Poptren.suara.com - Banyak nongkrong banyak silaturahmi, banyak teman banyak rezeki, lupa nongkrong harus terima dighibahin sudah jadi rules kehidupan sehari-hari. Terlepas bekerja memenuhi sandang, pangan dan papan kita juga tidak lupa casan atau charger-an saat berangkat nongkrong.
Esensi nongkrong memang berkurang saat pandemi melanda. Adaptasi tongkrongan virtual juga mulai diada-adain biar tetep haha hihi bareng teman-teman. Sekuat ini cara mengkondisikan tongkrongan biar tetap kumpul walaupun tanggal tua, apalagi didukung rumahnya anak tongkrongan seperti warung kopi, warung rokok yang bisa 'bayarnya nanti dulu' hingga eksistensi tongkrongan coffee shop sampai resto buat arisan ibu-ibu sosialita yang syarat fancy.
Masalahnya adalah tidak semua tongkrongan memiliki kebiasaan baik. Banyak tongkrongan toxic yang harus kita hindari karena bisa membawa pengaruh buruk pada diri kita.
Berikut ini adalah 5 ciri-ciri tongkrongan toxic yang wajib kita hindari.
1. Bullying Dianggap Normal
Tongkrongan harusnya menjadi tempat yang nyaman bagi semua orang. Bisa menjadi tempat saling bercerita, bergurau, maupun sekadar melepas penat. Namun ada tongkrongan yang justru membuat salah satu atau beberapa orang di dalamnya merasa tidak nyaman, salah satunya karena bullying yang sering dilakukan.
Hal ini membuat lingkungan tongkrongan menjadi tidak menyenangkan dan justru berdampak buruk terutama bagi korban bully tersebut.
2. Adanya Diskriminasi
Tongkrongan adalah lingkungan tidak formal yang seharusnya bersikap egaliter atau setara. Tidak ada orang yang lebih tinggi posisinya dibanding orang lain. Oleh sebab itu, hendaknya semua orang memperlakukan dan diperlakukan dengan perlakuan yang sama. Jangan ada diskriminasi dalam tongkrongan baik karena umur, fisik, ras, maupun sebab lainnya.
Baca Juga: Berusia 49 Tahun, Ini Rahasia Heidy Klum Tetap Terlihat Awet Muda
3. Bercanda Berlebihan
Bercanda sudah menjadi bagian yang tidak terlepaskan dari tongkrongan. Setiap tongkrongan memiliki kebiasaan bercanda sendiri-sendiri. Namun bila bercandanya sudah berlebihan, misalnya dengan menghina orang lain, maka tongkrongan tersebut sudah tidak sehat.
4. Memaksakan Sikap atau Pilihan Individu
Wajar bila orang-orang di tongkrongan memiliki kedekatan emosional. Namun bukan berarti tongkrongan bisa memaksakan orang-orang di dalamnya untuk melakukan sesuatu. Jika tongkrongan kita sudah memaksakan sikap atau pilihan kita, maka kita perlu mengambil sikap tegas karena kita yang bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri.
5. Menanamkan Permusuhan
Tidak jarang tongkrongan menjadi sebuah kelompok yang fanatis. Namun jika tongkrongan sudah mengajak kita untuk memusuhi orang atau tongkrongan lain, lebih baik kita tinggalkan tongkrongan tersebut karena sudah tidak baik lagi untuk diri kita.