- Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraeni menilai modernisasi alutsista penting untuk memperkuat postur pertahanan TNI di tengah dinamika ancaman global.
- Ia mengingatkan modernisasi tidak cukup hanya mengejar jumlah dan kecanggihan alutsista, tetapi juga harus memperkuat daya tangkal, interoperabilitas, kesiapan operasional, serta kemandirian industri pertahanan.
- Momentum HUT ke-81 TNI dinilai perlu menjadi pijakan untuk membangun ekosistem pertahanan yang kuat, mandiri, dan adaptif.
Suara.com - Anggota Komisi I DPR RI, Amelia Anggraeni, menyampaikan pandangannya terkait peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Ia menekankan, pentingnya penguatan postur pertahanan melalui modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang adaptif dan relevan dengan dinamika ancaman global.
Ia menjelaskan, bahwa di usia yang ke-81 ini, tuntutan terhadap TNI tidak hanya seputar profesionalisme prajurit, melainkan juga kesiapan sistem pertahanan negara.
"Memasuki usia ke-81, TNI tidak hanya dituntut semakin profesional, tetapi juga harus memiliki kekuatan pertahanan yang relevan dengan perkembangan ancaman. Karena itu, pembangunan dan modernisasi alutsista menjadi bagian penting dalam memperkuat postur pertahanan Indonesia," ujar Amelia kepada Suara.com, Senin (5/10/2026).
Ia pun mengapresiasi berbagai upaya yang telah berjalan dalam memperkuat alutsista nasional, baik dari pembaruan teknologi hingga penguatan industri dalam negeri.
"Saya mengapresiasi upaya memperkuat alutsista TNI, baik melalui modernisasi sistem persenjataan, peningkatan kemampuan teknologi, maupun penguatan industri pertahanan dalam negeri. Ini merupakan langkah positif karena kekuatan pertahanan tidak boleh tertinggal dari perkembangan teknologi dan dinamika geopolitik kawasan," ungkapnya.
Kendati begitu, legislator Partai NasDem ini memberikan catatan kritis agar modernisasi alutsista tidak sekadar berfokus pada kuantitas atau kecanggihan unit persenjataan semata.
Menurutnya, pemanfaatan dan efektivitas alutsista dalam menjaga kedaulatan wilayah kepulauan jauh lebih mendasar.
“Namun modernisasi alutsista sebaiknya tidak hanya diukur dari jumlah atau kecanggihan platform yang dimiliki. Yang lebih penting adalah bagaimana alutsista tersebut mampu meningkatkan daya tangkal, interoperabilitas antarmatra, kesiapan operasional, serta terintegrasi dengan kebutuhan pertahanan Indonesia sebagai negara kepulauan," tegasnya.
Ia menambahkan, momentum peringatan HUT ke-81 TNI patut dijadikan pijakan untuk melihat sistem pertahanan nasional secara komprehensif.
Modernisasi tekhnologi harus ditopang oleh keandalan sumber daya manusia serta kemandirian industri pertahanan.
"HUT ke-81 TNI menjadi momentum untuk melihat pertahanan secara lebih strategis. Kekuatan alutsista harus berjalan beriringan dengan kualitas sumber daya manusia, riset dan teknologi, pemeliharaan, serta kemandirian industri pertahanan," tuturnya.
"Dengan demikian, modernisasi bukan sekadar membeli sistem persenjataan baru, tetapi membangun ekosistem pertahanan nasional yang kuat dan berkelanjutan," lanjutnya.
Lebih lanjut, Amelia menyampaikan harapannya agar TNI semakin mampu menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan memberikan rasa aman bagi seluruh rakyat Indonesia.
"Harapan saya, ke depan TNI semakin memiliki kemampuan untuk menjaga kedaulatan, mempertahankan wilayah NKRI, sekaligus memberikan rasa aman kepada masyarakat. Modernisasi alutsista harus menjadi investasi jangka panjang untuk membangun pertahanan Indonesia yang kuat, mandiri dan adaptif terhadap tantangan masa depan," pungkasnya.