-
Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau setinggi 1,8 kilometer membentang hingga Selat Sunda Pandeglang.
-
Peningkatan status menjadi Level III Siaga memicu larangan aktivitas dalam radius 5 kilometer.
-
Badan Geologi mencatat 14 kali erupsi susulan sejak awal Oktober sebelum status dinaikkan.
Suara.com - Awan abu vulkanik berjarak 1,8 kilometer di atas permukaan laut mengancam keselamatan pelayaran di wilayah Selat Sunda bagian barat. Pantauan teknologi pemindaian BMKG mengonfirmasi pergerakan material erupsi tersebut kini mulai mendekati daratan Pandeglang.
Lonjakan ancaman keselamatan ini terjadi beriringan dengan naiknya status bahaya Gunung Anak Krakatau menjadi Level III. Pemantauan ketat terus dilakukan karena pola pergerakan angin membawa material halus vulkanik bergerak konsisten ke arah barat.
Ancaman ini berpotensi mengganggu jalur penyeberangan serta kesehatan warga pemukiman pesisir Banten jika intensitas letusan tak kunjung menurun. Langkah mitigasi darurat harus segera diambil sebelum dampak paparan partikel abu memperburuk jarak pandang udara.

"Sebaran dari permukaan hingga ketinggian 6.000 ft (1.8 km) teramati ke arah Barat, mencakup sebagian Selat Sunda Barat Pandeglang," tulis BMKG lewat akun media sosial Instagram resminya.
Masyarakat umum dan seluruh wisatawan dilarang keras melintasi batas aman zona merah sejauh 5 kilometer dari pusat kawah. Otoritas penanggulangan bencana mendesak warga setempat untuk mematuhi panduan evakuasi guna menghindari bahaya erupsi susulan.
Keputusan menaikkan tingkat bahaya menjadi Level III resmi diberlakukan Badan Geologi sejak Jumat malam. Evaluasi menyeluruh menunjukkan peningkatan aktivitas magma internal yang semakin intensif dan membahayakan keselamatan publik.
Ekalasi gejolak vulkanik di dalam perut bumi sebenarnya sudah memperlihatkan tanda-tanda peningkatan sejak pekan pertama Oktober. Rangkaian letusan kecil bertubi-tubi terus terjadi sebelum akhirnya melontarkan material abu ke udara secara masif.
Catatan pengamatan merekam setidaknya telah terjadi 14 kali erupsi sepanjang periode 6 hingga 9 Oktober. Tren peningkatan frekuensi letusan inilah yang memaksa otoritas memperluas radius steril pemukiman dan aktivitas manusia.
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang lahir di Selat Sunda pasca-letusan dahsyat Krakatau pada 1883. Karakteristik dasarnya yang terus tumbuh membuat kawasan di sekitar kawah selalu rentan terhadap ancaman erupsi periodik.
Sebelum memasuki Level III (Siaga) pada 9 Oktober pukul 21.00 WIB, gunung api ini cukup lama bertahan di Level II (Waspada). Peningkatan status darurat secara mendadak ini menjadi peringatan penting bagi sistem mitigasi bencana pesisir Jawa dan Sumatra.