Cina Ancam Balas AS, Jerman Tawarkan Mediasi

dw
Cina Ancam Balas AS, Jerman Tawarkan Mediasi

Pemerintah Cina mengancam bakal membalas tindak Presiden Donald Trump membatasi akses mahasiswa asal Tiongkok terhadap perguruan tinggi Amerika Serikat.  

Langkah itu membidik mahasiswa yang berhubungan dengan Partai Komunis Cina (PKC) dan diambil sebagai reaksi atas pengesahan Undang-undang Keamanan Nasional untuk Hong Kong.  

“Setiap kata atau tindakan yang melukai kepentingan Cina akan dijawab dengan serangan balasan oleh pemerintah Cina,” kata jurubicara Kementerian Luar Negeri Zhao Lijian, Senin (1/6). 

Dia mengatakan kedua negara selama ini diuntungkan oleh kerjasama bilateral, namun Beijing tidak akan ragu mempertahankan kepentingan ekonomi dan keamanannya, kata Zhao. 

Gedung Putih sebelumnya menerbitkan Proklamasi Kepresidenan yang setara Perintah Presiden untuk mengusir atau melarang masuk mahasiswa Cina yang bekerja untuk semua lembaga milik PKC. Mahasiswa yang terlibat dalam “strategi penggabungan militer-sipil” oleh pemerintah Beijing juga nantinya dilarang mendaftar masuk universitas AS.  

Menurut Kementerian Keamanan Dalam Negeri, pada tahun akademik 2018/19 sebanyak 272,470 mahasiswa Cina terdaftar di AS, 84,480 di antaranya mengenyam studi di bidang sains dan ilmu terapan, demikian dilaporkan Forbes.  

Presiden Trump berulangkali menuding sejumlah mahasiswa Cina ikut melakukan spionase bisnis dan teknologi selama berada di AS. Termasuk perintah Gedung Putih kepada Kemenlu di Washington adalah mencabut visa dan izin tinggal bagi sejumlah mahasiswa Cina yang sudah berada di AS.  

Vonis ringan legakan pasar 

Eskalasi teranyar seputar isu Hong Kong mencuatkan kekhawatiran pasar, Donald Trump akan mengambil langkah dramatis terhadap Cina. Namun keresahan tersebut mereda ketika reaksi Washington tidak separah seperti yang sebelumnya dikhawatirkan. 

Karena meski Washington mencabut sejumlah hak istimewa Hong Kong atau memerintahkan penyelidikan terhadap sejumlah perusahaan Cina di AS, “yang terpenting tidak ada kenaikan tarif impor atau sanksi yang bersifat luas,“ kata Tapas Strickland, ekonomis di Bank Nasional Australia. 

“Sebagian mengaitkan (vonis ringan terhadap Cina) dengan kebutuhan Presiden Trump agar ekspor komoditas pertanian meningkat dan menggairahkan kantung pendukungnya di kawasan barat tengah jelang pemilu, November mendatang.“ 

Persaingan dagang kedua negara adidaya terlihat dari jumlah negara yang menjadi mitra dagang terbesar bagi Cina (oranye) atau AS (biru).

“Dengan fase pertama pembahasan perjanjian dagang masih utuh, dampak eskalasi teranyar tidak begitu mengkhawatirkan,“ imbuhnya lagi. 

Usai pengumuman oleh Trump, bursa Hang Seng di Hong Kong merangkak naik lebih dari tiga persen, Senin (1/6). Kenaikan ini adalah perkembangan positif pertama di lantai bursa setelah mengalami spiral kejatuhan selama aksi protes terhadap UU Keamanan Nasional berkecamuk. 

Konferensi pers di Gedung Putih “penuh kata-kata kritis terhadap Cina, tapi tidak membuahkan banyak tindakan,“ kata Stephen Innes, Kepala Strategi Pemasaran Global di AxiTrader. 

“Kebanyakan ekonomis meyakini dampak langsung dari pencabutan status cukai istimewa Hong Kong dan pengawasan terhadap ekspor akan sangat terbatas. Hong Kong masih tetap bebas dan nilai ekspornya ke AS hanya berkisar 0,1 persen dari Produk Domestik Bruto.“ 

Hong Kong: 20 Tahun Setelah Dikembalikan ke Cina 1997: Momentum Bersejarah

Penyerahan Hong Kong dari Inggris kepada Cina terjadi tanggal 1 Juli 1997. Wilayah Hong Kong menjadi koloni Inggris tahun 1842 dan dikuasai Jepang selama Perang Dunia II. Setelah Hong Kong kembali ke Cina, situasi politiknya disebut "satu negara, dua sistem."

Hong Kong: 20 Tahun Setelah Dikembalikan ke Cina 1999: Tidak Ada Reuni Keluarga

Keluarga-keluarga yang terpisah akibat perbatasan Hong Kong berharap akan bisa bersatu lagi, saat Hong Kong kembali ke Cina. Tetapi karena adanya kuota, hanya 150 orang Cina boleh tinggal di Hong Kong, banyak yang kecewa. Foto: Aksi protes warga Cina (1999) setelah permintaan izin tinggal ditolak oleh Hong Kong.

