- Wayan Koster menyatakan sektor pariwisata di Bali tetap berjalan normal meskipun terjadi antrean BBM di SPBU.
- Antrean panjang di SPBU disebabkan oleh keterlambatan kapal tanker pengangkut 18 juta liter BBM yang baru bersandar pada Minggu, 11 Oktober 2026.
- Pemprov Bali memastikan kuota dan stok BBM mencukupi, serta mengimbau warga agar tidak melakukan aksi beli panik di SPBU.
Suara.com - Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Bali terus menjadi perhatian publik.
Meski kelangkaan BBM mengganggu ritme harian warga, Pemerintah Provinsi Bali memastikan sektor pariwisata—yang menjadi tulang punggung ekonomi Pulau Dewata—masih berjalan normal dan kondusif.
Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan bahwa dinamika pasokan BBM saat ini belum sampai melumpuhkan sektor pelesiran.
![Jepretan layar Antrean BBM di Bali oleh warganet pada Oktober 13 2026 [Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/14/98699-antrean-bbm-di-bali.jpg)
“Sejauh ini pariwisata aman,” kata Koster saat dimintai keterangan mengenai kondisi sektor pariwisata di tengah persoalan distribusi BBM di Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali, Jumat (16/10/2026).
Kendati pariwisata diklaim relatif stabil, Koster tak menampik bahwa tersendatnya pasokan bahan bakar memukul mobilitas harian masyarakat.
Saat ini, Pemprov Bali bersama PT Pertamina bergerak cepat memprioritaskan pemulihan layanan agar dampak kerugian tidak makin meluas.
"Belum dihitung ya, tentu saja ada dampak. Ya, karena mengurangi aktivitas. Jadi, mari kita fokus mengatasi agar distribusi dan layanan BBM ini lancar dulu,” katanya saat ditanyai terkait dampak ketidakstabilan BBM.
Biang Kerok Antrean: Kapal BBM Terlambat Bersandar
Mengapa antrean mengular di mana-mana? Koster membeberkan bahwa akar masalahnya bukan terletak pada kelangkaan stok, melainkan bottleneck pada rantai distribusi. Kapal tanker pengangkut pasokan raksasa sebanyak 18 juta liter BBM mengalami keterlambatan jadwal sandar.
"Kapal tersebut seharusnya bersandar pada Minggu (11/10/2026) pukul 06.30 WITA, tetapi baru dapat bersandar sekitar pukul 22.00 WITA. Keterlambatan itu menyebabkan penyaluran BBM ke depo tidak berjalan sesuai jadwal," katanya.
Koster menjelaskan bahwa secara kuota, pasokan BBM untuk Pulau Bali sebenarnya berada di angka normal. Namun, imbas keterlambatan armada kapal selama sehari menimbulkan efek domino yang membebani seluruh jaringan SPBU.
![Antrean panjang terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Bali, khususnya di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, Bali [SuaraBali.id/Humas Polresta Denpasar]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/13/59079-antrean-bbm-di-spbu.jpg)
"Ketika penyaluran tertunda selama satu hari, maka akibatnya besoknya itu harus diatasi dua kali," kata dia.
Sayangnya, pemulihan darurat tidak bisa menyulap kondisi kembali normal dalam sekejap. Keterbatasan armada mobil tangki serta personil di lapangan membuat distribusi ke SPBU harus dilakukan secara bertahap.
Stok Dipastikan Cukup, Warga Dimbau Tak Panic Buying
Koster kembali menegaskan bahwa pemerintah tidak mengurangi kuota BBM untuk Bali. Berdasarkan kalkulasi resmi Pemprov, volume pasokan yang disiapkan sangat mencukupi kebutuhan seluruh masyarakat.
Meski antrean di lapangan belum sepenuhnya terurai, ia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak memborong BBM secara berlebihan (panic buying). Bagi warga yang tanki kendaraannya masih terisi, diharapkan bisa menunda pengisian demi mengurai penumpukan di SPBU.
“Kalau masih ada isi mobilnya cukup, jangan dulu ke SPBU, supaya mengurangi antrean. Yang pasti pada saat butuh, minyak itu ada, karena pasokannya ada,” ujarnya.
Pemprov Bali berharap pemulihan rantai pasok BBM ini dapat tuntas dalam waktu singkat, sehingga roda ekonomi, mobilitas warga, serta kenyamanan para wisatawan domestik maupun mancanegara dapat kembali terjaga sepenuhnya. (Antara)