TIMESINDONESIA – Apa yang terjadi di Kalimantan Selatan (Kalsel) baru-baru ini menjadi bukti bahwa wilayah tutupan hutan di Kalsel semakin berkurang sehingga banjir sangat mudah menguasai lingkungan kota dan desa. Alasan ini sangatlah rasional sebab salah satu fungsi hutan adalah sebagai pengatur tata air sehingga air hujan yang turun akan terserap ke dalam tanah.
Meskipun sebagian orang menganalisa banjir Kalsel ini disebabkan anomali cuaca dalam bentuk curah hujan yang ekstrim, tapi akar masalah banjir Kalsel awal tahun 2021 ini tetap memiliki relevansi kausalitas yang kuat dengan tindakan destruktif dari perusakan hutan yang masif terjadi.
Adanya penurunan daya serap permukaan tanah yang berakibat banjir ini disebabkan karena alih fungsi lahan hutan untuk kawasan perkebunan kelapa sawit dan pertambangan yang terjadi di wilayah Kalsel. Dalam catatan sejarah lingkungan di Kalimantan, kegiatan penebangan atau penggundulan hutan untuk dialihgunakan untuk penggunaan selain hutan (deforestasi) di Kalimantan sudah terjadi selama puluhan tahun.