- Orang tua di China marak menyertakan anak ke kamp kerja paksa pedesaan demi melatih ketangguhan.
- Penyelenggara mengakui perubahan perilaku anak dari program kilat ini tidak bertahan lama.
- Pakar psikologi memperingatkan metode penderitaan fisik berisiko merusak kesehatan mental anak.
Suara.com - Gelombang pendaftaran program "menelan kepahitan" atau chi ku melonjak drastis di berbagai wilayah pedesaan China musim panas ini. Ratusan orang tua perkotaan berlomba-lomba merogoh kocek belasan hingga puluhan juta rupiah demi mengirim buah hati mereka bekerja kasar di pegunungan.
Para peserta berusia 6 hingga 16 tahun dipaksa mencangkul, membawa batu bata, hingga memikul beras di bawah sengatan matahari ekstrem. Langkah radikal ini diambil lantaran para orang tua khawatir anak-anak mereka tumbuh menjadi generasi yang terlalu manja dan rapuh.
Layanan edukasi komersial swasta ini mematok tarif mulai dari 5.000 yuan atau sekitar Rp13,7 juta per 10 hari hingga melampaui 10.000 yuan atau Rp27,3 juta untuk satu bulan. Meski biayanya tergolong tinggi, kuota pelatihan di provinsi Sichuan, Yunnan, hingga Guizhou ini selalu ludes diserbu peminat.
Tong Lu, pemilik Haoshi Study Tours, mengungkapkan bahwa kehidupan anak-anak perkotaan saat ini sudah terlalu nyaman sehingga rapuh menghadapi kerasnya dunia luar. Melalui program kamp "Swapped Lives" di pedesaan Zhejiang, anak-anak dipaksa hidup serba terbatas bersama keluarga petani lokal.
“Anak-anak zaman sekarang agak manja,” ujarnya, dikutip dari CNA.
“Makanan dan pakaian mereka tercukupi. Orangtua membiayai berbagai les tambahan, dan hampir setiap keluarga punya mobil,” tambahnya.
Selama masa pelatihan, anak-anak harus mengumpulkan kayu bakar hingga empat jam hanya untuk memasak hidangan sederhana yang habis dalam hitungan menit. Selain itu, mereka diwajibkan membersihkan kotoran sapi serta berjalan kaki sejauh 5 km sambil memikul karung beras.
Perancang program dari kamp tersebut, Zhang Hao, menyebut bahwa pengalaman ini dirancang untuk menyadarkan anak-anak akan beratnya proses pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Ia menilai penderitaan fisik di lapangan menjadi sarana ampuh mendidik anak agar lebih bersyukur.
Pihak penyelenggara sendiri mengakui bahwa program berdurasi singkat ini tidak menjamin perubahan karakter yang bersifat permanen pada diri anak. Sebagian besar peserta cenderung kembali ke tabiat semula hanya beberapa hari setelah kembali ke rumah mereka.
“Kami bukan kamp militer,” kata Zhang.
“Tidak bisa mengirim anak ke sini selama lima atau enam hari lalu berharap mereka berubah menjadi pribadi yang sama sekali berbeda.”
Instruktur kamp, Liu Baoshun, juga menyatakan hal serupa terkait daya tahan efek dari penggemblengan kilat tersebut. Ia selalu menegaskan fakta ini kepada para orang tua sejak awal pendaftaran.
“Dampaknya pasti tidak akan bertahan lama,” kata Liu. “Kami selalu jujur kepada orangtua bahwa program ini hanya berlangsung beberapa hari.”
Pakar psikologi dari Nanyang Technological University Singapore, Setoh Peipei, mengingatkan bahwa penderitaan fisik tanpa dukungan yang tepat justru memicu kecemasan dan rasa trauma jangka panjang. Menurutnya, ketangguhan mental anak tidak bisa dibentuk melalui metode hukuman atau penderitaan yang dipaksakan.
“Anak yang tangguh belum tentu yang paling tahan menghadapi kesulitan,” kata Setoh Peipei, kepala bidang psikologi di Nanyang Technological University (NTU), Singapura.
Ia mengecam praktik beberapa pengelola yang menyarankan orang tua untuk mengelabuhi anak agar mau berangkat ke lokasi penggarapan. Menurutnya, pemaksaan dan penipuan seperti itu hanya akan merusak fondasi rasa percaya anak terhadap orang tua mereka.
“Jika anak diberi tahu akan mengikuti wisata pedesaan yang menyenangkan, tetapi justru ditempatkan di lingkungan penuh aturan ketat dan hukuman, pelajaran yang didapat mungkin bukan ‘Aku harus menghargai orangtuaku’,” kata Setoh. “Melainkan ‘Aku tidak bisa memercayai orangtuaku’.”
Profesor Madya dari Michigan State University, Desiree Qin Baolian, menekankan pentingnya lingkungan yang penuh kasih sayang ketimbang tekanan emosional berbasis ketakutan semata. Kepatuhan instan yang timbul karena rasa takut sering kali menyembunyikan benih ketidakpercayaan anak pada lingkungan sekitar.
“Kepatuhan jangka pendek sangat berbeda dengan pertumbuhan dan kesehatan jangka panjang,” ungkapnya.
Ia juga menyarankan agar para orang tua belajar mengendalikan kecemasan pribadi ketimbang melampiaskannya lewat pengkondisian ekstrem terhadap anak. Pembentukan karakter yang sehat membutuhkan ruang eksplorasi yang aman agar anak bisa belajar mandiri dari kesalahannya.
Secara historis, tradisi chi ku atau "menelan kepahitan" merupakan nilai budaya lama di masyarakat China yang diyakini mampu menempa daya tahan hidup seseorang. Namun dalam kurun dua dekade terakhir, tradisi filosofis ini bergeser menjadi komoditas bisnis liburan musim panas komersial bagi keluarga kaya urban.
Kini, maraknya unggahan video anak-anak yang menangis histeris di media sosial memicu perdebatan sengit antara batas pendidikan karakter dan potensi penyiksaan anak. Fenomena ini sekaligus mencerminkan tingginya tingkat kecemasan orang tua modern China dalam mendidik generasi penerus mereka.