Hong Kong: 20 Tahun Setelah Dikembalikan ke Cina 2002: Harapan Yang Kandas

Masalah izin tinggal muncul lagi April 2002 ketika Hong Kong mulai mendeportasi sekitar 4.000 warga Cina yang "kalah perang" untuk dapat izin tinggal di daerah itu. Keluarga-keluarga yang melancarkan aksi protes di lapangan utama digiring secara paksa.

Hong Kong: 20 Tahun Setelah Dikembalikan ke Cina 2003: Pandemi SARS

2003, virus SARS yang sangat mudah menular mencengkeram Hong Kong. Maret tahun itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan adanya pandemi di kawasan itu. Pria ini (foto) hadir dalam upacara penguburan Dokter Tse Yuen-man bulan Mei. Dr. Tse secara sukarela menangani pasien SARS dan tertular virus itu. Hong Kong dinyatakan bebas SARS Juni 2003. Hampir 300 orang tewas akibat penyakit ini.

Hong Kong: 20 Tahun Setelah Dikembalikan ke Cina 2004: Demonstrasi bagi Demokrasi

Politik Cina "satu negara, dua sistem" kerap sebabkan ketegangan. 2004, dalam peringatan ke tujuh penyerahan kembali Hong Kong, ratusan ribu orang memprotes, dan menuntut reformasi politik. Mereka menyerukan demokrasi dan pemilihan pemimpin Hong Kong berikutnya.

Hong Kong: 20 Tahun Setelah Dikembalikan ke Cina 2008: Tidak Ada Tempat Tinggal

Harga properti yang sangat tinggi sebabkan biaya sewa yang juga tinggi. 2008 rasanya tak aneh jika melihat orang seperti Kong Siu-kau tinggal di apa yang disebut "rumah kandang." Besarnya 1,4 m persegi, dikelilingi kawat besi, dan dalam satu ruang biasanya ada delapan. Sekarang sekitar 200.000 orang menyebut sebuah "kandang" atau satu tempat tidur di apartemen yang disewa bersama, sebagai rumah.

Hong Kong: 20 Tahun Setelah Dikembalikan ke Cina 2009: Mengingat Lapangan Tiananmen

Saat peringatan 20 tahun pembantaian brutal pemerintah Cina di Lapangan Tiananmen (4 Juni 1989), penduduk Hong Kong berkumpul dan menyalakan lilin di Victoria Park. Ini menunjukkan perbedaan besar antara Hong Kong dan Cina. Di Cina pembantaian atas orang-orang dan mahasiswa yang prodemokrasi hanya disebut Insiden Empat Juni.

Hong Kong: 20 Tahun Setelah Dikembalikan ke Cina 2014: Aksi Occupy Central

Sejak September 2014, protes skala besar yang menuntut lebih luasnya otonomi mencengkeram Hong Kong selama lebih dari dua bulan. Ketika itu Beijing mengumumkan Cina akan memutuskan calon pemimpin eksekutif Hong Kong dalam pemilihan 2017. Aksi protes disebut Revolusi Payung, karena demonstran menggunakan payung untuk melindungi diri dari semprotan merica dan gas air mata.

Hong Kong: 20 Tahun Setelah Dikembalikan ke Cina 2015: Olah Raga Yang Penuh Politik

Kurang dari setahun setelah Occupy Central berakhir, Cina bertanding lawan Hong Kong dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia sepak bola, 17 November 2015. Para pendukung Cina tidak disambut di Hong Kong. Para fans Hong Kong mengejek dan berteriak-teriak ketika lagu kebangsaan Cina dimainkan, dan mengangkat poster bertuliskan "Hong Kong bukan Cina." Pertandingan berakhir 0-0.

Hong Kong: 20 Tahun Setelah Dikembalikan ke Cina 2016: Kekerasan Baru

February 2016 tindakan brutal polisi Hong Kong kembali jadi kepala berita. Pihak berwenang berusaha singkirkan pedagang ilegal di jalanan dari kawasan pemukiman kaum buruh di Hong Kong. Mereka mengirim polisi anti huru-hara, yang menggunakan pentungan dan semprotan merica. Bentrokan ini yang terbesar setelah Revolusi Payung 2014. Penulis: Carla Bleiker (ml/hp)

Mediasi oleh Jerman 

Sementara itu Jerman menawarkan mediasi antara Cina dan Amerika Serikat ketika memangku Kepresidenan Dewan Eropa. Tawaran itu dilayangkan Menteri Luar Negeri Heiko Maas kepada harian Westdeutsche Allgemeine Zeitung, Senin (1/6). 

“Kita warga Eropa tidak berkepentingan bahwa hubungan Cina dan Amerika Serikat memburuk ke titik terendah,” katanya. “Selama Kepresidenan Dewan Eropa yang dimulai 1 Juli, tugas ini tentu jatuh ke tangan kami.” 

Sebab itu dia mendesak agar Pertemuan Puncak Uni Eropa dan Cina tetap digelar September mendatang. “Ada banyak yang harus kita bahas dengan Cina,” imbuhnya sembari menambahkan, Eropa tetap mengusung nilai-nilai dasar yang “akan kami tuntut dalam pembicaraan dengan pihak Cina.” 

KTT Uni Eropa-Cina sedianya digelar di kota Leipzig, antara 13-15 September 2020. Selain soal politik dan perdagangan, Cina juga akan diminta lebih berkomitmen terhadap sasaran pengurangan emisi Karbondioksida, tutur Maas. 

rzn/vlz (dpa, afp, rtr, scmp) 


 

Terkini

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS