-
Serangan roket Houthi membakar pesawat Saudia Airlines dan menghentikan penerbangan di Bandara Riyadh.
-
Maskapai internasional Lufthansa dan Air India menghentikan sementara seluruh jadwal rute menuju Riyadh.
-
Houthi sengaja meningkatkan eskalasi serangan udara sebagai aksi balasan atas intervensi militer Arab Saudi.
Suara.com - Kelompok Houthi dari Yaman melancarkan serangan proyektil yang menghantam pesawat Saudia Airlines hingga terbakar hebat di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh.
Peristiwa dramatis pada Kamis (8/10) ini merusak armada komersial secara signifikan dan memaksa berbagai maskapai global menyetop rute penerbangan mereka.
Langkah penghentian operasional udara ini menjadi titik balik eskalasi keamanan paling krusial yang mengancam stabilitas penerbangan sipil di kawasan Timur Tengah.
![Para peserta ibadah haji Indonesia memasuki pesawat Saudia Airlines. [ANTARA/HO-Kemenag]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/07/31/22915-saudia-airlines.jpg)
Tiga sumber tepercaya mengonfirmasi bahwa armada udara milik maskapai Saudia tersebut disapu kobaran api dari serpihan roket saat parkir di area terminal.
Meskipun pesawat dipastikan dalam kondisi kosong tanpa penumpang, otoritas setempat masih menginvestigasi potensi adanya korban luka di sekitar lokasi kejadian.
Para saksi mata melaporkan dentuman sangat keras bergema di seluruh area bandara sebelum kepulan asap hitam membumi ke udara.
Petugas pemadam kebakaran beserta armada ambulans dengan sirene meraung langsung diterjunkan untuk mengatasi krisis di area apron tersebut.
Saksi internal mengungkapkan seluruh calon penumpang mendadak dievakuasi keluar terminal akibat penghentian mendadak semua jadwal keberangkatan.
Tidak hanya fasilitas penerbangan, pejabat Arab Saudi membeberkan pecahan proyektil lain turut menghantam bangunan taman kanak-kanak dan kompleks medis kota.
Langkah tegas diambil maskapai kelas dunia seperti Lufthansa dan Air India yang langsung membekukan penerbangan mereka ke ibu kota Saudi.
Data analisis penerbangan Cirium mencatat hampir separuh jadwal keberangkatan dari Bandara Riyadh batal beroperasi hingga Kamis sore.
Gelombang pembatalan ini diproyeksikan terus meluas hingga mencakup sedikitnya 31 penerbangan di seluruh bandara Arab Saudi pada hari Jumat.
Rentetan teror udara ini terjadi hanya sehari setelah pemerintah Saudi mengonfirmasi tiga korban jiwa akibat gempuran Houthi di Riyadh dan Abha.
Kelompok milisi Houthi secara terbuka mengumumkan peningkatan intensitas gempuran untuk mengisolasi dan memblokade jalur udara Kerajaan Arab Saudi.
Pihak Houthi memperingatkan seluruh pekerja sipil agar melangkah jauh dari berbagai instalasi dan fasilitas energi strategis yang menjadi target berikutnya.
Langkah konfrontatif ini diklaim Houthi sebagai balasan atas keterlibatan aktif Riyadh dalam mendukung pasukan pemerintah Yaman pada perang saudara yang kembali memanas.
Sikap politik dan intervensi militer Saudi di Yaman memicu milisi pro-Iran tersebut mengincar objek vital perekonomian serta transportasi kerajaan.