PURWASUKA - Nasib kurang beruntung menimpa salah satu anak bernama Shintya Jingga Cahyandari yang bersekolah di SMAN 2 Purwakarta. Ia merupakan perempuan hebat yang kini berjuang melawan penyakit Lupus yang ada di dalam tubuhnya.
Karena itu, sampai kini Shintya harus mendapat perawatan dari Rumah Sakit Hasan Sadikin dan harus melakukan kemoterapi. Namun, hal tersebut saat ini tak bisa dilakukan usai dirinya kini dinyatakan positif Covid-19.
Penderitaan Shintya ternyata sudah terjadi sejak Kecil, ia terpaksa harus tinggal bersama neneknya yang berprofesi sebagai penjual gorengan yang kondisinya juga sering sakit. Itu terjadi karena ayahnya Fajar Nurcahyo dan ibunya bernama Sari Trisnawati meninggal dunia.
Dengan kondisi yang serba pas–pasan Shintya harus rela menjalani kehidupan dengan serba kekurangan, bahkan untuk membiaya pengobatan dirinya dalam melawan penyakit yang dideritanya harus menunggu uluran tangan para donatur dan belas kasihan orang lain.
Saat ini, Shintya Jingga Cahyandari tinggal di Jalan Ipik Gandamanah, Kampung Sukamulya RT 03/06 Kelurahan Ciseureuh, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat tepatnya depan Klinik Donas Nugroho, masuk gang sempit bersama nenek dan adik kecilnya.
Kondisi memprihatikan itu sontak membuat Plt Kepala SMAN 2 Purwakarta Cecep Hendrik, S.Pd., M.Pd bersama dengan Wakasek Humas Deasy Kania Rakhmawati, S.Si prihatin.
Deasy Kania Rakhmawati menceritakan Shintya selama bersekolah di SMAN 2 Purwakarta. Ya, diketahui ia sendiri bagian dari siswi kelas X MIPA di SMAN 2 Purwakarta.
Selama sehat dan belum divonis menderita sakit Lupus oleh pihak rumah sakit, Deasy mengaku sering melihat Shintya ikut proses belajar seperti layaknya peserta didik lainya.
Selama satu semester, kondisinya sehat tidak terlihat tidak ada keluhan, malah sering diajak ngobrol dan anaknya selalu tersenyum. Memang anaknya pendiam, paling suka bercerita kondisi kehidupanya, dimana sebelum pergi dan pulang sekolah Shintya selalu membantu neneknya untuk membuat berjualan gorengan bala- bala, pisang goreng untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Baca Juga: Penyebab Pelaku Penembakan Kantor MUI Meninggal Dunia Usai Ditangkap, Ditembak atau Sakit?
Terlebih Shintya masih memiliki adik yang usianya masih kecil sehingga mau tidak mau karena situasi memaksa Shintya harus bekerja keras agar tetap mendapatkan rezeki untuk kelangsungan hidupnya bersama dengan nenek, adik dan dirinya.
Menurutnya, pihak sekolah baru mengetahui ketika pembagian raport pada semester pertama Shintya mengalami demam karena DBD, kemudian dibawah berobat namun karena BPJS nya mengalami tunggakan pembayaran sehingga sempat terjadi kendala.
“Kemudian pihak sekolah langsung menanganinya dengan menyelesaikan tunggakan BPJS yang nilainya sekitar Rp 2 juta, dan akhirnya Shintya harus dirawat karena divonis mengidap penyakit Lupus," ujar Plt SMAN 2 Purwakarta Cecep Hendrik diamini Wakasek Humas Deasy Kania, dikutip dari Transjabar.com pada 2 Mei 2023.
Usut punya usut, hingga kini biaya pengobatan Shintya bayarkan oleh para dermawan mulai dari sekolah, guru, dan peserta didik yang mau menyumbangkan sedikit rejekinya untuk Shintya.
“Alhamdulilah semua biaya selama Shintya menjalani pengobatan dibiayai oleh pihak sekolah, dananya diperoleh dari sumbangan dari sekolah, guru, dan peserta didik. Kami berharap Shintya segera sembuh agar kembali sekolah," tutupnya.***