Membaca Ketakutan The Economist terhadap Prabowo

Pius Lustrilanang | Aktivis dan mantan politikus Partai Gerindra.

Membaca Ketakutan The Economist terhadap Prabowo
Aktivis dan politikus Pius Lustrilanang. [Suara.com/Syahda]
baca 10 detik
  • Artikel The Economist mengkritik kebijakan fiskal Presiden Prabowo yang berisiko mengancam stabilitas ekonomi dan demokrasi di Indonesia.
  • Program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis dinilai berisiko membebani anggaran negara di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global.
  • Tantangan pemerintahan Prabowo adalah menjaga disiplin fiskal agar tidak memicu krisis politik dan tuduhan otoritarianisme di masa depan.

Suara.com - Artikel The Economist berjudul “Indonesia’s President is Jeopardising the Economy and Democracy” pada dasarnya bukan sekadar kritik terhadap Prabowo Subianto. Tulisan itu sesungguhnya mencerminkan kecemasan yang lebih besar: ketakutan bahwa Indonesia sedang bergerak menjauh dari model demokrasi liberal yang selama dua dekade terakhir dianggap sebagai fondasi stabilitas politik dan ekonomi Asia Tenggara.

Kecemasan itu tidak sepenuhnya salah. Namun artikel tersebut juga memperlihatkan keterbatasan klasik cara pandang liberal-Barat dalam membaca negara berkembang yang sedang berusaha membangun kembali kapasitas negaranya. Di titik inilah tulisan The Economist menjadi menarik, bukan hanya sebagai kritik politik, tetapi juga sebagai dokumen ideologis tentang bagaimana dunia Barat memandang Indonesia hari ini.

Bagian terkuat dari artikel tersebut sebenarnya terletak pada kritik fiskalnya. Dalam konteks ekonomi makro, kekhawatiran terhadap arah kebijakan Prabowo memang memiliki dasar yang serius.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan jaringan koperasi desa, ekspansi subsidi, serta berbagai proyek populis lainnya memang membutuhkan pembiayaan luar biasa besar. Pada saat bersamaan, Indonesia sedang menghadapi tekanan eksternal berupa pelemahan harga komoditas, ketidakpastian geopolitik, pelemahan rupiah, dan meningkatnya beban pembayaran bunga utang.

Dalam perspektif ekonomi politik, kondisi semacam ini berbahaya. Charles Kindleberger dalam Manias, Panics, and Crashes (1978) menjelaskan bahwa krisis ekonomi sering kali tidak muncul semata karena besarnya utang, tetapi karena hilangnya kepercayaan pasar terhadap kemampuan negara menjaga disiplin fiskal. Di titik itu, psikologi pasar menjadi lebih menentukan dibanding angka statistik itu sendiri.

Ketika The Economist menyoroti kemungkinan pelebaran defisit dan ancaman penurunan peringkat kredit Indonesia, kekhawatiran tersebut tidak dapat dianggap sekadar propaganda anti-Prabowo. Pasar global memang sangat sensitif terhadap tanda-tanda pelemahan institusi fiskal, terutama di negara berkembang.

Namun persoalannya, artikel tersebut terlalu cepat melompat dari kritik fiskal menuju kesimpulan tentang ancaman otoritarianisme. Seolah-olah ekspansi peran negara otomatis identik dengan kemunduran demokrasi. Di sinilah bias ideologis tulisan itu mulai terlihat.

Program MBG dibaca hampir sepenuhnya sebagai proyek populis. Padahal jika dilihat lebih mendalam, program ini jauh lebih besar daripada sekadar bantuan sosial elektoral.

Negara sedang mencoba membangun sistem distribusi pangan nasional berskala industrial: dapur sentral, rantai pasok, pengawasan gizi, distribusi harian, hingga integrasi koperasi desa dan logistik nasional. Dalam bahasa Peter Evans dalam Embedded Autonomy (1995), ini merupakan upaya membangun kembali kapasitas negara melalui intervensi langsung terhadap sektor sosial-ekonomi strategis.

baca juga

Prabowo tampaknya percaya bahwa legitimasi negara tidak cukup dibangun hanya melalui prosedur demokrasi elektoral, tetapi juga melalui kemampuan negara hadir secara nyata dalam kehidupan rakyat. Cara berpikir seperti ini sebenarnya lebih dekat dengan tradisi developmental state Asia Timur dibanding populisme Amerika Latin.

