BPDP Dorong Hilirisasi Komoditas Perkebunan untuk Perkuat Industri Pangan

Vania Rossa

Jum'at, 02 Oktober 2026 | 12:50 WIB
BPDP Dorong Hilirisasi Komoditas Perkebunan untuk Perkuat Industri Pangan
Ilustrasi Hilirisasi Komoditas Perkebunan. (Pixabay/nipananlifestyle)
baca 10 detik
  • Badan Pengelola Dana Perkebunan mendorong hilirisasi sawit, kakao, dan kelapa untuk memperkuat industri pangan domestik.
  • Kementerian Perindustrian menyatakan bahwa hilirisasi komoditas perkebunan merupakan strategi penting dalam transformasi struktur ekonomi nasional.
  • Badan Pengelola Dana Perkebunan membuka program pendanaan tahun 2026 yang dapat diikuti oleh berbagai lembaga penelitian dan badan usaha.

Suara.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mendorong pengembangan hilirisasi komoditas perkebunan untuk memperkuat industri pangan sekaligus meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.

Komoditas yang menjadi perhatian dalam pengembangan tersebut meliputi kelapa sawit, kakao, dan kelapa. Pengembangan hilirisasi diarahkan tidak hanya pada pengolahan bahan mentah, tetapi juga mencakup riset, inovasi, diversifikasi produk, hingga penguatan pasar.

Perwakilan Kementerian Perindustrian dalam Komite Pangan dan Hilirisasi BPDP, Merrijantij Punguan Pintaria, mengatakan hilirisasi perlu menjadi bagian dari transformasi struktur ekonomi.

“Hilirisasi merupakan bagian dari transformasi struktur ekonomi, bukan sekadar pengolahan bahan mentah,” ujar Merrijantij.

Menurut dia, pengembangan hilirisasi perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan produktivitas di sektor hulu, pemenuhan mutu dan kontinuitas bahan baku, diversifikasi produk, riset dan inovasi, hingga penguatan industri, keberlanjutan, pasar, dan investasi.

Tantangan Sawit, Kakao, dan Kelapa

Pada komoditas sawit, pengembangan produk hilir terus diarahkan untuk memperluas jenis produk yang memiliki nilai tambah. Jumlah produk hilir sawit ditargetkan meningkat dari 208 jenis pada 2025 menjadi 250 produk pada 2029.

Sementara pada kakao, salah satu persoalan yang masih dihadapi berada di sektor hulu. Sebanyak 67 persen tanaman kakao disebut berada dalam kondisi tua atau tidak menghasilkan sehingga berdampak terhadap produktivitas dan ketersediaan bahan baku.

Kondisi berbeda juga terjadi pada komoditas kelapa. Sebanyak 99,09 persen kebun kelapa merupakan perkebunan rakyat. Di sisi lain, ketersediaan bahan baku untuk industri pengolahan masih menjadi tantangan karena sebagian produk kelapa masih diekspor dalam bentuk kelapa bulat, kopra, dan crude coconut oil (CCNO).

baca juga

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan dari sisi hulu hingga hilir agar komoditas perkebunan tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Riset Perlu Menghasilkan Nilai Tambah

Ketua Bidang Riset dan Pengembangan GAPKI sekaligus anggota Komite Pangan dan Hilirisasi BPDP, Dwi Asmono, mengatakan riset dan inovasi dalam hilirisasi perlu diarahkan pada penciptaan nilai.

“Pertanyaan kuncinya kini bukan seberapa banyak yang dapat diproduksi, melainkan seberapa besar nilai yang dapat diciptakan dari setiap hektare, setiap ton, dan setiap aliran biomassa,” kata Dwi.

Menurut Dwi, pengembangan inovasi perlu mempertimbangkan kebutuhan pengguna serta persoalan yang hendak diselesaikan. Aspek keekonomian, pasar, peluang peningkatan skala, hingga keberlanjutan setelah pendanaan juga perlu diperhitungkan.

Ia juga mendorong pengusul inovasi membangun konsorsium yang melibatkan calon pengguna teknologi. Dengan demikian, hasil riset tidak berhenti pada tahap pengembangan, tetapi dapat diterapkan dan dikembangkan menjadi produk atau usaha.

BPDP Buka Program Pangan dan Hilirisasi

Untuk mendukung pengembangan tersebut, BPDP membuka Call for Proposal Program Pangan dan Hilirisasi Tahun 2026.

Plt. Kepala Divisi Penyaluran Dana Program Pangan dan Hilirisasi BPDP, Arfie Thahar, mengatakan program ini dapat diikuti badan usaha, termasuk koperasi dan UMKM, asosiasi atau organisasi profesi di bidang perkebunan, serta lembaga penelitian dan perguruan tinggi.

