- Kementerian Dalam Negeri Azerbaijan menangkap 37 orang pada 12 Oktober karena memicu protes menentang larangan hijab sekolah.
- Resolusi Kabinet Menteri tanggal 21 September melarang tambahan pakaian yang memicu aksi demonstrasi dan penolakan siswi masuk kelas.
- Guru perempuan di beberapa sekolah mendapat tekanan untuk melepaskan penutup kepala atau segera menyerahkan surat pengunduran diri.
Suara.com - Larangan penggunaan hijab di sekolah-sekolah Azerbaijan memicu gelombang protes.
Padahal agama mayoritas di Azerbaijan adalah Islam. Data terakhir menyebut 97 persen penduduk negara ini beragama Islam.
Sejumlah siswi dilaporkan dilarang mengikuti pelajaran karena mengenakan jilbab, sementara guru perempuan menghadapi tekanan untuk melepas penutup kepala atau mengundurkan diri.
Dikutip dari JAMnews, Kementerian Dalam Negeri Azerbaijan pada 12 Oktober mengumumkan penangkapan 37 orang terkait insiden yang terjadi di tengah penerapan ketentuan seragam sekolah.
Pihak berwenang membuka penyelidikan pidana berdasarkan Pasal 233 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Azerbaijan.
Pasal tersebut mengatur pertanggungjawaban atas tindakan yang mengganggu ketertiban umum, termasuk mengorganisasi atau berpartisipasi aktif dalam aksi semacam itu.
Kementerian Dalam Negeri menuduh para tahanan memicu bentrokan dengan tenaga pendidikan di Baku, merusak fasilitas pendidikan, serta berupaya mengganggu kegiatan sekolah dan lalu lintas.
![Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev (kanan) menyambut Presiden sesi ke-77 Majelis Umum PBB (UNGA) Csaba Korosi (kiri) dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Grup Kontak negara anggota Gerakan Non-Blok (GNB) tentang pemulihan global pasca pandemi di Baku, Kamis (2/3/2023). [Dok.Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/02/08/76996-presiden-azerbaijan-ilham-aliyev.jpg)
Siswi Protes karena Dilarang Masuk Sekolah
Protes terhadap larangan hijab dilaporkan terjadi di sejumlah sekolah di Baku dan wilayah lain di Azerbaijan.
Para siswa menggelar demonstrasi di gerbang sekolah, menolak mengikuti pelajaran, hingga menyuarakan solidaritas terhadap teman-teman perempuan mereka yang mengenakan hijab.
Di Sekolah Nomor 322, Baku, sejumlah siswa memprotes larangan tersebut dan menuntut agar siswi berhijab diizinkan mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Aksi serupa juga berlangsung di luar Sekolah Nomor 69 di kawasan Balakhany, Baku.
Dalam video yang dipublikasikan pada 9 Oktober, para siswa terlihat menolak masuk kelas sebagai bentuk solidaritas terhadap teman mereka yang mengenakan hijab.
Protes juga dilaporkan terjadi di sebuah sekolah di Desa Mollaoba, Distrik Masally. Sementara itu, video dari Sekolah Nomor 9 di Distrik Jalilabad memperlihatkan sejumlah siswi tidak diizinkan memasuki gedung sekolah karena mengenakan hijab.
Di kawasan Khokhmeli, Baku, sejumlah orang tua bahkan memperingatkan akan menghentikan pengiriman anak laki-laki mereka ke sekolah sebagai bentuk protes terhadap kebijakan tersebut.
Aturan Seragam Sekolah Jadi Pangkal Persoalan
Kontroversi ini bermula dari Resolusi Nomor 309 Kabinet Menteri Azerbaijan yang disahkan pada 21 September.
Ketentuan tersebut melarang penggunaan tambahan pakaian yang dinilai melanggar aturan seragam sekolah dan bertentangan dengan prinsip pendidikan sekuler.
Meski dokumen itu tidak secara eksplisit menyebut hijab, sejumlah laporan dari sekolah menunjukkan bahwa ketentuan tersebut dalam praktiknya diterapkan terhadap siswi yang mengenakan penutup kepala.
Akibatnya, siswi yang tetap mengenakan hijab dilaporkan tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai dasar hukum yang digunakan pihak sekolah untuk mengeluarkan siswa dari kegiatan belajar mengajar.
Resolusi tersebut tidak secara tegas menetapkan penghentian keikutsertaan siswa dalam kelas sebagai sanksi tersendiri.
Pada 9 Oktober, Departemen Pendidikan Kota Baku mengumumkan pemeriksaan terhadap kepatuhan siswa dan guru terhadap ketentuan berpakaian.
Guru Berhijab Terancam Kehilangan Pekerjaan
Dampak kebijakan tersebut juga dirasakan oleh tenaga pengajar perempuan.
Setelah persyaratan berpakaian terpisah bagi guru disetujui pada 6 Oktober, muncul laporan mengenai tekanan terhadap guru yang mengenakan hijab.
Sejumlah guru mengatakan kepada Toplum TV bahwa beberapa sekolah di Sumgayit meminta mereka melepas hijab atau menyerahkan surat pengunduran diri.
Jurnalis Arzu Abdulla juga melaporkan situasi serupa di Sekolah Nomor 90, kawasan Ramana.
Permintaan untuk menulis surat pengunduran diri turut menimbulkan persoalan karena dapat memberikan kesan bahwa guru meninggalkan pekerjaannya secara sukarela, meskipun keputusan tersebut diduga dipengaruhi tekanan dari pihak sekolah.
Perdebatan mengenai hijab berlangsung ketika Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev menekankan pentingnya pendidikan untuk menjaga keamanan ideologis negara.
Dalam Kongres ke-8 Partai Azerbaijan Baru pada 2 Oktober, Aliyev menyampaikan, “Karena itu, kita harus melindungi diri dari provokasi ideologis. Bagaimana caranya? Pertama dan terutama, tentu saja, melalui pendidikan.”
Azerbaijan sebelumnya juga pernah menghadapi gelombang demonstrasi terkait upaya pembatasan hijab di sekolah.
Pada 6 Mei 2011, polisi membubarkan demonstrasi di luar Kementerian Pendidikan, yang kemudian diikuti penangkapan dan pembukaan perkara pidana.
Abgul Suleymanov, tokoh yang dikenal terlibat dalam protes menentang larangan hijab, ditangkap pada tahun tersebut dan kemudian dijatuhi hukuman 11 tahun penjara atas tuduhan yang dibantahnya.
Pada September 2026, Suleymanov kembali dijatuhi penahanan administratif selama 30 hari.