-
Kebakaran hutan Indonesia dan fenomena El Nino menyebabkan krisis kabut asap parah di Asia Tenggara.
-
Singapura mengalami 13 hari berturut-turut kualitas udara tidak sehat akibat sebaran asap kebakaran lahan.
-
WMO mendorong kerja sama pemadaman kebakaran ASEAN serta pengetatan aturan pembukaan lahan secara kolektif.
Suara.com - Krisis kabut asap lintas batas terburuk kini mengepung kawasan Asia Tenggara akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Fenomena cuaca El Nino yang memicu kemarau panjang menjadi penyebab utama api terus membesar dan meluas.
Direktur Kantor Regional Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) untuk Asia Pasifik, Ben Churchill, menegaskan krisis ini tidak akan selesai dalam waktu singkat.
"Krisis ini bisa berlangsung selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, sampai arah angin berubah dan hujan membasahi kebakaran di sana," ujar Ben Churchill saat ditemui di kantor WMO Tai Seng, dikutip dari ST Singapura.

Kombinasi metode pembukaan lahan tradisional dan fenomena El Nino terkuat sepanjang sejarah menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran kebakaran hutan. Tercatat sekitar separuh kabut asap dunia bersumber dari wilayah Indonesia berdasarkan pemantauan satelit Copernicus milik Uni Eropa.
Singapura mencatat rekor buruk dengan 13 hari berturut-turut mengalami kualitas udara tidak sehat.
Dampak pencemaran udara ini memaksa sejumlah fasilitas olahraga air di kawasan Kallang menghentikan aktivitas operasionalnya.
Menteri Berkelanjutan dan Lingkungan Singapura, Grace Fu, mengimbau masyarakat untuk bersiap menghadapi bahaya polusi yang berkepanjangan.
"Saat ini kita memang sedang mencermati situasi di Indonesia, tetapi hal ini bisa saja terjadi di mana pun, kepada siapa pun, dan kapan pun—mengingat kondisi awal yang kita amati terkait pemanasan global, ditambah dengan dampak yang diperparah oleh fenomena El Niño," ujar Churchill menanggapi situasi tersebut.
WMO mendorong seluruh negara anggota ASEAN untuk membentuk kesatuan sumber daya pemadam kebakaran bersama secara terintegrasi.
Langkah ini mencakup investasi peralatan bersama hingga pembaruan regulasi land-clearing bagi perusahaan dan petani lokal.
"Menurut saya, jika kita menuntaskan masalah ini sejak dini—dengan mengubah praktik-praktik kita dan berupaya semaksimal mungkin secara kolektif untuk memperbaiki pengelolaan lahan, memperketat regulasi, serta mengedukasi para petani dan perusahaan yang bertanggung jawab atas kebakaran tersebut—kita dapat melangkah jauh dalam menjamin serta menjaga keselamatan, keamanan, dan kesejahteraan bagi komunitas ASEAN," ungkap Churchill.
Singapura sendiri telah menawarkan bantuan personel sipil serta teknologi pembenihan awan kepada Menteri Lingkungan Hidup Indonesia, Jumhur Hidayat.
Sistem peringatan dini cuaca juga harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat agar penanganan bencana bisa dilakukan lebih cepat.
"Setiap orang dapat mengambil tindakan di tingkat mana pun—baik itu di tingkat politik, tingkat komunitas, oleh para petani secara perorangan, maupun oleh individu itu sendiri," lanjut Churchill.
"Setiap orang memiliki suara, dan setiap orang memiliki kekuatan untuk melakukan berbagai hal dengan cara yang berbeda di masa depan, agar kejadian serupa tidak terulang kembali," tambahnya.
Perubahan arah angin dan turunnya hujan monsun timur laut menjadi satu-satunya harapan alami untuk memadamkan titik api secara total.
Idealnya, kami terus berharap agar Indonesia dan dengan bantuan dukungan internasional lainnya terus melakukan yang terbaik, ucap Churchill.
“Tetapi yang terbaik tidak selalu cukup. Jadi, ya, inilah yang kami harapkan dengan adanya musim hujan, dan musim hujan memang membawa hujan,” tuturnya menambahkan.
Namun, kedatangan musim hujan diprediksi akan mengalami keterlambatan akibat intervensi gelombang panas El Nino yang sangat kuat pada tahun ini.
“Mungkin sedikit bervariasi, tapi itu akan terjadi,” kata Churchill optimistis mengenai datangnya hujan monsun.
Krisis polusi udara lintas batas di Asia Tenggara merupakan masalah tahunan yang dipicu oleh praktik pembersihan lahan dengan cara dibakar.
Kondisi tahun ini memburuk drastis karena bertepatan dengan datangnya El Nino ekstrem yang telah diwanti-wanti WMO sejak pertengahan tahun.
Pemanasan global akibat aktivitas manusia turut memperparah durasi kekeringan sehingga memicu rentetan hari dengan kualitas udara berbahaya di negara tetangga.