- Pergeseran kebiasaan audiens dari mengeklik tautan mesin pencari menjadi berdialog dengan kecerdasan buatan generatif secara langsung menurunkan lalu lintas kunjungan ke situs media.
- Lanskap industri pers dituntut segera beradaptasi karena model bisnis yang mengandalkan pendapatan iklan konvensional makin terancam oleh kehadiran fitur ringkasan jawaban AI.
- Ekosistem distribusi informasi global turut terdisrupsi seiring persaingan raksasa teknologi yang mulai beralih dari dominasi mesin pencari ke layanan percakapan berbasis langganan.
Suara.com - Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers, Dahlan Dahi, menyoroti perubahan kebiasaan masyarakat dalam mencari informasi di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Menurut dia, kehadiran fitur AI Overview dan chatbot seperti ChatGPT mengubah cara pengguna mengakses informasi, sekaligus menghadirkan tantangan baru bagi industri media.
Dia menjelaskan, sebelumnya pengguna yang mencari informasi melalui Google akan diarahkan ke situs penerbit atau publisher melalui tautan yang tersedia.
"Dulu, user datang mencari informasi, ketemu Google, 90% lebih platformnya adalah Google. Ya dominan di situ," kata Dahlan dalam acara Local Media Summit, Manhattan Hotel, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Namun, pola tersebut mulai berubah seiring hadirnya AI Overview pada mesin pencari.
![Dahlan Dahi Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers menilai, persoalan utama industri media saat ini bukan terletak pada kurangnya audiens atau kemampuan wartawan dalam menghasilkan berita di Local Media Summit 2026 digelar di Manhattan Hotel Jakarta pada 22–23 Oktober 2026. [Suara.com/Galih]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/10/22/21232-dahlan-dahi.jpg)
Pengguna kini bisa mendapatkan jawaban langsung dari ringkasan berbasis AI tanpa harus mengunjungi situs media yang menjadi sumber informasi.
"Tapi karena ada search, ada AI Overview sehingga agak confuse membedakan mana yang datang karena search, mana yang datang karena AI Overview. Atau bahkan di sisi user, sebenarnya dia tanya tapi dijawab AI Overview," ujarnya.
Dahlan menilai, perubahan ini tidak sekadar berkaitan dengan teknologi pencarian, tetapi juga pergeseran mendasar dalam kebiasaan pengguna ketika berinteraksi dengan informasi.
Masyarakat kini semakin terbiasa mengajukan pertanyaan dan memperoleh jawaban melalui percakapan dengan AI.
"Tapi yang terjadi kemudian adalah orang menulis bukan untuk mencari jawaban, tapi untuk bercakap-cakap. So, it's not about search. Ini tentang answer. Ini tentang percakapan," tuturnya.
Menurut Dahlan, perubahan kebiasaan tersebut tidak bisa begitu saja dikembalikan ke pola lama ketika masyarakat mengandalkan mesin pencari untuk menemukan informasi.
Industri media perlu memahami perubahan perilaku pengguna agar dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.
"So user habit berubah secara mendasar. Apakah kita akan kembalikan lagi kebiasaan pembaca ke era Google dulu? Enggak," katanya.
Dia juga menegaskan bahwa tantangan akibat perubahan tersebut tidak hanya dihadapi perusahaan media.
Google sebagai salah satu pemain utama dalam industri pencarian informasi turut menghadapi perubahan lanskap persaingan seiring meningkatnya penggunaan teknologi AI.
"Jadi saya rasa bukan cuma media yang menghadapi masalah. Google pun juga menghadapi masalah. Dan kita semua beradaptasi dengan situasi yang baru," ucap Dahlan.
Dalam pemaparannya, Dahlan turut menyoroti posisi ChatGPT dalam persaingan layanan pencarian informasi.
"Kelihatan bagaimana ChatGPT sangat dominan. Dan coba lihatin di sini, ketika orang cari jawaban, ini Google sudah enggak nomor satu. Ya orang ini di atas itu udah udah ChatGPT," ucapnya.
Dia menggambarkan bagaimana pengguna mulai beralih ke layanan berbasis percakapan AI untuk mendapatkan jawaban, sementara perusahaan teknologi di belakang layanan tersebut memiliki model bisnis yang berbeda.
"Microsoft terbiasa dengan subscription business model. Dia tidak terbiasa dengan advertising. Google, ini advertising," ujarnya.
Dahlan kemudian menyinggung kemungkinan perubahan lanskap industri media dalam penyelenggaraan Local Media Summit pada tahun berikutnya.
Menurut dia, perkembangan AI dapat membuat perusahaan teknologi seperti Microsoft dan OpenAI semakin memiliki peran dalam ekosistem media.
"Jadi kalau tren ini berlanjut, kita mungkin Local Media Summit tahun depan,udah ada satu Microsoft di sini, atau mungkin ada satu OpenAI di sebelahnya. So, this is new normal," kata Dahlan.
Reporter : Agustin Dwi Anggraini