Presiden Sukarno pernah menolak Suharto menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Cerita penolakan ini tertuang dalam buku berjudul Catatan Jenderal Pranoto Reksosamodra.
Di tahun 1962, KSAD Jenderal AH Nasution diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Bersenjata (KSAB) oleh Presiden Sukarno.
Nasution harus melepas jabatannya sebaga KSAD. Nasution mengusulkan calon tunggal sebagai KSAD yaitu Mayjen Suharto ke Presiden Sukarno.
Menurut Jenderal Pranoto Reskosamodra, pencalonan Suharto sebagai calon tunggal KSAD bertujuan politik. Nasution kala itu dikenal sebagai jenderal penentang Sukarno.
Nasution butuh dukungan dari Suharto dan komplotannya untuk menentang kebijakan politik Sukarno yang dinilai pro komunis.
Melihat hanya satu orang calon KSAD, Presiden Sukarno marah. Pemimpin Besar Revolusi tak terima mengapa hanya Suharto yang diajukan Nasution sebagai KSAD.
Padahal saat itu masih banyak perwira senior di lingkungan Angkatan Darat. Maka Sukarno mengembalikan usulan Nasution.
Sukarno meminta Nasution mengajukan beberapa nama sebagai calon KSAD. Keesokan harinya, Nasution kembali menghadap Sukarno.
Ia mengajukan empat nama sebagai calon KSAD. Empat orang itu adalah Letjen Gatot Subroto, Wakil Kepala Staf Angkatan Darat; Mayjen Sudirman, Komandan Pendidikan dan Latihan Angkatan Darat.
Lalu ada Mayjen Soeharto, Panglima Kostrad yang juga Panglima Mandala. Terakhir adalah Mayjen Ahmad Yani, Kepala Staf Komando Tertinggi (KOTI). Presiden Sukarno menilai satu per satu calon KSAD.
“Dia orang tua, tingkah lakunya kasar akan tetapi hatinya emas,” ujar Sukarno menilai Gatot Subroto.
“Dia orang baik dan dia itu terlalu merasa dekat dengan Tuhan,” kata Sukarno menilai Sudirman.
Lalu Sukarno menilai sosok Suharto.
“Perwira ini tidak mengenal psikologi bawahan. Jangankan psikologi rakyat, psikologi prajurit saja kurang mengerti. Kepala batu. Lebih baik dia bertugas di lapangan saja,” kata Sukarno.
Sementara Sukarno menilai Ahmad Yani sebagai sosok yang cerdas.
“Terhadap Yani, orang muda, yang cukup aku kenal dari dekat semenjak dia menjadi wakilku sebagai Kepala Staf KOTI. Orang ini cerdas, daya tangkapnya cepat sekali dan tahu bagaimana pengembangan perintahku dilakukan,” kata Sukarno.
Setelah menilai semua calon, Sukarno memanggil Kolonel Sabur, Komandan Tjakrabirawa.
“Sabur, jam berapa besok pagi ada waktu yang kosong?” tanya Bung Karno.
Sabur lalu membuka buku catatannya melihat agenda presiden. “Jam 09.00 pak,” jawab Sabur cepat.
Presiden Sukarno lalu memerintahkan Sabur memanggil Ahmad Yani.
“Coba besok pagi Jendral Ahmad Yani dipanggil ke istana. Aku ingin bicara empat mata dengannya,” ujar Sukarno.
Esok hari, Ahmad Yani datang menghadap Sukarno. Keduanya terlibat pembicaraan serius. Setelah itu Presiden Soekarno menetapkan Ahmad Yani sebagai KSAD.
Pelantikan Yani sebagai KSAD berlangsung sepuluh hari kemudian di istana tepatnya 23 Juni 1962. Pelantikan disaksikan para jenderal dan tamu undangan.
Mayjen Soeharto tidak datang di acara pelantikan itu. Saat pelantikan Yani, Sukarno meminta dukungan tamu undangan terhadap Yani.
“Saudara-saudara sejak saat sekarang ini lebih-lebih lagi diharap dari saudara-saudara untuk memberikan saudara-saudara tenaga sepenuh-penuhnya, semaksimum-maksimumnya kepada perjuangan simultan membebaskan Irian Barat. Kepada Mayor Jenderal Yani terutama sekali di bidang miiter,” pidato Sukarno. Pangkat Yani dinaikkan menjadi Letnan Jenderal.