Bermobil Keliling Bhutan, Nonton Pesawat Landing dan Take Off Dramatis

RR Ukirsari Manggalani

Senin, 19 Agustus 2019 | 13:00 WIB
Bermobil Keliling Bhutan, Nonton Pesawat Landing dan Take Off Dramatis
National Memorial Chorten di Thimphu bagi Raja Jigme Dorjee Wangchuck (1928–1972) [Cherie (IG: never_stop_exploriiing)]

Perasaan seru tentang wisata bermobil di Bhutan ini sudah saya rasakan sejak tiba di Bangkok, Thailand. Salah satu negara di mana pesawat milik Bhutan beroperasi. Di ibu kota Negara Siam (sebutan bagi Thailand) itu saya mesti menginap satu malam, mengingat penerbangan mestinya dilakukan pagi hari namun mengalami cancellation. Sehingga diberikan jadwal hari berikutnya.

Terbang mendekati Paro, suasana terasa makin keren. Apalagi, Paro Airport adalah salah satu bandara paling berbahaya di dunia. Dalam artian merujuk pada kondisi geografisnya. Berlokasi di pegunungan dengan kondisi runway dan jarak pendaratan yang pendek. Dan hal ini masih ditambah pula dengan faktor cuaca.

Pilot membuka jendela pesawat untuk mengucapkan selamat datang di Parho, Bhutan [Cherie (IG: never_stop_exploriiing)]
Pilot membuka jendela pesawat untuk mengucapkan selamat datang di Paro, Bhutan [Cherie (IG: never_stop_exploriiing)]

Sementara berbicara tentang pemandangan dari atas pesawat sendiri, tampak begitu indah. Dari kaca jendela, saya bisa melihat rumah-rumah penduduk di dataran tinggi rangkaian Pegunungan Himalaya. Lantas sebelum landing, pesawat berputar dan berada dalam posisi miring, sampai mendekati lintasan pendaratan baru kembali lurus.

Dan akhirnya mendarat dengan mulus. Ketika para penumpang turun pesawat, pilot membuka jendela dan tersenyum kepada kami semua. Welcome to Bhutan!

Sampai saat ini, menilik kondisi geografis serta runway di bandara Paro, jumlah pilot yang bertugas menerbangkan penumpang ke Bhutan bisa dihitung dengan jari. Mereka memiliki lisensi khusus boleh mendarat di sini.

Hidangan dalam penerbangan menuju Paro, Bhutan melalui Bangkok, Thailand [Cherie (IG: never_stop_exploriiing)]
Hidangan dalam penerbangan menuju Paro, Bhutan melalui Bangkok, Thailand [Cherie (IG: never_stop_exploriiing)]

Yang membuat para wisatawan bisa salfok alias salah fokus soal kabin crew pesawat milik Bhutan adalah ... mereka sangatlah keren lagi tampan. Berkulit bersih mirip Indo China, namun bila tengah berbicara baru ketahuan mereka asal Bhutan, negara tetangga India, dengan gaya menggerak-gerakkan kepala.

Hal ini juga tampak pada sosok kedua penjemput saya di bandara, Rinchen dan Kindey Duba. Mereka berkulit bersih dan baru terasa asli Bhutan ketika mulai bercakap-cakap.

Untuk kami bertiga, kendaraan sewaan adalah sedan lansiran Hyundai. Selain itu, di berbagai tempat di Bhutan, mayoritas produk kendaraan roda empat atau mobil yang tersedia adalah buatan Toyota, Maruti Suzuki, serta Hyundai.

Setelah dikalungi semacam syal tanda selamat datang, saya pun mendapatkan keterangan detail dari Kindey Duba tentang rencana perjalanan kami. Dan sekali lagi perlu digarisbawahi oleh calon wisatawan, bahwa Bhutan adalah negara bebas rokok dan bebas plastik.

baca juga

Sebelum meninggalkan bandara Paro itulah, mobil sewa saya yang disopiri Rinchen berhenti beberapa saat lamanya di atas sebuah bukit untuk menonton aktivitas take off dan landing dari pesawat-pesawat milik Bhutan. Seru sekaligus mendebarkan. Sebuah tontonan yang sangat menarik.

Laman berikut adalah tentang filosofi GNH. Apakah itu?

Setelah menyaksikan kegiatan di bandara, salah satu perjalanan terkeren di kota Paro adalah kunjungan ke Tiger's Nest alias Sarang Harimau, di sebelah utara kota dengan keunikan lokasi. Yaitu seperti "menempel" pada lereng perbukitan curam di ketinggian sekitar 3.120 m di atas paras laut (dpl).