Jepang pasca perang, Korea Selatan era Park Chung-hee, hingga Singapura di bawah Lee Kuan Yew juga memperlihatkan pola serupa: negara kuat, birokrasi dominan, disiplin sosial tinggi, dan keterlibatan negara yang agresif dalam pembangunan ekonomi. Perbedaannya, negara-negara tersebut dibaca Barat sebagai kisah sukses pembangunan. Sementara Indonesia hari ini lebih cepat dicurigai sedang bergerak menuju otoritarianisme.

Kecurigaan itu semakin besar karena keterlibatan militer dalam berbagai program pemerintahan Prabowo. Tetapi lagi-lagi, artikel The Economist tampak gagal membedakan antara military-assisted state capacity dan military political domination.

Dalam konteks Indonesia, TNI adalah salah satu institusi dengan kapasitas logistik paling nyata yang dimiliki negara. Ketika pemerintah ingin membangun ribuan dapur, gudang distribusi, sistem pengangkutan pangan, dan pengawasan operasional dalam waktu singkat, keterlibatan militer hampir tidak terhindarkan. Persoalannya bukan apakah militer terlibat atau tidak, melainkan apakah ada batas yang jelas, pengawasan sipil yang kuat, audit yang transparan, dan mekanisme agar keterlibatan itu tidak berubah menjadi dominasi politik permanen.

Samuel Huntington dalam The Soldier and the State (1957) menekankan bahwa profesionalisme militer tidak ditentukan oleh absennya militer dari urusan sipil, tetapi oleh kejelasan batas fungsi dan subordinasi terhadap otoritas politik sipil. Di titik ini, diskusi Indonesia semestinya bergerak pada desain pengawasan institusional, bukan sekadar ketakutan historis terhadap bayang-bayang Orde Baru.

Artikel The Economist juga terlalu personal dalam membaca Prabowo. Hampir seluruh persoalan demokrasi Indonesia hari ini diproyeksikan sebagai produk karakter pribadi seorang mantan jenderal dengan masa lalu kontroversial.

Padahal pelemahan checks and balances, politik kartel, dominasi oligarki, hingga politisasi penegakan hukum sudah berlangsung jauh sebelum Prabowo menjadi presiden.

Vedi Hadiz dalam Localising Power in Post-Authoritarian Indonesia (2010) justru menunjukkan bahwa setelah Reformasi, Indonesia tidak benar-benar keluar dari dominasi elite lama. Yang berubah hanyalah pola distribusi kekuasaannya.

Demokrasi Indonesia berkembang menjadi sistem elektoral yang tetap dikuasai oleh konsolidasi elite politik dan ekonomi. Karena itu, terlalu sederhana jika seluruh kecenderungan iliberal Indonesia hari ini diletakkan hanya di pundak Prabowo. Ia mungkin mempercepat proses tersebut, tetapi ia bukan penciptanya.

Meski demikian, ada satu hal yang sangat tepat ditangkap oleh The Economist: kombinasi antara tekanan fiskal, konsentrasi kekuasaan, dan melemahnya oposisi memang dapat menjadi campuran berbahaya. Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa krisis ekonomi hampir selalu berubah menjadi krisis politik. Kejatuhan Soekarno didahului kehancuran ekonomi. Kejatuhan Soeharto dipicu krisis moneter. Dalam konteks seperti itu, pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan nilai tukar, tetapi juga persoalan legitimasi politik.

Inilah tantangan terbesar pemerintahan Prabowo. Jika ia berhasil menjaga stabilitas fiskal sambil membangun kapasitas negara melalui MBG dan proyek-proyek sosialnya, ia mungkin akan dikenang sebagai arsitek baru negara kesejahteraan Indonesia. Tetapi jika disiplin fiskal runtuh, rupiah terus melemah, dan ketidakpuasan sosial membesar, maka seluruh narasi tentang pembangunan negara kuat akan berubah menjadi tuduhan otoritarianisme yang jauh lebih sulit dibendung.

