Membaca Ketakutan The Economist terhadap Prabowo

Liberty Jemadu | Suara.com

Senin, 18 Mei 2026 | 11:27 WIB
Membaca Ketakutan The Economist terhadap Prabowo
Aktivis dan politikus Pius Lustrilanang. [Suara.com/Syahda]
  • Artikel The Economist mengkritik kebijakan fiskal Presiden Prabowo yang berisiko mengancam stabilitas ekonomi dan demokrasi di Indonesia.
  • Program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis dinilai berisiko membebani anggaran negara di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global.
  • Tantangan pemerintahan Prabowo adalah menjaga disiplin fiskal agar tidak memicu krisis politik dan tuduhan otoritarianisme di masa depan.

Suara.com - Artikel The Economist berjudul “Indonesia’s President is Jeopardising the Economy and Democracy” pada dasarnya bukan sekadar kritik terhadap Prabowo Subianto. Tulisan itu sesungguhnya mencerminkan kecemasan yang lebih besar: ketakutan bahwa Indonesia sedang bergerak menjauh dari model demokrasi liberal yang selama dua dekade terakhir dianggap sebagai fondasi stabilitas politik dan ekonomi Asia Tenggara.

Kecemasan itu tidak sepenuhnya salah. Namun artikel tersebut juga memperlihatkan keterbatasan klasik cara pandang liberal-Barat dalam membaca negara berkembang yang sedang berusaha membangun kembali kapasitas negaranya. Di titik inilah tulisan The Economist menjadi menarik, bukan hanya sebagai kritik politik, tetapi juga sebagai dokumen ideologis tentang bagaimana dunia Barat memandang Indonesia hari ini.

Bagian terkuat dari artikel tersebut sebenarnya terletak pada kritik fiskalnya. Dalam konteks ekonomi makro, kekhawatiran terhadap arah kebijakan Prabowo memang memiliki dasar yang serius.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan jaringan koperasi desa, ekspansi subsidi, serta berbagai proyek populis lainnya memang membutuhkan pembiayaan luar biasa besar. Pada saat bersamaan, Indonesia sedang menghadapi tekanan eksternal berupa pelemahan harga komoditas, ketidakpastian geopolitik, pelemahan rupiah, dan meningkatnya beban pembayaran bunga utang.

Dalam perspektif ekonomi politik, kondisi semacam ini berbahaya. Charles Kindleberger dalam Manias, Panics, and Crashes (1978) menjelaskan bahwa krisis ekonomi sering kali tidak muncul semata karena besarnya utang, tetapi karena hilangnya kepercayaan pasar terhadap kemampuan negara menjaga disiplin fiskal. Di titik itu, psikologi pasar menjadi lebih menentukan dibanding angka statistik itu sendiri.

Ketika The Economist menyoroti kemungkinan pelebaran defisit dan ancaman penurunan peringkat kredit Indonesia, kekhawatiran tersebut tidak dapat dianggap sekadar propaganda anti-Prabowo. Pasar global memang sangat sensitif terhadap tanda-tanda pelemahan institusi fiskal, terutama di negara berkembang.

Namun persoalannya, artikel tersebut terlalu cepat melompat dari kritik fiskal menuju kesimpulan tentang ancaman otoritarianisme. Seolah-olah ekspansi peran negara otomatis identik dengan kemunduran demokrasi. Di sinilah bias ideologis tulisan itu mulai terlihat.

Program MBG dibaca hampir sepenuhnya sebagai proyek populis. Padahal jika dilihat lebih mendalam, program ini jauh lebih besar daripada sekadar bantuan sosial elektoral.

Negara sedang mencoba membangun sistem distribusi pangan nasional berskala industrial: dapur sentral, rantai pasok, pengawasan gizi, distribusi harian, hingga integrasi koperasi desa dan logistik nasional. Dalam bahasa Peter Evans dalam Embedded Autonomy (1995), ini merupakan upaya membangun kembali kapasitas negara melalui intervensi langsung terhadap sektor sosial-ekonomi strategis.

Prabowo tampaknya percaya bahwa legitimasi negara tidak cukup dibangun hanya melalui prosedur demokrasi elektoral, tetapi juga melalui kemampuan negara hadir secara nyata dalam kehidupan rakyat. Cara berpikir seperti ini sebenarnya lebih dekat dengan tradisi developmental state Asia Timur dibanding populisme Amerika Latin.

