Sukabumi.suara.com - Perusahaan BUMN Aneka Tambang (Antam) menjalin kerja sama global untuk pembuatan pabrik nikel yang akan menjadi bahan utama untuk mobil listrik.
Hal tersebut disampaikan oleh Nico, selaku salah satu perwakilan kerja sama global dalam Rapat Dengar Pendapat yang diadakan oleh Komisi VI DPR RI.
"Kami (Antam dan IBC) yang berada dibawah naungan perusahaan Inalum atau MIND ID telah menandatangani framework agreement untuk pembanguna smelter, tetapi turunan katoda prekursor dan baterai, hingga daur ulang baterai juga akan dibangun di Indonesia," jelasnya.
Nico dalam kesempatan yang sama menjelaskan jika jenis nikel dibagi menjadi dua, yaitu nikel kelas 1 dan nikel kelas 2. Jika nikel kelas 1 dipergunakan untuk baterai mobil listrik maka nikel kelas 2 digunakan untuk produksi stainless steel.
Untuk pabrik-pabrik pengolahan nikel yang sudah ada di Indonesia hanya untuk pig iron atau feronikel yang nantinya akan diubah menjadi bahan stainless steel.
"Untuk nikel kelas 1 memang belum ada pabriknya di Indonesia, tetapi kami sudah menandatangani perjanjian untuk membangun smelter prekursor dan juga baterai," terang Nico lagi.
Antam dengan Indonesia Battery Corporation (IBC) telah menandatangani perjanjian awal dengan Ningbo Contemporary Brunp Lygen (CBL) asal China dan LG Corporation asal Korea Selatan pada Maret tahun ini.
Dalam konsorsium atau pendanaan bersama, Antam akan berada di sektor hulu karena memiliki ekuitas terbesar dan sumber daya alam berupa nikel yang merupakan milik Antam. Antam akan menandatangani kontrak dengan CBL ataupun LG untuk joint venture agreement (JVA).
Dalam kontrak tersebut kepemilikan saham Antam dan IBC sebesar 40 persen sedangkan 60 persennya dimiliki oleh CBL ataupun LG.
Baca Juga: Bjorka Bongkar Pelaku Dibalik Pembunuhan Munir, Siapa Dalangnya?
Untuk wilayah pembangunan CBL akan membangun pabriknya di wilayah Halmahera Timur, Maluku. Sedangkan LG akan membangun pabriknya di Batang, Jawa Tengah.
Sumber: suara.com.