- Media Zona Utara di Sulawesi Utara memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk mengembangkan platform Pantau Iklim.
- Platform tersebut berfungsi menghimpun laporan masyarakat mengenai dampak perubahan iklim dan berbagai persoalan lingkungan setempat.
- Inovasi ini dilakukan untuk mengatasi keterbatasan tenaga ahli pemrograman dan sumber daya manusia di internal tim.
Suara.com - Media Zona Utara di Sulawesi Utara memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mengembangkan platform Pantau Iklim. Teknologi ini membantu tim media tersebut mewujudkan inovasi meski tidak memiliki tenaga ahli teknologi informasi maupun pemrograman.
Perwakilan Zona Utara, Ronny Buaol, mengatakan timnya hanya terdiri dari delapan orang. Keterbatasan sumber daya manusia di bidang teknologi sempat menjadi kendala dalam merealisasikan ide pengembangan platform.
Namun, kehadiran AI membantu mereka mengubah gagasan tersebut menjadi produk yang dapat digunakan.
"Di Sulawesi Utara itu cuma 8 orang, tidak ada yang jago IT, tidak ada yang jago coding, tidak ada yang menguasai bikin platform seperti ini. Semuanya 100% kami tanya-tanya ke AI, lantas lahirnya ini," kata Ronny dalam acara Local Media Summit di Manhattan Hotel, Kamis (22/10/2026).
Menurut Ronny, sebelumnya tim Zona Utara memiliki sejumlah ide inovasi, tetapi kesulitan merealisasikannya karena keterbatasan kemampuan teknis. AI kemudian dimanfaatkan untuk membantu proses pengembangan hingga ide tersebut dapat dieksekusi.
"Dulunya ide ini banyak berseliweran ketika kami bikin inovasi, dulu itu kami terbentur ada gap teknologi, bagaimana ini mewujudkan? AI muncul, kemudian ide-ide ini bisa kami eksekusi dengan bantuan AI," ujarnya.
Ia menegaskan, pengembangan Pantau Iklim dilakukan dengan bantuan AI karena tidak ada anggota tim yang menguasai pemrograman.
"Berbahasa lancar di platformnya terlihat canggih, kami mau bilang 100% itu dibuat oleh AI," tuturnya.
Himpun Laporan Warga soal Lingkungan
Pantau Iklim dikembangkan untuk menghimpun laporan masyarakat mengenai dampak perubahan iklim dan berbagai persoalan lingkungan di wilayah setempat.
Ronny menjelaskan, warga dapat mengirimkan informasi melalui formulir yang bisa diakses menggunakan perangkat seluler. Data yang masuk kemudian diolah dan ditampilkan dalam bentuk dasbor di platform Pantau Iklim.
"Kami menyediakan semacam apa? form yang bisa diakses lewat mobile dan lain-lain, kemudian data-data yang masuk itu kami olah menjadi dashboard atau menjadi data yang tampil di platform yang namanya tadi di Pantau Iklim," katanya.
Dalam pengembangannya, Zona Utara juga melibatkan kontributor dan komunitas untuk mengumpulkan informasi mengenai persoalan lingkungan di daerah mereka.
Ronny menyebut jumlah kontributor yang dilatih meningkat dari enam orang pada April menjadi 35 orang pada bulan sebelumnya. Program ini juga melibatkan lebih dari 12 komunitas.
"Hingga bulan lalu, kontributor kami sudah 35 orang dan melibatkan lebih dari sekitar 12 komunitas di kota yang sekecil itu," ujarnya.
Bagi Zona Utara, pemanfaatan AI dan pengembangan Pantau Iklim menjadi salah satu cara untuk berinovasi di tengah keterbatasan pasar dan peluang pendapatan dari iklan yang dihadapi media daerah.
Ronny menilai inovasi diperlukan agar media tetap bisa mengembangkan usahanya dan mencari peluang baru di tengah perubahan industri media.
"Jadi seperti apa jalan keluarnya? Ya, tidak ada jalan keluar selain kita terus melakukan inovasi, dan salah satu inovasi kami adalah Pantau Iklim ini," pungkasnya.
Reporter : Agustin Dwi Anggraini