- Pemerintah Jakarta Selatan menata kawasan Setu Babakan pada Oktober 2026 untuk mengembalikan fungsinya sebagai destinasi wisata.
- Penataan ini berdampak pada 127 pelaku UMKM yang harus meninggalkan lokasi karena keterbatasan kapasitas tempat usaha.
- Suku Dinas PPKUKM menawarkan alternatif lokasi binaan dan pasar sementara bagi pedagang yang tidak tertampung.
Suara.com - Penataan kawasan bantaran timur Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, membuat sekitar 127 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus meninggalkan lokasi mereka berjualan. Pemerintah menyediakan sejumlah pilihan relokasi, tetapi tidak semua pedagang dapat ditampung di dalam kawasan Setu Babakan.
Suku Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) Jakarta Selatan menawarkan sejumlah lokasi binaan kepada para pedagang yang terdampak penataan tersebut.
Kepala Suku Dinas PPKUKM Jakarta Selatan Djaharuddin mengatakan relokasi dilakukan seiring penataan kawasan yang bertujuan mengembalikan fungsi Setu Babakan sebagai destinasi wisata alam dan budaya.
"Penataan kawasan ini memang mengembalikan fungsi kawasan Setu Babakan sebagai wisata alam dan budaya," kata Djaharuddin saat dihubungi di Jakarta, Selasa (6/10/2026), dikutip dari ANTARA.
Menurut dia, pengelola Setu Babakan bersama pihak kelurahan dan kecamatan telah melakukan sosialisasi kepada para pedagang. Pemerintah juga menyiapkan lokasi khusus bagi UMKM sebagai bagian dari penataan tersebut.
Namun, persoalannya, kapasitas tempat usaha di dalam kawasan Setu Babakan terbatas. Dari sekitar 127 UMKM yang terdampak, hanya sekitar 63 pelaku usaha yang diperkirakan dapat ditampung di lokasi tersebut.
"Kalau enggak salah, yang bisa ditampung hanya sekitar 63 UMKM," ujar Djaharuddin.
Bagi pedagang yang tidak tertampung di dalam kawasan Setu Babakan, Suku Dinas PPKUKM Jakarta Selatan menawarkan sejumlah alternatif lokasi binaan yang tersedia di wilayah Jakarta Selatan.
Pedagang dapat memilih lokasi yang telah disiapkan pemerintah, mulai dari pasar lokasi binaan (lokbin), lokasi sementara (loksem), hingga lokasi yang dikelola Perumda Pasar Jaya.
"Kita punya tiga lokasi binaan pasar dan 42 lokasi sementara (loksem). Tapi, loksem ini harus khusus untuk makanan, minuman, kuliner," tutur Djaharuddin.
Tantangan setelah pindah lokasi
Relokasi menjadi persoalan tersendiri bagi para pedagang karena mereka selama ini telah memiliki pelanggan di sekitar Setu Babakan. Perpindahan lokasi dikhawatirkan membuat mereka kehilangan konsumen yang selama ini menjadi sumber penghasilan.
Djaharuddin mengakui kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam penataan kawasan.
"Memang, mereka itu konsumennya rata-rata ada di sekitar situ. Jadinya, mereka agak berat meninggalkan titik awal dagang itu," ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, pilihan lokasi relokasi menjadi penting bagi keberlangsungan usaha para pedagang. Sebab, meski pemerintah telah menyediakan sejumlah alternatif tempat, lokasi yang jauh dari konsumen lama berpotensi memengaruhi omzet mereka.
Penataan kawasan Setu Babakan sendiri dilakukan untuk mengembalikan fungsi kawasan sebagai ruang wisata alam dan budaya. Di sisi lain, pemerintah juga berupaya menyediakan alternatif tempat berjualan agar aktivitas ekonomi para pelaku UMKM tetap dapat berlangsung.
Sebelumnya, pada Senin (5/10/2026), puluhan pedagang di bantaran timur Setu Babakan membongkar kios mereka secara mandiri setelah menerima Surat Peringatan (SP) 1 dan SP2. Pembongkaran tersebut dilakukan setelah petugas melakukan pendekatan secara persuasif kepada para pedagang.
Dengan penataan tersebut, para pelaku UMKM kini dihadapkan pada pilihan untuk berpindah ke lokasi yang disediakan pemerintah, dengan tantangan mempertahankan usaha dan pelanggan yang selama ini telah terbentuk di sekitar Setu Babakan.