- Direktur ICCN Robby Firliandoko mendorong perusahaan media memperluas bisnis melalui kolaborasi dan monetisasi karya kreatif.
- Infia sukses mengubah karakter komik Tahilalats menjadi kekayaan intelektual berupa produk suvenir dan kedai kopi.
- Media Mojok di Yogyakarta mengembangkan bisnis di luar penerbitan dengan menyediakan produk suvenir dan agensi digital.
Suara.com - Perusahaan media punya peluang mengembangkan bisnis di luar aktivitas pemberitaan, mulai dari mengelola karya kreatif menjadi produk komersial hingga menyelenggarakan acara yang menjangkau audiens lebih luas.
Direktur Media dan Komunikasi Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Robby Firliandoko mendorong media untuk berkolaborasi dengan pelaku industri kreatif agar karya yang mereka temukan dan publikasikan dapat berkembang menjadi sumber pendapatan baru.
Menurut Robby, peran media tidak harus berhenti setelah meliput dan memublikasikan sebuah karya. Media juga bisa ikut mengembangkan potensi ekonomi karya tersebut melalui kolaborasi dan monetisasi.
“Jadi kalau memang teman-teman tadinya hanya meliput dan tahu ini bagus, mungkin jangan hanya diliput dan dipublikasikan saja, setelah diliput, dipublikasikan, ajak kolaborasi, bantu kembangkan, bantu di- apa ya, di-monetize, dan insyaAllah siapa tahu dia bisa menjadi besar,” kata Robby dalam acara Local Media Summit 2026 di Manhattan Hotel, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Tahilalats, dari Komik Menjadi Kekayaan Intelektual
Robby mencontohkan Infia, perusahaan media digital yang mengembangkan karakter Tahilalats setelah menemukan karya seniman asal Parepare, Sulawesi Selatan.
Karakter yang awalnya dikenal melalui komik tersebut kemudian dikembangkan menjadi intellectual property (IP) atau kekayaan intelektual. IP merupakan karya kreatif yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk, layanan, dan peluang bisnis.
“Seniman yang akhirnya membuat sebuah karakter dengan nama Tahilalats ditemukan oleh Infia, lalu Infia mencoba mengembangkannya, dan sekarang teman-teman bisa menemukan, bisa mengetahui, bisa men-searching bahkan Tahilalats bukan hanya sekadar menjadi komik, tapi Tahilalats sudah menjadi IP,” ujar Robby.
Menurut dia, pengembangan Tahilalats tidak berhenti pada komik. Karakter tersebut juga hadir dalam berbagai bentuk usaha, mulai dari toko suvenir hingga kedai kopi dan produk merchandise.
Contoh ini menunjukkan bahwa karya kreatif berpotensi memiliki nilai ekonomi lebih luas ketika dikembangkan secara berkelanjutan, bukan hanya dipublikasikan sebagai konten.
Acara dan Produk Kreatif Bisa Jadi Sumber Pendapatan
Selain mengembangkan IP, Robby menilai penyelenggaraan acara juga dapat menjadi peluang bisnis bagi perusahaan media. Acara yang dirancang untuk menjangkau audiens lebih luas dapat dikembangkan menjadi produk tersendiri.
“Namun event di sini bukan hanya event yang mungkin kita sebagai hadir sebagai peserta, tapi mengundang audiens yang lebih besar dan memang ini bisa menjadi IP,” ujarnya.
Ia juga menyinggung Mojok di Yogyakarta sebagai contoh media yang mengembangkan kegiatan bisnis di luar penerbitan. Menurut Robby, Mojok memiliki produk suvenir dan turut mengembangkan layanan agensi digital.
“Bagaimana teman-teman Mojok di Jogja bukan hanya sebagai media, tapi juga sebagai publisher, terus mereka juga punya souvenir, bahkan kalau enggak salah sekarang lagi saya baca mereka juga punya konsep bagaimana jadi digital agensi,” tuturnya.
Robby berharap media semakin jeli melihat peluang kolaborasi dengan pelaku industri kreatif. Dengan mengembangkan karya menjadi produk atau layanan yang memiliki nilai ekonomi, media berpeluang memperluas sumber pendapatan sekaligus membantu karya kreatif menjangkau pasar yang lebih luas.
“Dan ini adalah beberapa konsep-konsep yang mungkin bisa kami share tentang bagaimana media berkolaborasi dengan IP, dan akhirnya media juga bisa berkembang dengan bisnisnya tersebut,” kata Robby.
Reporter : Agustin Dwi Anggraini