Pada akhirnya, artikel The Economist terlalu bias secara ideologis dan terlalu hitam-putih dalam membaca Prabowo. Tetapi justru karena itu tulisan tersebut penting dibaca. Ia menunjukkan bagaimana dunia internasional mulai memandang Indonesia: bukan lagi sekadar demokrasi muda yang menjanjikan, tetapi negara besar yang sedang dipertaruhkan arah masa depannya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Presiden Prabowo Tepis Isu RI Bakal Collapse, Sebut Indonesia Masih Oke!

Presiden Prabowo Tepis Isu RI Bakal Collapse, Sebut Indonesia Masih Oke!

Video | Senin, 18 Mei 2026 | 11:00 WIB

Riwayat Pendidikan Prabowo Subianto yang Bilang Orang Desa Tak Pakai Dolar

Riwayat Pendidikan Prabowo Subianto yang Bilang Orang Desa Tak Pakai Dolar

Lifestyle | Senin, 18 Mei 2026 | 10:34 WIB

Mengapa Komentar Presiden soal Rupiah dan Dolar Menyesatkan sekaligus Berbahaya?

Mengapa Komentar Presiden soal Rupiah dan Dolar Menyesatkan sekaligus Berbahaya?

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 06:05 WIB

Pernyataan Orang Desa Tak Pakai Dolar Menyesatkan, FKBI Ingatkan Prabowo RI Ketergantungan Impor

Pernyataan Orang Desa Tak Pakai Dolar Menyesatkan, FKBI Ingatkan Prabowo RI Ketergantungan Impor

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 19:15 WIB

Prabowo: Keamanan dan Ketertiban Negara Sangat Ditentukan oleh Pangan

Prabowo: Keamanan dan Ketertiban Negara Sangat Ditentukan oleh Pangan

News | Minggu, 17 Mei 2026 | 17:05 WIB

Terkini

Program Pemerintah Harus Punya Umur Panjang, Bukan Sekadar Anggaran Panjang

Program Pemerintah Harus Punya Umur Panjang, Bukan Sekadar Anggaran Panjang

Your Say | Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:40 WIB

Industri Kretek Terancam Aturan Nikotin-TAR, 600 Ribu Pekerja SKT Jadi Taruhan

Industri Kretek Terancam Aturan Nikotin-TAR, 600 Ribu Pekerja SKT Jadi Taruhan

Bisnis | Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:40 WIB

Harga Minyak Dunia Stabil, Pasokan Timur Tengah Mulai Pulih

Harga Minyak Dunia Stabil, Pasokan Timur Tengah Mulai Pulih

Bisnis | Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:40 WIB

Timnas Indonesia Diprediksi Menang 3-0 Atas Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026

Timnas Indonesia Diprediksi Menang 3-0 Atas Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026

Bola | Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:37 WIB

Sinopsis 'Okaeri, Hatsukoi', Drama Terbaru Higuchi Kouhei dan Hayashi Meari

Sinopsis 'Okaeri, Hatsukoi', Drama Terbaru Higuchi Kouhei dan Hayashi Meari

Your Say | Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:34 WIB

Harga BBM Hari Ini 1 Oktober 2026: Pertalite hingga Pertamax

Harga BBM Hari Ini 1 Oktober 2026: Pertalite hingga Pertamax

News | Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:33 WIB

Sidang Kasus Kuota Haji Hari Ini, Jaksa Hadirkan Bos Maktour Fuad Hasan Masyhur

Sidang Kasus Kuota Haji Hari Ini, Jaksa Hadirkan Bos Maktour Fuad Hasan Masyhur

News | Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:30 WIB

KPK Hadirkan Fuad Hasan Masyhur Dalam Sidang Korupsi Kuota Haji Hari Ini

KPK Hadirkan Fuad Hasan Masyhur Dalam Sidang Korupsi Kuota Haji Hari Ini

Sulsel | Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:25 WIB

Gen Z Mulai Doyan Emas, Pembiayaan Konsumer BCA Syariah Tumbuh 34,69%

Gen Z Mulai Doyan Emas, Pembiayaan Konsumer BCA Syariah Tumbuh 34,69%

Bisnis | Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:25 WIB

IHSG Dibuka Betah di Zona Merah ke Level 6.062

IHSG Dibuka Betah di Zona Merah ke Level 6.062

Bisnis | Kamis, 01 Oktober 2026 | 09:19 WIB

×