memprediksi luas lahan terbakar pada periode yang sama mendekati 300.000 hektare.
Bahkan pada pekan sebelumnya, Nusantara Atlas juga memperkirakan total area terdampak kebakaran hingga Agustus telah mendekati 896.000 hektare.
Bagi gajah Sumatra, semakin luasnya area yang terbakar berarti besar pula tekanan terhadap habitat mereka yang digunakan untuk memperoleh makanan, air, dan ruang beraktivitas.
Hutan terus terdegradasi dan terfragmentasi, satwa yang sudah berada dalam kondisi tertekan ini harus bertahan di habitat yang semakin terbatas.
Penulis: Chairunisa