-
Pengemudi ojol di Kalimantan dan Sumatra nekat menerjang kabut asap tebal demi mencari nafkah.
-
Pendapatan harian pekerja informal merosot tajam akibat terbatasnya aktivitas luar ruangan masyarakat.
-
Pemerintah diminta tidak hanya memadamkan api, tetapi memberikan bantuan ekonomi dan kesehatan warga.
Suara.com - Ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini tidak lagi sebatas krisis ekologi, melainkan telah melumpuhkan urusan perut para pekerja harian. Pengemudi ojek online (ojol) di Kalimantan dan Sumatra terpaksa mengabaikan gangguan kesehatan parah demi mengais rezeki yang tergerus hingga separuh lebih.
Gumpalan asap pekat membatasi jarak pandang sekaligus menyuntikkan racun ke paru-paru para pengayuh sepeda motor di jalanan setiap hari. Banyak dari mereka terpaksa menembus jalanan meski harus menahan sakit kepala hebat dan dada yang sesak.
Penderitaan pekerja sektor informal ini memperlihatkan betapa buruknya dampak ekonomi riil di tingkat bawah akibat bencana lingkungan tahunan tersebut. Ketimpangan makin terasa saat biaya berobat dan kebutuhan dapur melambung tinggi di tengah sepinya orderan.
![Pengendara sepeda motor melintas di Jalan Gubernur Syarkawi yang tertutup kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Rabu (2/9/2026). [ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/03/57068-kabut-asap-kalsel-kabut-asap-di-kalimantan-selatan.jpg)
Penurunan aktivitas masyarakat di luar rumah secara langsung memotong rantai pendapatan para pengemudi ojol secara drastis. Ketika sekolah dan perkantoran beralih ke aktivitas dari rumah, jalanan mendadak lengang dari calon penumpang.
Seorang pengemudi ojol di Pekanbaru, Imrayedi, harus memaksakan diri bekerja di tengah kepungan udara beracun walau usianya sudah menginjak 63 tahun.
"Sesak napas dan sakit kepala menghirup udara sekarang. Tapi bagaimanapun saya tetap harus bekerja," kata dia dikutip dari BBC.
Dampak fatal dari paparan partikel jahat tersebut tidak hanya merusak sistem pernapasan, tetapi juga memicu gangguan fisik harian. Saluran pernapasan yang terus-menerus menampung kotoran hitam menjadi bukti betapa tidak layaknya kualitas udara di kawasan tersebut.
Kondisi serupa dialami pengemudi ojol wanita di Banjarmasin, Emlya Dhea Francyska, yang harus berbagi motor dengan suaminya untuk berburu pesanan makanan. Penurunan pesanan yang teramat drastis membuat pasangan ini hanya mampu membawa pulang uang puluhan ribu rupiah saban hari.
Rere menceritakan ketidakmampuannya untuk sekadar beristirahat di rumah saat situasi udara memburuk.
"Mau asap kayak apa aja, kebutuhan tetap jalan kan. Enggak ada bantuan dari pemerintah."
Krisis ini mempertegas bahwa penanganan karhutla tidak boleh berhenti pada upaya pemadaman titik api di hutan belaka. Pemerintah mendesak segera menyalurkan jaring pengaman sosial dan layanan kesehatan gratis untuk menopang ketahanan ekonomi warga terdampak.
Kerugian ekonomi tak hanya menimpa pengemudi ojol, tetapi juga merambat ke pelaku usaha mikro seperti pedagang soto di Palangka Raya. Khotim Octavia (46) mengaku omzet harian warungnya anjlok drastis dari jutaan rupiah menjadi hanya beberapa ratus ribu rupiah saja.
Khotim menjelaskan betapa sepinya pembeli yang mau datang berkunjung sejak kabut asap tebal melingkupi kawasan tersebut.
"Tapi sejak ada asap ini paling ramai cuma Rp500.000, bahkan pernah cuma dapat Rp200.000."
Analis senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI), Ronny Sasmita, menegaskan bahwa kelompok pekerja harian adalah pihak yang paling rentan ambruk. Mereka terimpit oleh hilangnya mata pencaharian di satu sisi, namun wajib menanggung pengeluaran harian di sisi lain.
Lembaga kajian Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mencatat angka kerugian ekonomi nasional akibat bencana ini telah menembus angka belasan triliun rupiah. Hambatan besar terjadi pada sektor transportasi, logistik, perdagangan, hingga penurunan produktivitas tenaga kerja secara umum.
Kondisi udara di kawasan Kalimantan dan Sumatra telah menyentuh batas yang sangat membahayakan keselamatan jiwa manusia. Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menunjukkan beberapa titik wilayah mencatatkan angka yang memprihatinkan hingga menembus kategori sangat berbahaya.
Ribuan warga terbukti mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), di mana puluhan ribu di antaranya merupakan anak-anak balita. Dinas Kesehatan setempat mencatat lonjakan pasien yang mendatangi fasilitas kesehatan primer akibat keluhan saluran pernapasan.
Kementerian Kesehatan mencatat jutaan jiwa penduduk Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, hingga Riau terpapar langsung asap pembakaran. Angka penderita gangguan pernapasan terus merangkak naik seiring belum padamnya titik kebakaran hutan.
Kondisi ini menjadi latar belakang kelam yang memperlihatkan kerentanan masyarakat kelas bawah di tengah bencana ekologis yang terus berulang. Tanpa adanya intervensi bantuan konkret, para pekerja jalanan akan terus mengorbankan keselamatan jiwa demi bertahan hidup.