Pengunjung bisa mencapai lokasi biara Paro Taktsang dengan cara mendaki atau naik keledai menuju ke puncak salah satu pintu masuknya yang terbagi menjadi berapa area, seperti jalur hutan pinus, jalur para peziarah, serta jalur jalanan berbatu.

The Tiger's Nest atau Taktsang di Lembah Paro  [Cherie (IG: _never__stop__exploriiing_]
The Tiger's Nest atau Taktsang di Lembah Paro [Cherie (IG: never_stop_exploriiing]

Salah satu momen paling menarik di biara terpencil di atas gunung bebatuan ini adalah saat mencoba bersuara di dalam gua yang menggema. Saya mencoba menirukan suara harimau mengaum. Maklum, saya adalah pencinta kucing, dan satwa rumahan itu konon masih terhitung saudara tua dari harimau.

Namun sayangnya, atau malahan beruntungnya, tidak ada suara sahutan pada saat para pengunjung mengaum. Coba bila ada, tentu saja kami akan lari tunggang-langgang!

Dalam perjalanan ke Tiger's Nest, Kindey Duba juga menjelaskan bahwa Bhutan adalah sebuah kerajaan kecil yang terletak di antara dua negara raksasa, yaitu China di bagian utara, serta India di bagian selatan. Luas negara mencapai 38.394 km persegi, jumlah penduduk mencapai 797.335 orang, dan agama Buddha Mahayana menjadi agama negara.

Sebagai negara yang digambarkan dengan tagline The Land of Happiness, bila negara-negara lain menggunakan penghitungan ekonomi Gross National Product (GNP) atau pendapatan total ekonomi suatu negara selama satu tahun, termasuk nilai produksi yang dihasilkan oleh penduduknya, Bhutan berbeda. Mereka malahan menyodorkan filosofi GNH atau Gross National Happiness alias pendapatan total kebahagiaan nasional. Unik bukan?

Tentang kehidupan keseharian di Bhutan, penghasilan atau gaji satu bulan yang ditetapkan pemerintah untuk pekerja awal setara staf adalah sekitar 270 dolar Amerika Serikat (AS) atau mendekati Rp 4 juta. Dari angka ini, 40 persen dibayarkan untuk sewa rumah, yang mencapai 140 dolar AS per bulan, atau mendekati Rp 2 juta. Sementara bila ingin membeli apartemen dengan tiga kamar tidur, harganya sekitar 1 juta dolar AS atau sekitar Rp 14.223.050.000.

Penulis (tengah), bersama Rinchen (kiri) dan Kindey Duba (kanan) [Cherie (IG: _never__stop__exploriiing_]
Penulis (tengah), bersama Rinchen (kiri) dan Kindey Duba (kanan) [Cherie (IG: never_stop_exploriiing)]

Di tulisan selanjutnya yang bakal menjadi rangkaian penutup, akan ditemukan jawaban atas pertanyaan berapa kalikah warga Bhutan dibolehkan menikah? Temukan jawabannya di artikel mendatang.

Catatan: artikel ketiga dari empat bagian yang ditulis oleh Cherie (IG: never_stop_exploriiing, youtu.be/KS9tb5q3x2o) untuk kanal otomotif Suara.com

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Top 5 Sepekan: Putra Presiden Jajal Supercar sampai Aturan Mobil Listrik

Top 5 Sepekan: Putra Presiden Jajal Supercar sampai Aturan Mobil Listrik

Otomotif | Minggu, 18 Agustus 2019 | 07:00 WIB

Bermobil Keliling Bhutan, Tersipu Malu Ketemu Mr P Raksasa!

Bermobil Keliling Bhutan, Tersipu Malu Ketemu Mr P Raksasa!

Otomotif | Jum'at, 16 Agustus 2019 | 13:00 WIB

Serunya Bermobil di Bhutan, Dari Sarang Harimau ke Jembatan Terpanjang

Serunya Bermobil di Bhutan, Dari Sarang Harimau ke Jembatan Terpanjang

Otomotif | Selasa, 13 Agustus 2019 | 13:00 WIB

Terkini

Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu

Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu

Jabar | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:46 WIB

Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama

Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama

Sumsel | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:32 WIB

Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan

Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan

Lifestyle | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:24 WIB

Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?

Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?

Sumsel | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:18 WIB

10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas

10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas

Sumsel | Senin, 17 Agustus 2026 | 23:07 WIB

Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja

Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja

Sport | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:54 WIB

Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?

Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?

Tekno | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:28 WIB

175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya

175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya

Riau | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:17 WIB

Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?

Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?

News | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:10 WIB

Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi

Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi

Tekno | Senin, 17 Agustus 2026 | 22:04 WIB

×