- Jakarta melonjak ke peringkat 140 dalam Global Cities Index 2026 berkat integrasi transportasi publik, modal manusia, serta perekonomian.
- Pemprov DKI Jakarta masih menghadapi tantangan serius berupa kemacetan, polusi udara, lingkungan, dan tata kelola pemerintahan yang perlu dibenahi.
- DPRD DKI Jakarta berkomitmen memperketat pengawasan agar peningkatan peringkat global ini berdampak nyata pada kenaikan kualitas hidup warga.
Suara.com - Jakarta melesat dalam pemeringkatan kota global. Namun, di tengah prestasi tersebut, kemacetan dan polusi udara masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Dalam Global Cities Index 2026 besutan Oxford Economics, Jakarta berada di peringkat 140 dari 1.000 kota dunia. Posisi itu melonjak signifikan dibandingkan 2024 yang menempatkan Jakarta di urutan 287.
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Wibi Andrino mengapresiasi capaian tersebut. Terlebih, Jakarta kini berada di atas Surabaya, Medan, dan Bandung.
“Ini pencapaian yang patut diapresiasi,” ujarnya dikutip Rabu, (7/10/2026).
Namun, Wibi mengingatkan Pemprov DKI agar tidak terlena dengan kenaikan peringkat tersebut. Sebab, predikat kota global harus berbanding lurus dengan kualitas hidup masyarakat.
“Ranking boleh naik, tapi kualitas hidup warga juga harus naik,” tegas Wibi.
Menurutnya, Jakarta masih menghadapi sederet persoalan yang langsung dirasakan warga, terutama kemacetan, transportasi publik, dan lingkungan hidup. Persoalan pelayanan publik hingga tata kelola pemerintahan juga masih perlu dibenahi.
“Semua itu masih harus terus kami benahi,” kata Wibi.
Karena itu, DPRD DKI berkomitmen memperketat pengawasan terhadap kinerja Pemprov DKI agar lonjakan peringkat Jakarta tidak berhenti sebagai pencapaian statistik.
Wibi berharap Jakarta mampu menembus 50 besar kota dunia pada 2029. Namun, target tersebut harus diikuti perbaikan yang benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari warga.
“Jakarta harus terus naik kelas dan manfaatnya dirasakan warga,” ucap politisi Partai NasDem tersebut.
![Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (3/9/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/03/19233-macet-jakarta-kemacetan-jakarta-ilustrasi-macet.jpg)
Sebelumnya, Gubernur Jakarta Pramono Anung menyebut integrasi transportasi publik yang kini menjangkau lebih dari 93 persen wilayah menjadi salah satu faktor yang menopang lonjakan peringkat Jakarta.
Dari sisi modal manusia dan perekonomian, Jakarta juga mencatat posisi tinggi, masing-masing di peringkat 23 dan 59 dunia.
Namun, Pramono mengakui Jakarta masih tertinggal dalam aspek lingkungan dan tata kelola. Dua persoalan itu menjadi pekerjaan rumah Jakarta untuk mengejar kota-kota seperti Singapura dan Kuala Lumpur.
Di tengah ambisi Jakarta naik kelas sebagai kota global, persoalan kemacetan dan polusi pun menjadi ujian yang tak kalah penting.
Sebab, ukuran kemajuan kota pada akhirnya bukan hanya soal peringkat dunia, tetapi juga seberapa nyaman warganya menjalani aktivitas sehari-hari.