- Menteri Besar Johor Onn Hafiz mendesak ASEAN menggelar pertemuan darurat mengatasi krisis kabut asap lintas batas.
- Kondisi udara di Distrik Batu Pahat mencapai ISPU 203 sehingga 335 institusi pendidikan ditutup pada Selasa.
- Negara-negara ASEAN diminta memperkuat koordinasi regional dan menyalurkan bantuan sumber daya untuk melindungi kesehatan masyarakat.
Suara.com - Menteri Besar Johor, Onn Hafiz Ghazi, mendesak ASEAN menggelar pertemuan darurat untuk menangani krisis kabut asap lintas batas yang berdampak pada Malaysia.
Hafiz Ghazi menilai persoalan tersebut membutuhkan kerja sama regional agar pencemaran udara tidak semakin mengancam kesehatan masyarakat.
Desakan itu disampaikan setelah Onn Hafiz bertemu dengan Konsul Jenderal Republik Indonesia di Johor Bahru, Sigit Suryantoro Widiyanto, untuk membahas memburuknya kondisi kabut asap di wilayah Johor, Malaysia.
Menurut Onn Hafiz, pencemaran udara lintas negara tidak seharusnya menjadi alasan bagi pihak-pihak terkait untuk saling menyalahkan.
Sebaliknya, negara-negara di kawasan perlu memperkuat koordinasi untuk mengatasi persoalan tersebut secara bersama-sama.
“Apabila pencemaran udara melintasi perbatasan dan berdampak pada negara tetangga, termasuk Malaysia, tentu persoalan ini membutuhkan kerja sama regional yang lebih erat demi kepentingan bersama,” kata Onn Hafiz dikutip dari media Malaysia, Sinar Harian.
![Penampakan kabut asap di Pekanbaru imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla). [Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/28/47580-kabut-asap-di-pekanbaru.jpg)
Ia juga meminta ASEAN mengambil peran lebih aktif melalui pertemuan darurat untuk menyusun langkah penanganan yang terkoordinasi.
“ASEAN perlu memainkan peran lebih aktif dengan mengadakan pertemuan darurat agar krisis kabut asap dapat ditangani secara kolektif,” ujarnya.
Dampak kabut asap di Johor turut mengganggu kegiatan pendidikan. Sebanyak 335 institusi pendidikan di Distrik Batu Pahat dilaporkan diperintahkan tutup setelah Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai angka 203 pada pukul 20.00 waktu setempat, Selasa (6/10/2026).
Penutupan tersebut dilakukan berdasarkan Pelan Tindakan Kabut Asap Kebangsaan Malaysia, dengan mempertimbangkan pedoman serta ketentuan otoritas terkait.
Kebijakan ini diambil untuk mengurangi risiko paparan pencemaran udara terhadap siswa dan tenaga pendidikan.
Angka ISPU 203 masuk kategori sangat tidak sehat dalam skala yang digunakan Malaysia.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara telah mencapai tingkat yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.
Onn Hafiz mengatakan negara-negara ASEAN yang memiliki keahlian, peralatan, dan sumber daya penanganan bencana dapat membantu sesuai kebutuhan.
Dukungan itu, menurutnya, perlu dilakukan melalui koordinasi dan kesepakatan bersama.
“Cara tersebut diyakini dapat mempercepat upaya pencegahan, pemantauan, dan penanganan kabut asap demi memastikan kesejahteraan masyarakat di seluruh kawasan,” kata Onn Hafiz.
Ia berharap usulan pertemuan darurat tersebut mendapat pertimbangan dari para pemimpin negara anggota ASEAN.
Langkah bersama dinilai penting untuk mempercepat pemulihan kualitas udara dan melindungi masyarakat yang terdampak.