- WNI asal Natuna tewas di Rusia usai menyetujui kontrak kerja sebagai tentara bayaran.
- Almarhum sempat menelepon keluarga pada 18 September sebelum dikabarkan gugur pada 26 September.
- Serangan drone Ukraina menewaskan delapan anggota rombongan dan jenazah korban masih tertahan.
Suara.com - Langkah Rendi Apriyanto menyetujui kontrak kerja 6 bulan sebagai tentara bayaran Rusia berakhir duka mendalam bagi keluarganya di Kabupaten Natuna. Pemuda berusia muda tersebut dilaporkan tewas akibat serangan udara saat bertugas di garis depan pertempuran.
Kabar duka yang mengguncang Kelurahan Ranai Darat ini mengonfirmasi kebenaran isu yang sempat meragukan publik. Pihak keluarga kini bersiap menerima kenyataan pahit setelah sempat terputus komunikasi selama beberapa hari.
Keputusan Rendi menandatangani dokumen kerja sama dengan pihak militer Rusia menjadi awal mula rentetan peristiwa tragis ini. Imbalan bernilai ratusan juta rupiah membuat almarhum tergiur mengadu nasib di negeri beruang merah.

Sebelum kabar duka tiba, almarhum sempat menelepon pihak keluarga pada 18 September 2026. Dalam percakapan singkat tersebut, Rendi berpamitan karena hendak dipindahkan langsung ke lokasi pertempuran paling rawan.
Satu pekan usai telepon terakhir itu, informasi kematian korban akhirnya diterima oleh kerabat di kampung halaman pada 26 September. Serangan pesawat tanpa awak milik pasukan Ukraina menghancurkan posisi kelompok Rendi tanpa sisa.
Rekam jejak pekerjaan almarhum bermula saat menjadi pegawai teknis salah satu perusahaan telekomunikasi swasta di Natuna. Jalur kariernya berlanjut ke Batam sebelum akhirnya memutuskan keluar dan mengincar peluang di luar negeri.
Peluang bekerja di Filipina sebagai teknisi kelistrikan menjadi pintu masuk yang membawa Rendi melangkah lebih jauh. Dari negara tetangga tersebut, jaringan perekrutan membawanya masuk ke dalam skuad tempur asing.
"Sejak 2022, Rendi memang tidak pernah pulang ke Natuna," ujar Eniyanti, dikutip dari Batamnews.
Setelah berpindah tugas ke Jakarta, almarhum kembali terbang menuju Filipina untuk menyelesaikan komitmen kerja terbarunya. Tak lama berada di sana, kabar mengejutkan datang saat Rendi menginfokan keberadaannya di wilayah Rusia.
Ia mendaftar bersama tujuh warga Indonesia lain dengan jaminan posisi tugas yang awalnya diklaim aman. Pihak keluarga di rumah sempat dimintai persetujuan resmi sebelum proses perekrutan tersebut disahkan.
"Kami kaget. Tapi Rendi menenangkan kami. Katanya mereka hanya direkrut untuk logistik, bukan untuk berperang," kata Ruskamal.
Tawaran imbalan finansial dalam jumlah besar menjadi alasan utama di balik keputusan nekat pemuda asal Kepulauan Riau ini. Kontrak kerja durasi enam bulan tersebut menjanjikan nilai pendapatan fantastis bagi almarhum.
Penandatanganan perpanjangan masa kerja membuat rencana kepulangannya ke Tanah Air terpaksa ditunda hingga tahun depan. Sayangnya, janji penempatan di bagian belakang arena konflik berubah total saat situasi memanas.
"Kami mendapat kabar duka ini dari kawan Rendi. Ada delapan orang dari Filipina yang mendaftar sebagai tentara bayaran di Rusia secara bersamaan," terang Ruskamal.
Rekan satu rombongan yang selamat mengabarkan bahwa delapan anggota tim gugur seketika akibat gempuran fatal. Hanya satu orang yang bertahan hidup meski mengalami luka sangat kritis dan harus menjalani perawatan intensif.
Proses evakuasi jasad korban hingga kini belum dapat dilaksanakan karena intensitas pertempuran di lokasi masih sangat tinggi. Pihak keluarga di Natuna hanya bisa menanti kepastian pengembalian jenazah ke rumah duka.