SUARA SEMARANG – “Apakah pacaran bisa bahagia dan berakhir langgeng ? Bisa saja. Lantas untuk apa ta’aruf ? ,” sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik diutarakan dalam talkshow ‘Ta’aruf Belum Tentu Bahagia’.
Ustaz Yoppy Alghifari menerangkan, untuk melakukan segala sesuatu memang kita harus memulainya dengan why ? Mengapa kita harus melakukan hal tersebut.
Kita harus menemukan alasan kuat agar memiliki motivasi lebih. Termasuk mengapa kita harus memilih ta’aruf, alih-alih proses yang lain.
Ustaz Yoppy tidak menampik bila orang-orang yang berpacaran bisa mendapatkan kebahagiaan dan juga langgeng menjalani hubungan tersebut, bahkan hingga pelaminan.
“Ya, bisa saja,”katanya dalam talkshow yang diselenggarakan oleh Ami Muslimah Bride bekerjasama dengan Ta’aruf Online Indonesia di Beachday Resto pada Sabtu (8/9/2022).
Namun, lanjutnya, bahagia dan langgeng adalah sebuah hasil dan hasil merupakan ranah Tuhan. Allah SWT tidak akan menghisab (mengkalkulasi amal perbuatan manusia) atas hasil, karena hasil Allah yang tentukan.
Sedangkan pacaran, ta’aruf, keduanya adalah proses. Nah, proses inilah yang merupakan ranah manusia, dimana manusia bisa menentukan proses mana yang akan dia pilih.
Proses inilah yang kelak akan dihisab oleh Allah, dan Allah tidak meridhoi segala hal yang mendekati zina, termasuk halnya pacaran. Sedangkan taaruf, dari segi bahasa berarti saling mengenal. Sebuah proses menggali data calon pasangan, tanpa melanggar syariat.
Sebagaimana dalam QS. Al Isra : 32 “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”.
Baca Juga: Salah Kaprah Seputar Taaruf
Jadi, alasan pertama dan paling utama terkait ta’aruf adalah karena perintah Allah SWT. Perintah tersebut berlaku bagi seluruh muslim yang ingin menjalin hubungan dengan lawan jenis lebih jauh (pernikahan).
Sebagaimana pula disabdakan oleh Rasulullah SAW, “Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat membentengi diri,” (HR Bukhari).
“Jadi jelas ya, kalau belum mampu menikah (dari segi biologis maupun finansial), opsi-nya ya berpuasa, tidak ada opsi lain. Jadi pacaran ngga masuk ya,”ujar Ustaz Yoppy.
Sebagai catatan, ta’aruf tidak memiliki metode khusus, satu sama lain bisa berbeda dari cara menggali data calon pasangannya. Namun satu yang perlu digarisbahawahi, yaitu tetap dalam pakem syar’i.
“Contohnya proses pernikahan Ibunda Khadijah dengan Rasulullah, Ashim dengan Laila dan Zaid dengan Zainab,”ujar Ustaz Yoppy.
Selain alasan utama bahwa ta’aruf adalah perintah Allah yang wajib ditaati bagi tiap muslim, tentunya terdapat manfaat lain dari proses ini. Diantaranya, untuk menjaga kehormatan masing-masing calon agar terhindar dari perbuatan maksiat sebelum pernikahan.