BPDP membuka Call for Proposal Program Pangan dan Hilirisasi Tahun 2026. (Dok. Ist)
BPDP membuka Call for Proposal Program Pangan dan Hilirisasi Tahun 2026. (Dok. Ist)

Pengusul wajib memenuhi sejumlah persyaratan khusus, antara lain memiliki Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) minimal 7, prastudi kelayakan dan/atau Business Model Canvas, serta mitra hilirisasi.

Proposal akan dinilai berdasarkan manfaat ekonomi, nilai tambah dan daya saing dengan bobot 50 persen, kelayakan teknis 25 persen, kelengkapan dan kesiapan 15 persen, serta relevansi program 10 persen.

Batas akhir pengajuan proposal ditetapkan pada 30 Oktober 2026. Seleksi administrasi berlangsung pada 1–14 November 2026, dilanjutkan seleksi substantif pada 14 November–5 Desember 2026 dan tahap presentasi sebelum hasil diumumkan pada Desember 2026.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Meski Harga Pangan Naik, BI Yakin Inflasi Tetap Sesuai Target

Meski Harga Pangan Naik, BI Yakin Inflasi Tetap Sesuai Target

Bisnis | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 11:38 WIB

Makan Sambal Tak Teras Pedas, Harga Cabai Lagi Mahal Masih di Atas Rp100 Ribu/kg

Makan Sambal Tak Teras Pedas, Harga Cabai Lagi Mahal Masih di Atas Rp100 Ribu/kg

Bisnis | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 09:49 WIB

Stok Beras Bulog 4,5 Juta Ton, Aman untuk Nataru hingga Ramadan

Stok Beras Bulog 4,5 Juta Ton, Aman untuk Nataru hingga Ramadan

News | Kamis, 01 Oktober 2026 | 19:41 WIB

Terkini

Kirain Murah, Ternyata Cuma Pemancing: Prank Harga di Etalase Marketplace

Kirain Murah, Ternyata Cuma Pemancing: Prank Harga di Etalase Marketplace

Your Say | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 18:30 WIB

Suka Simpan Barang Tak Terpakai? Awas, Ini Bedanya Kolektor dan Penderita Hoarding Disorder

Suka Simpan Barang Tak Terpakai? Awas, Ini Bedanya Kolektor dan Penderita Hoarding Disorder

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 18:29 WIB

RUU Migas Dikebut Tahun Ini, BUK Bakal Langsung di Bawah Presiden

RUU Migas Dikebut Tahun Ini, BUK Bakal Langsung di Bawah Presiden

Bisnis | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 18:22 WIB

TsureKano Tamat di Volume 14, Akhiri Kisah Mantan Kekasih jadi Saudara Tiri

TsureKano Tamat di Volume 14, Akhiri Kisah Mantan Kekasih jadi Saudara Tiri

Your Say | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 18:20 WIB

Klaim Sikap Tak Berubah Meski Masuk Istana, Rocky Gerung: Saya Cuma Pindah dari Luar ke Dalam

Klaim Sikap Tak Berubah Meski Masuk Istana, Rocky Gerung: Saya Cuma Pindah dari Luar ke Dalam

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 18:18 WIB

9 Juta Keluarga Butuh Rumah, Lippoland Kembangan Hunian Murah Rp100 Juta

9 Juta Keluarga Butuh Rumah, Lippoland Kembangan Hunian Murah Rp100 Juta

Bisnis | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 18:17 WIB

Punya Tumbler Belum Tentu Ramah Lingkungan, Apa yang Perlu Diperhatikan?

Punya Tumbler Belum Tentu Ramah Lingkungan, Apa yang Perlu Diperhatikan?

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 18:12 WIB

WIKA dan Waskita Jadi Persoalan, Danantara Dahulukan Merger 4 BUMN Karya Lain

WIKA dan Waskita Jadi Persoalan, Danantara Dahulukan Merger 4 BUMN Karya Lain

Bisnis | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 18:08 WIB

Anwar Usman Soal Gugatan Ijazah Gibran: Nggak Mau Intervensi dan Diintervensi

Anwar Usman Soal Gugatan Ijazah Gibran: Nggak Mau Intervensi dan Diintervensi

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 18:05 WIB

Rekomendasi Day Cream dan Night Cream dari Kulit Manggis, Ampuh Pudarkan Flek Hitam Usia 40 Tahun

Rekomendasi Day Cream dan Night Cream dari Kulit Manggis, Ampuh Pudarkan Flek Hitam Usia 40 Tahun

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 18:05 WIB

×