Mendengar hal tersebut Ustadz pemilik pesantren menugaskan Ridho secara khusus untuk membututi Hilmi jika ia pergi keluar malam.
Suatu malam Hilmi pun keluar pesantren dibuntuti Ridho. Hilmi didapati Ridho terlihat masuk kedalam hutan dekat dengan perkampungan warga dilingkungan pesantren.
Hilmi membawa kantung plastik hitam, mengendap-ngendap dengan hati-hati memasuki hutan. Ridho terus membututi Hilmi sambil menjaga jarak.
Tiba-tiba Hilmi berhenti di tengah hutan dengan pohon lebat, ia duduk bersila sambil mulutnya komat kamit entah merapalkan apa, saksi Ridho.
Tak lama berselang, Ridho saksikan Hilmi didekati makhluk yang aneh, tubuhnya tinggi besar bertelanjang dada, namun aneh dan mengerikannya ketika melihat kepala mahluk itu, entah itu sebangsa jin atau siluman.
Kepala mahluk itu berkepala hewan babi walaupun perawakannya seperti manusia, ukuran kepala mahluk itu tidak biasa, kepala dan mulutnya lebih besar dari badannya.
Menjadi makin aneh. ketika mahluk itu bertambah makin banyak dan bertelanjang bulat dihadap Hilmi, dan mengajak shalat si Hilmi di tengah-tengah hutan dengan bertelanjang bulat secara berjamaah.
Menyaksikan hal itu Ridho kabur dan melaporkan kejadian yang ia saksikan kepada Ustadz pemilik Pesantren.
Esokan harinya sang Ustazd secara khusus menangani Hilmi di Pesantren, Utadz secara pribadi menanyakan berbagai hal kepada Hilmi.
Baca Juga: Kisah Teror Hantu Ivanna, Hantu Noni Belanda yang Penuh Amarah
Hilmi melakukan itu semua diakuinya sebagai upaya bentuk balas dendam, Hilmi ingin punya ilmu kebal terhadap senjata tajam dan jago dalam silat untuk bisa membalaskan dendam terhadap orang-orang yang telah merundungnya di sekolah Hilmi yang sebelumnya.
Mengetahui niat jelek yang ada pada Hilmi, Ustadz pun meruqyah Hilmi, sayangnya Ruqyah Utadz tidak berhasil, rapalan doa-doa ustadz malah dibalas dibalikan dirapal Hilmi dengan fasih.
Tak mempan dengan cara itu, Hilmi pun dikurung disuatu tempat, untuk mencoba pengobatan alternatif lain. Karena terlihat kondisi Hilmi makin tak karuan seperti kesurupan.
Setelah beberapa lama kondisinya tak membaik, Hilmi seperti tidak bisa dilepaskan dari pengaruh ilmu hitam ini, bahkan makin parah walaupun sudah dicoba alternatif pengobatan yang lain.
Makin hari Hilmi makin seperti orang gila, ia tidak mau makan makanan yang dikasih, ia hanya mau makan memakan kotorannya sendiri bahkan sampai dipasung.
Beberapa waktu lama berselang, Ridho mendapati kabar bahwa Hilmi meninggal, kabarnya orang tua hilmi telah membawanya dari Pesantren, dan kondisinya terus memburuk dalam pasungan sampai Hilmi pun meninggal dunia.***