- BPBD Karawang melaporkan 47.707 warga terdampak kekeringan di 33 desa sejak Juni 2026.
- Kecamatan Pangkalan dan Tegalwaru menjadi wilayah yang mengalami dampak kekeringan paling parah.
- Berbagai instansi menyalurkan total 2.314.000 liter air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga.
Suara.com - Sebanyak 47.707 warga di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, terdampak kekeringan yang masih melanda 33 desa di delapan kecamatan pada musim kemarau tahun ini.
Dari jumlah tersebut, tercatat 14.491 kepala keluarga (KK) mengalami dampak kekeringan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Karawang, Ari Maulana, mengatakan kekeringan yang terjadi sejak Juni 2026 itu hingga kini belum berakhir.
Untuk memenuhi kebutuhan warga, BPBD Karawang bersama sejumlah instansi dan organisasi terus menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak.
Hingga saat ini, total air bersih yang telah didistribusikan mencapai 2.314.000 liter.
Penyaluran air bersih tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari Perumdam, TNI, Polri, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), PMI, Baznas, Tagana, Pramuka, pihak industri, hingga sejumlah organisasi relawan.
Berdasarkan catatan BPBD Karawang, Kecamatan Pangkalan dan Tegalwaru menjadi wilayah dengan jumlah desa terdampak terbanyak, masing-masing tujuh desa.
Di Kecamatan Pangkalan, kekeringan melanda Desa Mulangsari, Kertasari, Jatilaksana, Ciptasari, Medalsari, Cintaasih, dan Tamanmekar.
Sementara itu, di Kecamatan Tegalwaru, tujuh desa yang terdampak meliputi Kutalanggeng, Cintalanggeng, Cintalaksana, Cigunungsari, Cipurwasari, Kutamaneuh, dan Cintawargi.
Distribusi air bersih masih dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama kekeringan berlangsung. (Antara)