Jepang pasca perang, Korea Selatan era Park Chung-hee, hingga Singapura di bawah Lee Kuan Yew juga memperlihatkan pola serupa: negara kuat, birokrasi dominan, disiplin sosial tinggi, dan keterlibatan negara yang agresif dalam pembangunan ekonomi. Perbedaannya, negara-negara tersebut dibaca Barat sebagai kisah sukses pembangunan. Sementara Indonesia hari ini lebih cepat dicurigai sedang bergerak menuju otoritarianisme.

Kecurigaan itu semakin besar karena keterlibatan militer dalam berbagai program pemerintahan Prabowo. Tetapi lagi-lagi, artikel The Economist tampak gagal membedakan antara military-assisted state capacity dan military political domination.

Dalam konteks Indonesia, TNI adalah salah satu institusi dengan kapasitas logistik paling nyata yang dimiliki negara. Ketika pemerintah ingin membangun ribuan dapur, gudang distribusi, sistem pengangkutan pangan, dan pengawasan operasional dalam waktu singkat, keterlibatan militer hampir tidak terhindarkan. Persoalannya bukan apakah militer terlibat atau tidak, melainkan apakah ada batas yang jelas, pengawasan sipil yang kuat, audit yang transparan, dan mekanisme agar keterlibatan itu tidak berubah menjadi dominasi politik permanen.

Samuel Huntington dalam The Soldier and the State (1957) menekankan bahwa profesionalisme militer tidak ditentukan oleh absennya militer dari urusan sipil, tetapi oleh kejelasan batas fungsi dan subordinasi terhadap otoritas politik sipil. Di titik ini, diskusi Indonesia semestinya bergerak pada desain pengawasan institusional, bukan sekadar ketakutan historis terhadap bayang-bayang Orde Baru.

Artikel The Economist juga terlalu personal dalam membaca Prabowo. Hampir seluruh persoalan demokrasi Indonesia hari ini diproyeksikan sebagai produk karakter pribadi seorang mantan jenderal dengan masa lalu kontroversial.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Presiden Prabowo Tepis Isu RI Bakal Collapse, Sebut Indonesia Masih Oke!

Presiden Prabowo Tepis Isu RI Bakal Collapse, Sebut Indonesia Masih Oke!

Video | Senin, 18 Mei 2026 | 11:00 WIB

Riwayat Pendidikan Prabowo Subianto yang Bilang Orang Desa Tak Pakai Dolar

Riwayat Pendidikan Prabowo Subianto yang Bilang Orang Desa Tak Pakai Dolar

Lifestyle | Senin, 18 Mei 2026 | 10:34 WIB

Mengapa Komentar Presiden soal Rupiah dan Dolar Menyesatkan sekaligus Berbahaya?

Mengapa Komentar Presiden soal Rupiah dan Dolar Menyesatkan sekaligus Berbahaya?

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 06:05 WIB

Pernyataan Orang Desa Tak Pakai Dolar Menyesatkan, FKBI Ingatkan Prabowo RI Ketergantungan Impor

Pernyataan Orang Desa Tak Pakai Dolar Menyesatkan, FKBI Ingatkan Prabowo RI Ketergantungan Impor

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 19:15 WIB

Prabowo: Keamanan dan Ketertiban Negara Sangat Ditentukan oleh Pangan

Prabowo: Keamanan dan Ketertiban Negara Sangat Ditentukan oleh Pangan

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 17:05 WIB

Terkini

Tak Ada Cara Lain Pemulihan Ekonomi: Tumbuhkan Trust dan Reschedule Utang

Tak Ada Cara Lain Pemulihan Ekonomi: Tumbuhkan Trust dan Reschedule Utang

Opini | Rabu, 13 Mei 2026 | 13:11 WIB

Komcad dalam Paradigma Baru SDM: dari Meja Kantor ke Garis Pertahanan

Komcad dalam Paradigma Baru SDM: dari Meja Kantor ke Garis Pertahanan

Opini | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:25 WIB

Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma

Membedah Pertanggungjawaban Kasus Koperasi Swadharma

Opini | Rabu, 29 April 2026 | 07:36 WIB

Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI

Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI

Opini | Sabtu, 18 April 2026 | 08:05 WIB

Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China

Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China

Opini | Rabu, 15 April 2026 | 12:29 WIB

Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'

Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'

Opini | Jum'at, 27 Maret 2026 | 16:32 WIB

Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara

Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara

Opini | Senin, 16 Maret 2026 | 12:47 WIB

Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak

Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak

Opini | Senin, 02 Maret 2026 | 14:26 WIB

Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran

Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran

Opini | Jum'at, 13 Februari 2026 | 13:31 WIB

Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak

Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak

Opini | Selasa, 10 Februari 2026 | 15:33 WIB